Kamis, 24 Desember 2009

Namanya Mira ...

Ini cerita tentang perempuan.
Perempuan jalanan yang tidak pernah sadar bahwa hidup ini harus punya tujuan.
Kepada perempuan itulah semua hasrat dan naluri kebinatangan aku tumpah dan tuangkan.
Ini cerita tentang perempuan,
Kata mereka sih semua untuk hidup dan untuk makan ….
Namanya Mira, mengaku berumur 29 tahun. Namun bagiku mungkin itu adalah samaran dan karangannya semata. Kalau ditaksir sih mungkin sudah 35 atau bahkan lebih. Namun tidak apalah, malam ini awalnya aku hanya berinisiatif untuk menjernihkan otakku yang tegang dalam beberapa hari ini. Jam di tanganku menunjukkan pukul 18.00 WIB ketika aku menjalankan mobilku pelan-pelan keluar dari Salon Riska. Nama salon baru di tikungan sebuah jalan utama kota Jogja itu merupakan referensi yang berasal dari temanku, Ibtu. Katanya sih di sana menerima perawatan “lebih’. Jadi tadi sore aku coba-coba datang ke sana, Setelah di treatment cukup satu jam, aku memutuskan untuk mengakhiri perawatanku itu. Tanpa menindaklanjuti tentang informasi ‘plus’ dari Ibtu. Ada beberapa catatan atas tempat itu, Pertama, dia tidaklah seperti yang digembar-gemborkan temanku. Juru pijatnya tidak ada yang cantik dan memikat. Pelayanannya standar sekali (bisa jadi karena aku tidak terlalu tahu tentang kode-kode tersembunyi ketika menyampaikan maksudku sebenarnya datang kesitu). Kedua, tarif yang dibebankan padaku untuk satu jam murah banget. Untuk pijat selama satu jam, tarif yang dikenakan cuma 60 ribu. Wuaah kalau ini sih super murah dari beberapa tempat pijat di Yogyakarta yang pernah aku kunjungi.
“Masih masa promosi sampai akhir bulan ini Mas, “ Kata pegawai dikasir pembayaran, Naah mumpung promosi makanya bisa jadi ada niat bagiku untuk kembali ke tempat itu. Tentu saja dengan strategi dan teknik yang berbeda. Tapi okelah ….. karena cukup murah, maka aku berpikir mungkin ada baiknya ntuk mencoba "hal lain", maka aku mulai memijit nomor hp ku dengan kepala dipenuhi satu nama yang kusebut tiga detik setelah hp kupencet :
“ Hallo …. “ aku hela napas sejenak “ Mira ? “
“ Heii ,,, siapa ini ? “ suara agak mendesah
“ Ini Tole….. loe ada dimana ?” napasku memburu : “ Gue butuh banget kehadiran loe !”
“ Kapan ?”
“Ya malam ini lah !” Wajahku pasti cemberut. “Masak tahun depan !!”
“Wah .. aku ga bisa neh ..”
“Mengapa ?”
“Ada tamu ..!”

Gubrak ..!
Dasar perempuan sialan, lagi dibutuhkan benar-benar malah asyik menjamu tamu. Dasar brengsek sex sex sex …. Malam jahanam !

Ini cerita tentang perempuan ...
Otak kananku langsung memvonis bahwa Mira adalah perempuan panggilan yang tidak bisa dibilang muda lagi. Usianya sudah diatas 35 tahun (Lihat betapa cepatnya asumsi menjadi sebuah dakwaan dengan nada penuh kepastian!). Sepanjang yang aku lihat dan aku raba, aku tahu sudah ada bagian-bagian tubuhnya yang menonjolkan lemak disana-sini. Parasnya juga tidak terlalu menarik, bahkan cenderung biasa saja. Sekilas mirip-mirip penyanyi goyang ngebor Inul Daratista. Bedanya dia bukan berasal dari Jawa Timur dan kaya raya seperti halnya Inul. Dia lahir dan dibesarkan hanya di sebuah kecamatan kecil di Surakarta, lengkap dengan kesederhanaan dan kemiskinannya. Menikah di usia muda (15 tahun) dan ditinggalkan suaminya dalam kondisi mengandung anak pertama (katanya sih anaknya cowok !). Pernah mencoba bersuami dengan seorang langganan tetapnya yang dia kira bagai ksatria. Ternyata dia lagi-lagi ditinggalkan dalam kesusahan. Akhirnya di usia kepala tiganya, dia memutuskan untuk terus melakoni hidup sebagai perempuan panggilan dan ready in used di salah satu sudut jalan Pasar Kembang, Yogyakarta.
Apakah semua cerita hidupnya itu yang kemudian membuatku sangat gemar memboking dia ?
Tidak man …… salah coy ...
Tentu saja tidak ! ….
Aku tak pernah trenyuh mendengar cerita kesedihan dan kenestapaan para pekerja sex komersial. Sudah terlalu biasa !!
Kawin muda …
Ditinggal suami …
Punya anak ….
Himpitan ekonomi keluarga …..
Menghidupi anak …..
Tetap jadi pelacur ……..
Huh …. Terlalu biasa ….. biasa ….. jayus ….
Sekali lagi bukan karena itu semua …
Aku tertarik dengannya dan kerapkali memboking-nya semata-mata karena layanan seks yang diberikannya. Mira adalah sosok wanita hipersex dan hiperaktif yang paling dahsyat yang pernah kutemui. Segala jenis fantasi yang tersusun di kepalaku nyaris semuanya bisa dituntaskan dalam kamarnya yang sempit, remang-remang, tanpa ada satupun rasa malu dan rasa sungkan. Aku menjadi seorang psikoanalisis sejati apabila bersamanya.
Setiap kali gelegak gairah dikepalaku sudah membuncah tak terkendali, maka aku tinggal memijit nomor hpnya. Janjian ketemu. Dan dia akan menunggu dengan segala persiapan maksimal.
Tapi malam ini ?
Malam dimana gairah dan nafsu begitu menghantam diriku ?
Doi menyatakan tengah ada tamu …
Berarti sekarang dia tengah bersimbah keringat dengan lelaki lain
Entah om-om …..
Entah pemuda …..
Entah aki’-aki’
Entah lelaki penjelmaan iblis dari neraka …
Entahlah …. Yang jelas semua itu syah … legal … dan bisa dibenarkan !
Semuanya membayar. Habis perkara.
Lha wong dia wanita panggilan !
Aku tidak boleh marah ! terlebih-lebih lagi cemburu !
Hua ha ha ha ha ha … apa pula itu
Cemburu pada wanita panggilan ?
Premis apa pula itu ?
Tak adalah kata itu dalam kamus hidupku ..
Tapi …..
Nafsu sudah membumbung tinggi …
Gimana dunk ?

Langkah instant dan sederhana adalah menjalankan mobil pelan-pelan menyusuri jalan Solo, sebuah ruas jalan utama kota Yogyakarta ini. Tekat bulat menuju timur. Maju terus pantang mundur. Pelan terus ke timur. Melewati sebuah kampus yang tengah dipugar dan dibangun dengan (katanya !) dana hibah dari Kairo atau Timur Tengah : megah dan jumawa. Terserahlah ! Terus ke timur. Melewati Ambarukmo Mall : sebuah mall yang hiruk pikuk dan berlebihan laku, dengan meninggalkan rentetan protes dan demo dari komunitas disekitar rencana bangunan megah itu. Katanya mall itu menjadi mall termegah di Jawa Tengah. Entahlah ….. malam ini pikiran itu cuma melintas cepat dikepalaku yang memang tengah tidak mau berpikir. Ada lintasan bergolak lain yang menekan semua rasionalitas di kepala atasku : bergolaknya hasrat di kepala bawahku !
Kepala satunya yang terus menerus menuntut pemuasan ….
Hasrat yang menggila …….
Butuh pelepasan segera …….
Segera ………………

Memang begitulah jalan hidupku. Tanpa aku pernah berpretensi menjadi Brahmana atau manusia suci. Bagiku pemuasan kebutuhan seksual tidak bisa terus menerus dilakukan melalui onani. Bahwa katanya kemudian ada dua diantara tiga laki-laki remaja dan dewasa yang menggunakan tangannya untuk merancap dan masturbasi, itu adalah kenyataan dan fakta non riset yang tetap dipegang kebenarannya. Namun bagiku perilaku onani dan masturbasi sudah lewat. Bagi seorang lelaki dengan penghasilan diatas rata-rata seperti diriku, wajah yang juga di atas rata-rata, penampilan tidak terlalu menjemukan, dan ….. kemampuan berbicara yang cukup brilian, tentu bukan perkara sulit untuk menemukan satu sosok perempuan yang bisa menerima dan juga turut menikmati permainan seksual dunia yang tanpa batas. Inilah yang namanya hasrat, kata Baudrillard !
Manusia sepanjang hidup terus menerus menuntaskan hasratnya
Seumur hidup terus menerus menetralisir id dengan bermunafik diri berpegang pada superego ! itu kata Sigmund Freud.
Ah, dasar Freud, mengapa pula sampai pada kesimpulan yang mengandung penuh kebenaran itu ? apa Deleuze & Guattari belum juga sadar ? bahwa kemaluan mereka tetap saja bergerak dengan instink ala psikoanalisis. Dasar Yahudi sok pintar !

Setelah sepuluh menit menelusuri jalan Solo, sebelum nyampe pertigaan Janti di bawah jembatan layang, mobil aku belokkan ke kiri. Masuk pelan ke sebuah gang yang aku tahu menuju pada sebuah makam, dan berarti gangnya buntu ! Bukan makam itu yang jadi tujuan, namun aku tahu pasti bahwa sebelum makam itu, ada dua buah pondok yang menampung belasan gadis. Gadis-gadis itulah yang selalu tersedia untuk menampung segala kepenatan dan kemendesakan naluri binatang yang tengah berkecamuk dalam diri lelaki sepertiku.

Porsneling mobil aku pindah ke-2. Mobil melaju pelan. Lampu senja aku aktifkan. Inilah tanda yang aku pahami apabila memasuki jalan ini sebagai isyarat ’khusus’.
Seorang laki-laki kekar cekatan menghampiri mobil sebelah kanan. Tepat di sisi sopir. Melempar senyum, ”met malam bozz..!”
”Maleem?’ senyum terpaksa ku lemparkan : ”ada berapa orang ?”
”Waah ..... masih banyak boz,” seringai senang itu keluar. ”masih lengkap !”
”Baguslah...”
Aku matikan mesin mobil. Kebisuan menyergap. Baru kusadari bahwa area pemakaman itu memang seram. Cocok benar mereka menempati area ini. Cukup menakutkan bagi orang yang tidak berpikiran jorok seperti aku. Menepis bayangan menakutkan seperti film-film kuntilanak dan sundal bolong, aku turun dari mobil dan menutup pintu.
Brakk ...!

Pandanganku menyapu sekeliling. Dari jarak sekitar 3 meter aku mulai membiasakan diri dengan gelapnya malam untuk memastikan aku berada di tempat yang tepat.
Di kiri mataku ada sebuah rumah dengan pagar separuh badan menutup halamannya. Lampu merah 5 atau 10 watt menyala temaram. Nampak beberapa kursi butut bersandar ke dinding disamping pintu masuk. Nampak dua laki-laki dan seorang wanita stw (setengah tua) cekikikan di sana. Asyik sekali bercengkrama. Kulirik sebelah kanan. Ada rumah kecil lagi dengan neon putih yang mulai menghitam di kedua ujungnya. Pasti udah saatnya diganti ! berbeda dengan suasana pelataran rumah di kiri, rumah ini nampak angkuh. Sepi sekali. Pintunya menghadap ke selatan. Satu setengah meter di depan pintunya ada tembok yang membuat kita harus membelok menghadap ke barat apabila keluar dari pintu itu. Sementara di sebelah barat ada tembok lagi yang lebih tinggi yang akan segera menghalangi penglihatan orang yang memandang dari sebelah barat. Ada tanah lapang sekitar 2 x 3 meter di utara tembok tinggi itu. Itulah tempat masuk menuju pintu tadi.

Aku paling tak suka ditatap orang saat masuk ketempat beginian. Bagiku penyembunyian identitas menjadi permainan menarik. Menghadirkan “diriku” yang bukan diriku memberikan keasyikan tersendiri sepanjang hidupku di dunia hitam ini. Tentu aku bukan Michael Foucault yang terang-terangan mengaku dirinya ketagihan sodomasokis. Ini Yogyakarta coy, bukan New York yang membuat Foucault ketagihan. Atas dasar itulah aku menghindari menuju ke rumah sebelah kiri, karena dengan demikian berarti aku akan bertemu dan melewati tiga orang yang bercengkrama di teras rumah itu.
”Baiklah,” aku menggerutu, dalam hati ”tampaknya rumah selatan deh”
”Bagaimana boz ?”seringai itu keluar lagi, ”sebelah mana ?” seringai lagi, ”dua-duanya sama bagus kok !” mulut itu terus saja berpromosi.
Aku senyum tak menjawab. Namun melangkah pelan menuju tanah 2 x 3 meter itu. Dari kegelapan di jarak 5 meter tadi, aku menyongsong lampu neon agak hitam itu. Pasti raut wajahku terlihat jelas. Ahh .. persetanlah... toh mereka cuma melihat uangku saja. Bukan siapa diriku.

”Di hotel mana boz ?” si seringai tadi mencoba beramah tamah. Ujungnya pasti komisi.
”Saya belum check in..” aku malas-malas. Sudut mataku melirik manusia ’penjilat’ disamping ini, ”Nantilah saya cari tempat sekalian..”
Aku merasa si seringai itu tersenyum, membayangkan dia akan dapat persenan lagi dari upaya mencarikan aku kamar di hotel yang telah menjadi network dia. Biasanya dalam dunia pelacuran begini, seluruh manusia yang mendapatkan manfaat dari bisnis ini akan membangun kolaborasi imbang yang saling menguntungkan. Germo akan mendapatkan sekitar 50% dari uang boking dan “uang pake”, terus sang bodyguard akan mendapat 2% dari kemampuan menarik konsumen, sementara itu hotel akan diwajibkan memberi sekadar ’tip’ pada bodyguard sebagai balas jasa sang pengawal sudah memberikan tamu untuk mengisi kamar hotelnya. Dengan pengetahuan akan sistem bagi hasil begitu, aku merasa muak dengan senyum dan seringai sok ramah dari bodyguard itu. Sama saja dengan senyum menertawakan kebodohan dan ketolollanku.
”Ahh persetanlah ...” makiku dalam hati, sambil kupercepat langkahku..
Saat menapaki ujung tanah lapang 2 x 3 meter itu mataku sudah melirik ke kiri, mengarah pada depan pintu masuk yang diterangi sorot lampu neon yang lebih benderang.. dan. Bruukk ..... ujung kakiku terantuk satu gundukan di kegelapan, sialan .. gue terpeleset!
”Hati-hati bozz ..” tangkas sekali si bodyguard merespon, padahal doi pasti tersenyum geli.. dasar aku saja yang goblok.. Ini nih akibatnya kalau nafsu sudah di ubun-ubun ... he he he he he ………

Satu menit kemudian aku sudah berada di depan pintu rumah dengan lampu temaram itu. Ruang tamu memanjang. Sekitar 3 x 10 meter. Pada setiap sisinya terdapat kursi sofa empuk. Dibelakang deretan panjang kursi itu terdapat kaca cermin yang besar melekat di dinding yang posisinya berhadapan. Hingga setiap orang yang duduk di sofa itu akan melihat dirinya sendiri utuh di cermin depannya. Persis dipunggung sosok lain yang duduk di hadapannya.

Sambil mempersilahkanku duduk, sang bodyguard tadi memencet satu tombol persis diatas tempat duduk dia. Terdengar bunyi bel. Aku sudah paham maksud bel itu : semua gadis-gadis harus keluar memamerkan diri. Tak sampai lima detik, bermunculanlah rupa-rupa cantik menggairahkan dari dalam menuju sofa yang tadi ada cerminnya berhadap-hadapan.
“Evi, Neni, Dian, Anggi, Siska, Rika, Leni ,..” dan entah berapa nama lagi yang disebutkan sang Bodyguard merangkap germo itu untuk menjelaskan masing-masing gadis yang keluar secara teratur. Yang pasti aku tak bisa mengingat semua. Mataku Cuma nanar menatap gadis mana yang sesuai seleraku. Putih, berambut panjang, dada menunjang, agak nakal, bokong sexy, fashionable... ahh ....
“yang mana boz?” tanya germo itu .
Ternyata semua gadis itu sudah duduk berhadap-hadapan sambil tersenyum memamerkan dirinya masing-masing. Pada saat seperti ini aku jadi teringat ungkapan Hatib Abdul Kadir dalam bukunya “Tangan Kuasa Dalam Kelamin”. Buku yang diantar Benedict Anderson itu mengetengahkan analisis menarik atas dunia pelacuran berikut sebab musababnya. Penyebab muncul dan bertahannya pelacuran menurut buku itu bukanlah karena lemahnya pendidikan agama, kurang iman, dan lemahnya moral pelaku-pelaku itu, melainkan relasi timpang kekuasaan ekonomi yang menghimpit kelompok marjinal. Kesempatan berusaha dan mendapatkan penghasilan layak yang tidak merata bagi manusia di Indonesia ini membuat timpangnya pendapatan. Mereka yang kaya akan terus membangun sistem untuk mengukuhkan kekayaan dan status mereka, dan itu berarti akan senantiasa mengorbankan mereka yang miskin. Semakin miskin, semakin tersingkir. Pada titik ini pilihan untuk menjadi pelayan dan budak dari mereka yang memiliki uang sama sekali tidak bisa terelakkan. Inilah relasi borjuis dan proletar. Persis seperti yang digambarkan Kuntowijoyo atas peran kelas Borjuis di Eropa. Mereka yang menjadi pelacur adalah kelas proletar dengan modal tubuh yang dikuasai para germo. Dengan sistem pembagian yang lebih banyak menguntungkan sang germo, tepat sudahlah relasi kuasa itu memainkan peran dalam urusan perkelaminan. Dan aku menjadi sosok yang berkuasa, menjalin teori konspirasi dengan germo itu untuk meng-establish-kan posisi germo itu. Aku punya uang, bebas memilih mana tubuh yang akan kunikmati tiga jam ke depan. Dan ...
“Yang paling kiri mantap lho bos !” ahh dasar otak promosi, “Namanya Vera.”
Meski mengumpat dalam hati, toh lensa mataku juga bergerak seiring dengan perintah otak untuk tidak menyia-nyiakan secuil informasi itu. Duduk di kiri, sosok putih bersih (yang kusadari kemudian hanyalah pengaruh lampu yang terang benderang), dada membusung (pasti 36b), memakai rok jins super sexy, nampaknya germo ini tahu betul seleraku. Aku menyeringai bagai srigala lapar melihat anak rusa gemuk siap dimamah. Dasar bajingan !

Tak perlu aku teruskan. Apakah aku akan “mengambil” Vera atau tidak. Yang jelas Freud sudah tahu betul akan apa yang terjadi pada sisi tergelap manusia. Seks menjadi akar masalah peradaban. Seks menjadi sarana penguasaan. Seks telah menggantikan proses berketurunan sebagai sarana permainan yang mengasyikkan. Manusia memang makhluk menyimpang. Berdasarkan standar 4.300 spesies mamalia lain di dunia, dan berdasarkan standar kerabat kita yang paling dekat (menurut hukum Darwin), kera besar (Simpanse, bonobo, gorila, dan orang utan), kitalah spesies yang paling menyimpang. Minimal itu simpul yang kubaca di buku “Why is Sex Fun ? : The Evolution of Human Sexuality” yang ditulis Jared Diamond. Apabila spesies mamalia lain hanya memaknai persetubuhan sebagai sekadar cara memelihara keturunan dan berkembang biak, manusia memaknai persetubuhan sebagai ritual rekreasi dan kesenangan. Akibatnya, di dalamnya timbul pertaburan proses pencarian kesenangan, sensasi, fantasi, penguasaan satu sama lain, dan tentu saja uang yang melimpah ruah. Memang benar kata Freud : seks pencipta peradaban.

Selebihnya aku tak bisa bercerita lebih banyak lagi. Tubuh dengan dada membusung itu benar-benar telah berdiri di depanku. Kami berdua sudah berada dalam kamar sebuah hotel bintang empat. Punya garasi mobil di setiap kamarnya. Hotel yang resepsionisnya tidak norak dengan mempertanyakan KTP setiap tamu yang menginap. Cukup dengan memberikan tip satu lembar lima puluh ribuan, mulutnya akan diam. Mataku semakin nanar. Nafsu pasti berpendar. Blouse-nya telah terlepas. Berganti dengan BH merah menutup sepasang buah dada yang tadi membuncah. Aliran listrik tidak mampu lagi memaksimalkan fungsi otak kiriku. Yang ada sekarang hanya pijaran listrik berlebihan yang menyerang otak kanan. Dengan sigap aku menghambur ke depan ... Vera menyambut dengan senyum nakal dan lenguh berkepanjangan. Seks telah menjadi profan, memang begitulah peradaban ... Dua jam ke depan biasanya aku pasti akan menyadari, kalau aku memang Freudian.


Tepi Kali, Desember 09

Jumat, 18 Desember 2009

Menuju Pasif ! : Transisi Media Cetak Ke Elektronik

“Radio and television based upon
pure collective and institutional
rather than individualistic authorship”

-Anthony Smith, Goodbye Gutenberg, 1980:325-


Transisi media dari satu bentuk ke bentuk yang lain bukanlah berada di ruang vakum terpisah dari kondisi masyarakat. Persis seperti sejarah kelahirannya yang menghamba pada kebutuhan manusia untuk berkomunikasi satu sama lain, maka perkembangan berikut transformasinya juga tidak terlepas dari kondisi sosial dan politik. Sejak ditemukannya mesin cetak, sebenarnya proses evolusi manusia dalam menyampaikan pesan secara tidak langsung dan termediasi telah dimulai. Tentu dengan proses yang lama. Proses itu sangat tergantung dari kondisi sosial politik yang terjadi di Amerika dan Eropa. Kebutuhan perang dengan keinginan indoktrinasi propaganda membuat keberadaan media begitu penting. Dan nampaknya setting serupa juga tidak terlalu bergeser berabad-abad sesudahnya. Satu hal yang pasti : media selalu menjadi jembatan penghubung antara kebutuhan penyebar pesan dari seseorang atau sekelompok orang kepada pihak yang lain penerima pesan. Di dalamnya berkelindan tujuan menyampaikan informasi, menyebarkan pengetahuan, menghibur, dan bahkan menguasai pihak lain. Entah itu hanya bertujuan menyampaikan pesan maupun dinamika politis di dalamnya, media selalu mencatatkan dirinya dalam rangkai pergolakan dan relasi kekuasaan. Inilah setting sosial dan politis keberadaan media. Mungkin itu akan terjadi sepanjang daur hidupnya.

Tulisan berikut ini mencoba untuk mengurai secara singkat perjalanan media massa dalam konteks Eropa dan Amerika. Dari dua benua itulah asal usul media massa yang saat ini kita kenal. Pertama akan diulas tentang kondisi masyarakat dan kelahiran media cetak, lalu dilanjutkan dengan kehadiran media audio dalam wujud radio transistor. Melalui kemampuan transformasi pesan menjadi audio visual saya akan mengurai perpindahan sistem manual menuju sistem digital dengan televisi sebagai ’sang bintang’. Tulisan akan diakhiri dengan revolusi besar-besaran dalam dunia komunikasi dengan munculnya internet sebagai roh computer mediated communitacion (CMC). Akhirnya, saya akan coba rangkum tentang kontribusi media tersebut kepada kehidupan sosial politik kita. Nanti akan terlihat bahwa tidak hanya media massa yang terbentuk oleh media, melainkan sirkulasi efeknya menunjukkan bahwa media telah menjadi determinan penting dalam kondisi masyarakat itu sendiri. Tak jelas lagi mana sebab dan mana akibat.

Media Cetak : Mujizatnya Mesin Cetak
Bila mengacu pada cerita Asa Briggs & Peter Burke (2006), akan terlihat bahwa kelahiran mesin cetak sebagai alat pertama yang mampu membuat sebaran pesan menjadi massif, menjadi penanda revolusi dalam bekerjanya relasi manusia. Lewat mesin cetak itu maka kitab-kitab religius tidak lagi ditulis secara tradisional kuno. Lewat mesin cetak itu kemudian seluruh kampanye politik tidak lagi memakan waktu berbulan-bulan yang dihabiskan dalam perjalanan calon presiden atau senator. Semua jadi lebih singkat. Lebih murah. Lebih tertata.

Jejak-jejak historis yang dipaparkan Briggs dan Burke dalam buku itu memang relatif ensiklopedis. Lebih dari sekadar disuguhi dengan panorama pertumbuhan media komunikasi secara kronologis, kita diajak pula menyusuri konteks sosialnya: bagaimana teknologi media itu tumbuh bukan sebagai artefak yang lahir dari para insinyur dalam keadaan tanpa tujuan, melainkan jalin-menjalin dengan kepentingan ekonomi, menunggangi dan ditunggangi oleh gejolak sosial, serta dimanfaatkan dan memanfaatkan pertikaian antarpihak dan antargeografi. hal ini sangat dibenarkan oleh para pelacak sejarah media massa (Fidler, 2003 ; Mc.Chesney, 2007).

Seperti halnya Einstein dengan rumus matematikanya yang menghasilkan bom atom pembunuh manusia (Bom atom sendiri adalah kreasi Julius Robert Oppenheimer, seorang PhD Cambridge University yang bekerja untuk proyek pemenangan perang presiden AS F.D. Roosevelt di tahun 1940-an), maka Gutenberg tidak pernah menyangka mesin cetaknya begitu berguna hingga hari ini. Gutenberg mencatatkan sejarah penemuannya dengan cerita manis . sebaliknya Einstein mencatat sejarah rumus matematikanya dengan penyesalan dan kegalauan karena membunuh berjuta-juta orang. Kita tidak sedang cerita bom atom khan ? Nah mari kembali pada cerita Gutenberg, sang pahlawan kelahiran koran, majalah, dan media cetak lainnya.

Tatkala Gutenberg menciptakan alat cetak, ia meniatkannya untuk menyebarluaskan pengetahuan. Tapi kebutuhan, dan kepentingan, manusia ternyata melebihi itu. Media cetak tadi telah menghibur, menularkan dongeng, berbagi kesenangan, ini sebagai efek positif. Sementara efek negatifnya langsung muncul bagai dua sisi mata uang. Media cetak itu dijadikan alat untuk membujuk, menghasut, dan menikam demi kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Ulasan Briggs & Burke (2006) berikutnya menggambarkan betapa media bergerak melampaui kehendak penciptanya. Sampai pada titik yang tak terkira. Inilah dilema media massa. Mungkin hingga hari ini.

Dari seluruh perkembangan media cetak yang ada (buku, majalah, surat kabar, dan sebagainya) ada satu sifat yang melekat erat pada dirinya. Setiap orang yang ‘terikat’ dengannya harus menjadi aktif untuk berinteraksi. ini artinya membaca buku, majalah, surat kabar, selalu memaksa orang untuk aktif melihat, berinteraksi dengan apa yang dibaca terlepas sadar atau tidak sadar (Emery & Emery, 1996). Ini sama sekali tidak terjadi pada media elektronik yang muncul selepas sejarah gemilang media cetak yang membuat orang menjadi lebih pintar dan aktif tadi.

Instan, Pasif, dan Melenakan : Fakta Media Elektronik
Menjelang penyelesaian tulisan ini, saya masih kesulitan untuk menuliskan kesimpulan. Seperti biasa, saya punya masalah untuk menutup sebuah tulisan dengan kesimpulan yang bagus (tentu saja). Saya sangat tidak ahli dalam menyimpulkan. Tahukah anda, apa yang begitu menggoda saya untuk membaringkan diri dan menunda kerja ? Yup, televisi di depan saya ! Ada acara komedi yang mampu membuyarkan konsentrasi (Yang memang hanya tinggal separuh). Saya tak bisa menampik dan memungkiri bahwa televisi telah menjadi media penggoda utama dalam masyarakat modern. Juga terhadap diri saya. Dia hadir dengan kekuatan audio visual yang tak tertandingi. Ada konteks sosial politis yang luar biasa telah mengantar media televisi sebagai media terpopuler dan idola bagi khalayaknya.

Media massa adalah media yang digunakan dalam proses komunikasi massa (McQuail, 2000; Vivian,2008; West & Turner, 2009). Sosok riilnya bisa dilihat dalam rupa radio, televisi, komputer dengan internet. Hingga saat ini, televisi menjadi salah satu pengantar pesan yang paling digemari. Dalam sejarah panjangnya, televisi sebagai sosok revolusioner media elektronik telah memberi warna atas perkembangan masyarakat (Kellner, 1990; Arthur, 2004). Pada tataran paling ekstrem, televisi telah berhasil menciptakan budaya visual yang sangat kuat (Murray & Quellette, 2004; Burton, 2007). Hal ini sebenarnya telah terjadi di awal sejarah radio. Namun lompatan pola akses media begitu ekstrem setelah kehadiran televisi. Seiring dengan berlalunya waktu, peran radio dan televisi telah menyatu sedemikian rupa dalam media interaktif dan bersifat konvergen. Komputer dengan internet telah merubah segalanya. Dalam konteks saluran dan sirkulasi informasi, ini betul-betul lompatan besar. Tengoklah apa yang terjadi dalam dunia jurnalisme on-line saat ini.

Dengan media pemberitaan berbasis Internet, segala macam pemberitaan sebagai hasil kerja jurnalistik dapat disampaikan dengan sangat cepat kepada masyarakat luas (massa). Inilah mengapa masyarakat kini cenderung lebih memilih Internet sebagai media pemberitaan yang efisien. Grafik pertumbuhan media Internet pun nampaknya menunjukkan peningkatan. Ini berkebalikan dengan angka koran atau media cetak yang terus saja mengalami penurunan perlahan. Sedangkan untuk media massa lain seperti radio dan televisi nampaknya masih bisa bernafas lega, karena teknologi penunjang bisnis media melalui Internet memungkinkan konvergensi kedua jenis media ini melalui Internet. Perkembangan teknologi multimedia yang pesat pun turut mempengaruhi prospek cerah Internet sebagai media komunikasi informasi yang cepat. Namun seiring dengan kecepatannya itu, dia menjadikan seseorang sebagai sosok pasif penerima informasi semata. Bahkan pada titik terjauh menjadikan media ini sebagai acuan hidup dan tempatnya bergantung. Google menjadi saksi kontemporer atas perubahan paradigma relasi antar manusia yang termediasi dengan komputer. Kita sampai di tepian yang paling berbahaya !

Media Sebagai Berhala : ”Insya Google” yang Berbahaya
Hari ini, televisi dan Internet telah membuat dunia terasa kian sempit dan jarak-waktu kian pendek. Seluruh dunia telah terhubung sedemikian rupa. Apa yang dibayangkan oleh Thomas L. Friedman (2006), bahwa dunia ini sudah sedemikian datarnya, nampak telah menjadi kenyataan. Begitu banyak keuntungan. Juga tak terhitung kerugian. Internet telah membuat kita berinteraksi secara menakjubkan bagi ayah dan ibu kita. Membuat orang kampung terpana tak terkira karena apa saja bisa didapat. Semua informasi telah tersedia di sana. Tinggal klik saja. Bereslah semua. Bahkan seorang teman dengan berseloroh berkata, “Google telah menjadi semacam tuhan bagi kita,” tentu dia seorang atheis. Lalu keluar kalimat religius darinya, “kalau mau cari sesuatu di internet, ucapkan saja Insya Google (kalau Google mengijinkan),” memang sangat keterlaluan ! Tapi faktanya mesin pencari karya Sergey Brin & Larry Page ini telah menyediakan informasi apapun yang kita cari dan inginkan. Ini tentu dengan sendirinya membenarkan apa yang diramal Alfin Toffler tiga dekade sebelumnya (Vise & Malseed, 2006).

Media cetak yang telah menciptakan budaya aktif dalam peradaban Barat, ternyata tidak memiliki sejarah yang sama di peradaban Timur. Rata-rata negara di Timur yang baru saja merdeka tidak merasakan terpapar media secara tertib linear seperti di sana. Semua dialami secara holistik. Mereka mengenal surat kabar dan majalah hampir bersamaan dengan mereka mengenal radio, televisi, dan bahkan komputer. Media elektronik yang menyediakan fasilitas serba instan menjadikan audiens begitu pasif. Menjadi konsumen, tanpa pernah berpikir untuk berprestasi menjadi produsen pesan. Tiba-tiba kita sangat menikmati menonton televisi atau berselancar chatting di internet ketimbang duduk merenungi makna sebuah paragraf dari buku teks. Perkembangan dunia internet dengan daya beri informasi tak terbatas membuat kita semakin rakus memamah apa saja. Masyarakat semakin bergerak menjadi pasif. Anda punya pendapat lain ?


Referensi Utama :

Dominick, Joseph R., (2009). The Dynamics of Mass Communication : Media in the Digital Age, Tenth Edition, McGraw-Hill International, Boston.

McQuail, Denis., (2000). McQuail’s Mass Communication Theory, 4th Edition, Sage Publications, London, Part V.

Severin, Werner J. , dan James W. Tankard, Jr. , (1992). Communication Theories : Origins, Methods, and Uses in The Mass Media, Third Edition, Longman, New York, Part. IV.

Sabtu, 12 Desember 2009

Mereka yang Bijak, Tentu tak Membajak !

“bagi orang Barat, sulit membayangkan sebuah dunia tanpa hak cipta, ....
sedangkan orang-orang yang lahir dan hidup di dalam budaya-budaya non-barat,
tidak akan terlalu sulit membayangkannya !”

-James Boyle, 1996-



Saat teman-teman Dagadu meminta saya untuk urun rembug dalam diskusi terbatas menyongsong 16 tahun Dagadu, saya langsung menyetujuinya. Ini bukan tanpa alasan. Bagi saya ini sangat menarik. Membicarakan Dagadu adalah membicarakan tentang Yogya. Membicarakan Yogya tak lengkap tanpa menyebut Dagadu. Keduanya mungkin inheren satu sama lain. Untuk hal ini kami sepakat. Namun saat membicarakan tentang tema yang akan diangkat, muncul ketidaksepakatan. Terutama dari sudut pandang melihat masalah dalam tema yang akan diangkat. Tema yang diangkat hari ini adalah sebuah tema penting dan inheren dalam sejarah panjang peradaban kreatifitas manusia. Temanya tentang pembajakan (piracy) !

Mengingat sejarah panjang pembajakan itu sendiri, kita tentu bisa tidak sepakat dalam beragam hal. Umpamanya, tentang implikasi bajak membajak dari beberapa sudut kepentingan. Dari sudut pandang industri, ini sangat merugikan dan berbahaya. Mengancam semangat kreativitas manusia. Tidak berpihak pada orang-orang kreatif yang meneteskan keringatnya demi sebuah karya. Namun dari sisi sosial kemasyarakatan, yang terjadi sangat bertolak belakang. Pembajakan telah ‘menghidupi’ beribu-ribu manusia dengan tingkat sosial ekonomi berbeda-beda. Dari sisi budaya, dicurigai bahwa spirit bajak-membajak memang berasal dari kebiasaan menirukan yang telah terdidik dan ditanamkan sejak masa kanak-kanak. Ini begitu ironis. Di satu sisi aktivitas ini dianggap hina dan tidak pantas dilakukan, sementara di sisi lain aktivitas ini menjadi ‘dewa penolong’ kehidupan alias menghidupi banyak orang. Sebagai seseorang yang belajar ilmu sosial, saya diminta berbicara tentang pembajakan dari perspektif sosial. Dari situ pertanyaan bodoh saya muncul. “sudut pandang sosial seperti apa ?”

Saya tidak berani mengklaim diri mampu menjelaskan secara komprehensif tentang aspek sosial ini. Tulisan berikut ini hanya bermaksud memaparkan tentang relasi signifikan antara kuatnya budaya konsumtif dengan tersedianya ‘lahan subur’ bagi praktek bajak membajak, lalu akan menghubungkannya dengan kenyataan ironis ‘sakitnya’ masyarakat kita. Asumsi dasar yang dipegang adalah bahwa geliat kapitalisme yang identik dengan tumpah ruahnya produk dan merek di pasaran, telah menjadi “buah simalakama” bagi dirinya sendiri. Buah itu adalah terfasilitasinya hasrat mengidentifikasi diri dengan citra merek tertentu sebagai realitas imajinatif, dengan kenyataan terbatasnya sumber daya finansial (daya beli) sebagai sebuah realitas empirik.

Budaya Konsumtif : Dari mana Semua Bermula
Upaya untuk menjelaskan konsep consumer culture dikemukakan oleh Mike Featherstone (2001) dengan memberikan tiga perspektif utamanya tentang consumer culture tersebut. Menurutnya tiga perspektik itu adalah pertama, pandangan bahwa budaya konsumen dipremiskan dengan ekspansi produksi komoditas kapitalis yang memunculkan akumulasi besar-besaran budaya dalam bentuk barang-barang konsumen dan tempat-tempat belanja dan konsumsi. Perspektif kedua berkaitan dengan pandangan bahwa kepuasan yang berasal dari benda-benda behubungan dengan akses benda-benda itu yang terstruktur secara sosial. Titik perhatiannya di sini adalah pada cara-cara yang berbeda dari orang-orang yang menggunakan benda-benda dalam rangka menciptakan ikatan atau pembedaan masyarakat. Ketiga, adalah masalah kesenangan emosional untuk konsumsi, mimpi-mimpi dan keinginan yang dimunculkan dalam bentuk artefak budaya konsumen dan tempat-tempat konsumen tertentu yang secara beragam memunculkan kenikmatan jasmaniah langsung serta kesenangan estetis.

Ketiga perspektif yang digunakan Featherstone di atas menunjukkan bahwa ada kaitan yang erat antara budaya konsumen dengan prinsip-prinsip kapitalisme dalam industri. Perjalanan industrialisasi dari menghasilkan produk-produk terbatas pada Gilda-Gilda di Inggris sampai pada munculnya pabrik-pabrik raksasa di seluruh dunia ternyata juga menghasilkan evolusi konsep berkaitan dengan cara menjualnya. Pada masa sebelum revolusi industri, produsen tidak terlalu memikirkan tentang strategi menawarkan produk mereka pada konsumen, apa saja yang dibuat pasti dibeli. Bahkan kadangkala konsumen harus menunggu pesanan barangnya. Produsen berkuasa. Hal ini tidak lagi terjadi saat revolusi industri melakukan terobosan dengan produksi massalnya. Konsumen (pembeli) sangat dimanjakan oleh hadirnya beragam produk hasil kerja pabrik. Mereka memiliki kekuasaan untuk memilih. Suatu perobahan besar terjadi pada diri konsumen di saat mereka menyadari bahwa pasar tidak lagi bisa dipasok terus menerus dengan berharap habisnya produk. Konsumen semakin pintar, dengan daya beli yang fluktuatif. Tak ada pilihan lain bagi setiap produsen selain menempuh strategi jitu dalam upaya menjual produknya. Disinilah kemudian peranan keahlian pemasaran menjadi substansial. Dalam kaitannya dengan revolusi antara revolusi industri di Inggris itu dengan budaya konsumtif, Peter Corrigan (1997) memberikan tiga sudut analisis yaitu konsumsi dilihat dari aspek politik (consumtion springs from politics), konsumsi dilihat dari aspek ekonomi (consumption from economics), dan konsumsi dilihat dari aspek kehendak atau kesenangan hati (consumption from heart). Masing-masing penjelasan Corrigan sangat terkait dengan kondisi dan situasi di Inggris ketika revolusi industri menunjukkan kekuatannya.

Pemaparan dari aspek Sejarah yang dilakukan Corrigan mampu menjelaskan mengapa terjadi budaya konsumtif yang mengalami lompatan yang berbeda saat ini. Pola konsumsi modern yang bersifat mass consumption telah menjadi penanda betapa kuatnya mesin-mesin kapitalisme bekerja. Dalam upaya mendukung mass consumption ini maka segala strategi konstruksi pemaknaan diciptakan. Tak ada tempat untuk lari dari kekuatan pasar global yang terus menerus merekayasa citra yang akhirnya bermuara pada terbelinya produk mereka. Salah seorang tokoh postmodern yang kerapkali mengingatkan akan hal ini adalah Jean Baudrillard.

Dalam salah satu bukunya La Societe de Consommation : Ses Mythes, ses Structures yang diterjemahkan dalam versi Inggris menjadi The Consumer Society, Baudrillard mengatakan bahwa seluruh wacana tentang konsumsi, baik yang dipelajari ataupun yang dihasilkan, terartikulasi pada rangkaian mitologis dari fabel : seorang manusia. Seorang manusia yang “diberkati” dengan kebutuhan-kebutuhan yang “mengarahkannya” menuju objek-objek yang memberinya kepuasan (Baudrillard, 2001). Ada mitos yang tercipta berkaitan dengan diabaikannya sifat alami masyarakat konsumen. Yang terjadi adalah para pabrikan (produsen) mengendalikan perilaku, mengarahkan dan membentuk perilaku dan kebutuhan sosial. Dengan sangat garang Baudrillard menyebut fenomena itu sebagai kediktatoran total oleh sektor produksi.

Dalam melihat relasi antara manusia dengan benda dalam konteks konsumsi, Baudrillard (2001) melihat bahwa yang muncul disana adalah nilai status hirarkhis dalam suatu sistem pertukaran simbolik. Menurutnya, nilai simbolik itu merupakan suatu insitusi sosial yang menentukan perilaku bahkan sebelum dipertimbangkan dalam kesadaran para pelaku sosial. Dalam suatu sistem pertukaran simbol-simbol, konsumsi lebih dimaknai sebagai penentu atas status sosial seseroang. Cara bekerjanya adalah melalui objek-objek, setiap pribadi dan kelompok mencari tempatnya dalam suatu aturan untuk sejenak kemudian mencoba menekankan aturan ini menurut lintasan pribadi. Dalam kondisi demikian, demikian Baudrillard, sama sekali tidak adan gunanya memperkirakan kehadiran suatu “objek empirik” (wujud fisik kebendaan) karena objek itu hanya memiliki arti sebagai suatu penanda relasi semata. Artinya pilihan untuk menggunakan handphone merek Nokia seri terbaru (tentu dengan harga lebih mahal) bukan hanya membeli alat komunikasi yang mobil semata, namun lebih karena membeli simbol yang disandang oleh merek tersebut sebagai penanda kemewahan, keberhasilan, gaul, bahkan menunjukkan status ekonomi seseorang. Hal yang sama berlaku bagi mobil mercedez, rumah dikawasan elit, dan bahkan minuman beralkohol merek tertentu. Bagi Baudrillard, setiap benda yang telah ditempatkan dalam konteks hubungan sosial manusia, maka ia akan memiliki fungsi dan nilai tertentu yang membuat dia berharga.

Pergeseran pola konsumsi masyarakat yang linear berdasarkan empat objek logika (nilai guna, nilai tukar, nilai simbol, dan nilai tanda) menunjukkan bagaimana lingkungan ‘melimpah ruahnya’ produk dan merek dihasilkan oleh industri pabrik. Keberlimpahan ini membawa konsekuensi logis terbuka lebarnya pilihan pada diri konsumen untuk memilih dan menggunakan produk dan merek manapun yang dia suka. Produk dan merek manapun yang dia mampu untuk beli, tentu yang sesuai dengan ‘isi kantong’ dia. Dari situ terciptalah habitat dan ruang hidup budaya bajak membajak.

Fasilitasi Realitas Imajinatif : Energi Pembajakan
Saat memulai bagian ini, ingatan saya terbang pada beberapa ciri khas manusia Indonesia yang diutarakan oleh Mochtar Lubis lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, 6 April 1977 waktu itu, Mochtar Lubis (ML) menyebut tidak kurang dari enam ciri manusia Indonesia. Keenam ciri itu adalah : (1). Hipokrit alias munafik, (2). Enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3). Berjiwa feodal, (4). Masih percaya takhyul, (5). Berwatak lemah, tak mampu memperjuangkan keyakinan, (6). Artistik. Kelima ciri utama yang disebutkan pertama nampaknya bermakna negatif. Semua tentang yang jelek-jelek. Namun tidak demikian halnya dengan ciri keenam. Hanya ciri keenam yang diakui oleh ML memiliki makna sangat positif. Apa kata dia ?

“Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah, dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasaan-perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinya, warna-warninya.”
(Lubis, 2001:33)

Inilah satu-satunya sifat yang begitu dibanggakan ML dalam ceramahnya. Dan nampaknya kita bisa melihat bukti dari kebanggaan itu. Seluruh karya kreatif kita terbukti melesat dalam dua dekade terakhir. Lagu, seni lukis, tari, pahat, dan beragam karya cipta lainnya bahkan telah membuat iri dan klaim tak bersahabat dari negara sahabat. Ini fakta. Kita patut berbangga. Namun dari sifat dan ciri inilah nampaknya lingkaran perkara bajak membajak karya artistik bermula. Mengapa ? Saking inginnya berartistik ria, membajak pun tak apa. Dan ini nampaknya bukan cuma di Indonesia, melainkan juga di Asia sebagai kawasan dengan status pembajak terbesar di dunia.

Pembajakan memang marak di negara berkembang, dengan porsi yang terbesar ada di Asia (Callan, 1998). Upaya penangkal dari pemerintah setempat telah dilakukan dengan memberlakukan peraturan yang melindungi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan kesungguhan memberikan sangsi kepada pelaku pelanggaran HKI. Namun pemberlakuan hukum yang berkaitan dengan HKI tidak standar satu dengan lainnya, sehingga pemberlakuan penegakan hukum juga berbeda-beda. Misalnya China, Singapura, dan Indonesia telah memberlakukan UU HKI dengan sangsi yang keras, tetapi aktifitas pembajakan nampaknya tidak pernah surut. Semua tidak bisa diselesaikan hanya dengan jalur hukum. Seperti ditegaskan oleh Hidayat & Mizerski (2005), bahwa penegakan hukum hanya merupakan salah satu faktor saja. Masih banyak faktor lain. Masalah ini harus ditilik dari sektor sosial, budaya, dan ekonomi.

Diakui dan dikecam oleh ML, bahwa ciri artistik pada manusia Indonesia apabila dia bergandengan dengan keengganan atau tidak perduli dengan tanggung jawab akan mendatangkan masalah mendasar. Tindak mencorat-coret dinding dan sudut kota dengan tulisan tak jelas sekaligus menjelaskan ciri artistik sekaligus tidak bertanggung jawab. Perlu diperhitungkan pula bahwa kebanyakan masyarakat bisnis Asia memiliki jiwa kewiraswastaan secara alamiah dan tidak ada kendala moral yang menahan penggunaan atribut orang lain untuk digunakan kepentingan sendiri. Kenyataan ini nampaknya juga didukung oleh budaya Asia yang mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan individual (Boyle, 1996). HKI dianggap sebagai kental dengan pengaruh budaya barat karena membela kepentingan individual di atas kepentingan bersama.

Wilkie & Zaichkowsky (dalam Hidayat & Mizerski, 2005) mengatakan bahwa budaya mengkopi atau meniru merupakan budaya yang sudah lama di Asia dan dapat dilihat dari sejarah dan sistem nilainya yang direflesikan ke dalam sistem hukumnya. Metode tradisional pendidikannya juga mengajarkan bagimana mengkopi sesuatu, meniru sesuatu yang dianggap bagus mIsalnya menulis halus, meniru huruf kanji yang artistik. Budaya Asia juga sangat mengutamakan keluarga dan setiap anggota keluarga saling membantu untuk kepentingan keutuhan bersama. Negara tidak memberikan manfaat secara langsung terhadap kebutuhan keluarga sehingga tidak menjadi prioritas perhatian. Itulah sebabnya barangkali tidak adanya hukum yang efektif untuk mencegah pengambilan keuntungan oleh wiraswastawan alamiah Asia dari perusahaan-perusahaan besar pemegang HKI, apalagi yang berasal dari luar Asia. Bangsa Asia yang terkenal dengan kepercayaan spiritualitasnya yang kuat, lebih bersandar pada prinsip religius yang memandang bahwa konsep meniru bukan sesuatu tindakan yang memalukan atau tindakan yang rendah.

Semua faktor sosial, budaya dan ekonomi ini secara holistik berkelindan sedemikian rupa dalam masyarakat dan pelaku industri bajakan. Pada situasi masyarakatnya yang telah terjangkiti oleh budaya konsumtif akut, sementara kemampuan daya beli begitu lemah, produk dan merek bajakan merupakan solusi instan. Inilah saat mana seluruh pelaku karya seni dan artistik mendapatkan masalah serius (Smiers, 2009). Inilah saat mana masyarakat telah dikatakan sebagai masyarakat yang tidak sehat (Fromm, 1968). Hukum mau tidak mau akan diajak untuk melihat realitas sosial yang berdimensi kompleks (Hasibuan, 2008; Rahardjo, 2009). Seluruh analisis sosial dan hukum ini tentu bukan bermaksud untuk memberikan persetujuan tidak langsung atas perilaku pembajakan. Analisis ini lebih sebagai upaya ontologis dan epistemologis atas sebuah gejala industri dan masyarakat kapitalis yang nampaknya sudah demikian kuat merambah dibelahan dunia manapun juga. Akhirnya mungkin terlalu naif untuk berkata ‘orang bijak, tentu tak membajak’ ... dalam hal ini Anda tentu boleh untuk tidak sepakat. Diskusi mungkin bisa membawa kita pada ragam perspektif yang lebih ‘kaya’.


Tepi Kali, Desember 09

REFERENSI

Baudrillard, Jean, (1998). The Consumer Society : Myths and Structures, London : Sage Publications.
_______________ , (2001). Galaksi Simulacra : Esai-Esai Jean Baudrillard, Editor M. Imam Aziz, Yogyakarta : LkiS.
Boyle, James., (1996). Shaman, Software, and Spleens : Law and the Construction of the Information Society, Cambridge/ London : Harvard University Press.
Callan, B. (1998), ‘The Potential for Translantic Cooperation on Intellectual Property in Asia, Working Paper, The Barkeley Roundtable on the International Economy, available :
http://www.ciaonet.org/wps/cab02/cab02.html

Casavera, (2009). 15 Kasus Sengketa Merek di Indonesia, Yogyakarta : Graha Ilmu.
Corrigan, Peter, (1997). The Sociology of Consumption : an Introduction, London : Sage Publication.
Fromm, Erich., (1968). The Sane Society, London : Routledge & Kegan Paul. Ltd.
Hasibuan, Otto., (2008). Hak Cipta di Indonesia : Tinjauan Khusus Hak Cipta Lagu, Neighbouring Rights, dan Collecting Society, Bandung : PT Alumni.
Hidayat, Anas, & Katherine Mizerski, “Pembajakan Produk : Problema, Strategi, dan Antisipasi Strategi” dalam Jurnal Siasat Bisnis, No. 10 Vol 1, Juni 2005.
Korten, David C., (2002). The Post-Corporate World : Kehidupan Setelah Kapitalisme, Penerjemah A. Rahman Zainuddin, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Lubis, Mochtar, (2001). Manusia Indonesia : Sebuah Pertanggungjawaban, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Rahardjo, Satjipto., (2009). Hukum dan Perubahan Sosial : Suatu Tinjauan Teoretis Serta Pengalaman-pengalaman di Indonesia, Yogyakarta : Genta Publishing.
Smiers, Joost, (2009). Art Under Pressure : Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di Era Globalisasi, Penerjemah Umi Aryati, Yogyakarta : Insistpress.

Minggu, 06 Desember 2009

Repetitions : The Destiny of History

Ada satu prinsip utama dalam melihat sejarah. Yakni melihatnya sebagai sebuah perulangan kejadian. Lewat perulangan itulah kita terus ‘membaca’ makna. Makna yang terwariskan. Sejarah nabi-nabi selalu identik dengan pengorbanan. Sejarah imperium selalu identik dengan penguasaan dan penaklukan. Sejarah poligami selalu identik dengan ketidakadilan. Sejarah perselingkuhan selalu identik dengan kekecewaan (untuk yang ini, anda boleh tak sepakat ! he he he). Apapun itu, sejarah adalah sebuah kejadian yang tercatat dan diberi makna karena keberulangannya. Masalahnya adalah siapa yang berwenang untuk mencatat dan memberikan makna atas kejadian yang disebut sejarah itu ?

Pertanyaan itu tadi terbersit ketika saya membaca buku tentang strukturalisme dari Claude Levi-Strauss (Ras & Sejarah, 2000), terutama pada bagian wawancara dia dengan Spiegel, seorang wartawan dari media cetak terkemuka di Prancis. wawancara itu memperlihatkan posisi seorang strukturalis sejati seperti Strauss yang sangat konsisten berpijak pada paham dan pendapatnya. Meskipun mendapatkan pertanyaan kritis dari Spiegel, dia tetap memperlihatkan kelurusan pemikiran sejak dimulai hingga berakhirnya wawancara. Percakapan menarik adalah tentang sejarah. Apa yang didapatkan manusia dari sejarah adalah rangkaian pengulangan yang konsisten. Tak ada sesuatu yang sesungguhnya baru alias original. Semua pengulangan semata. Paparan Strauss berintikan prinsip tersebut. Salah satu bagian yang sangat menarik perhatian saya dalam wawancara itu adalah ketika Spiegel mempertanyakan tentang landasan pemikiran Strauss tentang dikotomi masyarakat modern dan primitif. Sekalipun pada dasarnya telah tercipta oposisi biner tentang dua konsep tersebut, namun pertanyaan spiegel lebih mengacu pada citra yang melekat pada dua kondisi masyarakat tersebut. Bahkan melalui pemikiran para orientalis, Spiegel memperlihatkan betapa Strauss sangat mengagungkan konteks masyarakat primitif dengan semangat humanisasi dan harmonisasai mereka. Inti pemikiran Straus adalah bahwa kenyataan menunjukan kaum primitif yang pencitraannya dibuat oleh pada pemikir modern itu sendiri telah memiliki nilai-nilai kehidupan yang sejajar bahkan lebih sempurna bila dikomfarasikan dengan fenomena modern.

Keyakinan yang sangat kuat pada diri strauss ini muncul dalam buku dia tentang sejarah ras manusia. Buku itu dimulai dengan cerita sekelompok peneliti (yang katanya modern !) dari Spanyol yang ingin meneliti masyarakat terasing di Antilla Raya. Fokus penelitian mereka adalah ingin mengetahui seluk beluk cara hidup dan kepercayaan mistis dari kelompok masyarakat terkebelakang itu. Cerita narsisnya, para peneliti ini ragu apakah penduduk pribumi di situ memiliki nyawa atau tidak. Namun yang terjadi selanjutnya adalah tertangkapnya kelompok peneliti tersebut oleh suku primitif. Mereka semua dibunuh, mayatnya dibalsem dan ditunggui. Apa yang tergambar dalam pikiran para primitif itu ? tidak lain bahwa mereka ingin mengetahui apakah para peneliti itu mayatnya membusuk atau tidak, atau bisakah orang berkulit putih itu bisa hidup kembali setelah mereka bunuh ? Falsafah cerita itu adalah ternyata kekerasan dan penaklukan itu terus berlangsung sepanjang zaman dengan orang dan konteks yang berbeda-beda. Kekerasan juga ada di masa lalu, kekejaman juga ada dimasa lalu. Penaklukan sudah menjadi menu wajib sejak zaman dahulu. Jadi sebenarnya tidak ada yang asing dengan konsep-konsep tersebut. Yang menjadi masalah adalah makna negatif yang melekat pada konsep itu. Dengan alasan apapun tampaknya kita memiliki konotasi negatif atas apa yang bernama kekerasan, pembunuhan, balas dendam.

Penilaian itu terlepas dari kemungkinan dua sudut pandang yang berbeda atas konsep-konsep tersebut. Kepahlawanan Alexander Agung bermakna positif dan penuh heroik oleh pengagum sejarah kebesaran Romawi, terlepas berapa ribu nyawa yang telah direnggut oleh politik ekspansi Alexander Agung. Namun dari sudut pandang pihak yang dijajah Romawi, nama Alexander Agung identik dangan keserakahan, pembunuh berdarah dingin, bahkan penjahat perang ! Coba saja kita tanyakan bagaimana gambaran seorang Hitler dimata para pendukung neo Nazi. Pasti jawaban yang muncul adalah : Hitler seorang pahlawan, pengubah sejarah dunia, orang yang membela kehormatan ras Arya, dan sederetan citra positif dan membanggakan lainnya. Namun bila kita bertanya pada seorang dari turunan Yahudi, maka jawaban yang muncul tidak akan jauh-jauh dari gambaran seorang penjahat perang peringkat pertama, sadis, gila kekuasaan, atau (mungkin !) propagandis ulung yang pintar memutar balik fakta. Inilah realitas simbolis yang selalu muncul menyertai perjalanan sejarah.

Lalu apa hubungannya antara Strauss, Hitler, dan Alexander Agung itu ? sekalipun mereka tidak pernah berjabatan tangan berkenalan satu sama lain, namun Strauss kenal betul tentang cerita dua manusia terakhir. Pemahaman Strauss tentang dua orang itu paralel dengan pamahaman dia bahwa segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan, peperangan, ekspansi wilayah kekuasaan, dan semua akibat yang ditimbulkan konsep-konsep tersebut akan selalu berulang sepanjang hidup manusia. “Sejarah selalu berulang,” itu pesan Francis Fukuyama dalam The End of History and The Last Man (1992). Jadi sebuah pertanyaan di akhir tulisan singkat ini : kapan manusia pernah belajar dari apa yang disebutnya sejarah ? Nampak sudah menjadi takdir bagi sejarah untuk terus diulang dan diulang. Tanpa manusia mau mengambil dan mempelajari apa yang telah terjadi. Terus aja mengulang-ulang kesalahan. Dan dengan kesalahan itulah peradaban kita tegakkan. Satu hal yang mungkin harus diingatkan : kita memang tidak bergerak kemana-mana. Manusia memang di situ-situ saja.


Tepi Kali, Desember 09

Kamis, 03 Desember 2009

From Psychology to Communication Studies

Siang ini terasa panas. Saya duduk di sebuah cafe kecil. Cafe dengan beragam menu sederhana di sisi timur jalan Kaliurang, Yogyakarta. Sebuah ruas jalan utama di bagian utara kota Yogya yang tidak pernah sepi. Macet setiap hari. Meskipun suhu udara di dalam cafe sangat dingin karena ada tiga unit air conditioner (ac) yang beroperasi, tetap saja nuansa panas merayap pelan. Mungkin itu adalah kenyataan sesungguhnya, atau mungkin juga hanya sekadar efek dari suasana hati saya. Tak pentinglah untuk dibahas dan dianalisa. Lebih baik saya membahas keinginan saya untuk memaparkan ‘utang budi’ kajian komunikasi terhadap ilmu Psikologi. Salah seorang tokoh dan pendekar Psikologi yang ternyata memberikan kontribusi cukup signifikan atas kajian ini adalah Sigmund Freud. Pendiri aliran psikoanalisis ini memberikan sesuatu yang sama sekali tak dia sadari tentang relasi dan interaksi sosial manusia. Saya akan mulai dari sedikit cerita personal tokoh ini.

Sigmund Freud (1856 – 1939) dididik sebagai seorang doktor medis, pendiri profesi psikoanalisis, dan pencipta teori psikoanalisis. Dia bukan seorang penemu dan ilmuwan sosial, namun memiliki pengaruh yang besar dalam ilmu-ilmu sosial. Teori Psikoanalisis memiliki pengaruh kuat dalam psikologi dan memiliki pengaruh luar biasa pada sosiologi, ilmu politik, dan antropologi. Hal ini secara langsung juga mempengaruhi lapangan pemikiran komunikasi melalui tokoh-tokoh aliran kritik (critical school), pada Palo Alto School, seperti Harold D. Lasswell, dan pengaruh berikutnya, melalui Carl I. Hovland.

Kontribusi utama Freud adalah pemikirannya atas konsep ketidaksadaran, yang mempengaruhi kekuatan psikologi dibawah kontrol rasional kita, dan peranan seksualitas dalam pengembangan psikologi individu dari masa kanak-kanak. Pencarian dia terkait dengan masa seksualitas anak meyakini bahwa segala bentuk antagonisme, muncul sebagai sesuatu yang tidak bisa dipersalahkan dan rasa kebebasan seksual setelah masa puber.

Freud adalah salah satu dari tiga sosok yang berpengaruh besar bagi dunia sosial dalam abad 19 di Eropa, seperti halnya yang kemudian terjadi di Amerika. Saat teori evolusi Darwin dan Materialisme Historisnya Marx mencapai level makro dalam masyarakat, Freud hadir dengan sisi mikro individualistiknya, melihat lebih pada tataran individual, terutama sisi individu anak-anak, percobaannya dan analisisnya melahirkan konsep ketidaksadaran, untuk menjelaskan tentang perilaku. Freud menekankan bahwa pengalaman masa kecil menyimpan sesuatu yang nantinya berpengaruh bagi perilaku dewasa. Hal itu menurutnya selalu merupakan suatu pengungkapan ketidaksadaran atas perilaku manusia. Satu hubungan atau bisa disebut kontribusi yang diberikan oleh psikoanalisis pada studi komunikasi adalah kenyataan bahwa satu perhatian penting dalam kajian komunikasi adalah melihat sisi sebaliknya (inside) pada individu terutama faktor apakah yang menjadi pendorong perubahan perilaku, meskipun hal itu tidak semata-mata hanya bisa ditelaah dari sisi teori psikoanalisis saja.

Beberapa studi yang disebutkan Rogers (A History of Communication Study : A Biographical – Approach,1994), notabene menggunakan pendekatan psikoanalisis : seperti penelitian Fritz Heider tentang Balance theory (1946), teori disonansi kognitif dari Leon Festinger (1957), dan elaboration likelihood model atas perubahan sikap dari Petty dan Cacioppo (1981, 1986). Seluruh teori-teori temuan di atas berasumsi pada ketidakseimbangan individu, inkonsistensinya, atau kondisi disonan, penyebab semua itu adalah rasa ketidaktenangan yang ada pada diri individu, yang akhirnya menuju pada terbentuknya perilaku individu tersebut dan perubahannya. Kajian serius atas riset-riset berbasis persuasi yang dilakukan oleh Carl I. Hovland dikembangkan dari teori learning- nya Clark Hull, yang dipengaruhi oleh teori Freudian. Teori Freud juga memiliki pengaruh atas studi psikoanalitis Harold D. Laswell pada studi awal politik, meskipun ini tidak secara langsung berakibat pada riset komunikasi beliau. Dari pemaparan Rogers ini, nampak bahwa kajian-kajian mendasar yang menjadi peletak batu pertama dunia komunikasi, sebenarnya banyak dipengaruhi oleh temuan Freud dalam teori psikoanalisisnya.


Teori psikoanalisis Freudian dikombinasikan dengan Marxisme oleh aliran Frankfurt pada 1930 an dan pada tahun 1940 an memberikan pada kita teori-teori berperspektif kritis dalam teori komunikasi. Aliran kritis memberikan pengaruh pada studi prasangka, dilaporkan dalam “The Authoritarian Personality” oleh Adorno dan yang lainnya (1950), menyajikan sebuah teori psikoanalitis atas investigasi kepribadian dengan menggunakan metode psikologi kuantitatif. Bayang-bayang pemikiran Freud telah menghantui peta dan lintasan studi komunikasi manusia hingga hari ini. Salah satu kajian yang berbasis teori psikoanalisis yang disebutkan Rogers adalah studi Palo Alto Group yang dilakukan oleh Gregory Bateson.

Seperti pengakuan Beteson bahwa Palo Alto group hampir menjadi sebuah gerakan sosial, lingkaran dalam dari sebuah bangun teoritik yang memiliki pandangan bahwa perilaku komunikasi merupakan sebuah tindakan interaksionis. Ketertarikan Beteson atas studi komunikasi telah dia ungkapkan dalam buku pentingnya yang kompleks “Steps to an Ecology of Mind” (1972). Penekanan secara konseptual pada buku itu melihat pada komunikasi individu dalam hubungan eratnya dengan orang lain, yang merefleksikan tesis utama dari Palo Alto Group.

Namun catatan menarik dari Palo Alto group adalah bahwa kelompok ini tidak diorganisir selayaknya sebuah departemen universitas atau suatu paham, berpusat dalam disiplin akademik tertentu, namun lebih sebagai sebuah kumpulan sosok-sosok yang peduli untuk melihat bagaimana sebuah komunikasi bekerja dalam hubungannya dengan problem kesehatan mental, terapi keluarga, dan schizophrenia. Akhirnya kelompok ini memiliki problem orientasi (yang tak memiliki batasan, jika suatu saat dibutuhkan), untuk membongkar fenomena komunikasi manusia sebagai suatu jawaban utama dari semua pertanyaan mereka.

Seperti yang bisa dilihat Rogers, satu pelajaran penting dari studi komunikasi yang dilakukan oleh Palo Alto Group adalah fokusnya pada permasalahan komunikasi seperti halnya yang kita kenal dengan anggapan positif (the presumed positives). Ada kondisi-kondisi dimana komunikasi tidak selalu menghasilkan sesuatu yang linear, sama makna, namun juga kadang muncul ambiguitas di dalamnya. Seperti contoh bahwa studi komunikasi mengenai topik penyingkapan diri (self disclosure) dan keterbukaan (openness) seharusnya diimbangi dengan studi-studi ambiguitas, penipuan (deception), dan taktik berbelit-belit. Penyebabnya adalah dalam kasus-kasus seperti diplomasi, percintaan, dan negosiasi bisnis yang muncul adalah kejadian-kejadian ambigu ketimbang sesuatu yang bersifat langsung dan jelas, serta serba cepat disimpulkan.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati seluruh pemerhati dan pelaku cerdik pandai studi komunikasi mau tidak mau harus mengakui betapa kuatnya pengaruh psikoanalisis yang diprakarsai Freud terhadap kelahiran dan perkembangan kajian ini. Sebuah fakta yang belum tentu disadari dan dimengerti oleh ribuan mahasiswa ilmu komunikasi, entah di Indonesia maupun di dunia. Sudah saatnya kita melihat ilmu komunikasi bukan hanya separangkat keahlian memotret, shooting film, membaca berita, atau sekadar menjadi public relations semata. Sebuah anggapan ‘berbahaya’ yang pada titik akhirnya malah menggelincirkan kajian komunikasi hanya sebagai sebuah praktek keahlian dan penghasil para ‘tukang’. Kajian komunikasi harus berkembang menjadi sebuah disiplin kuat membaca realitas hidup manusia. Pada suatu saat dia akan sejajar dengan Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, Psikologi, dan ilmu-ilmu sosial mapan lainnya ..... semoga .....

Ahh .... siang ini masih tetap terasa panas. Sepanas suasana perdebatan orang-orang akan ramalan hari kiamat tahun 2012. Sebuah perdebatan yang menurut saya nyaris tidak memiliki manfaat apa-apa. Hanya menjadi konsumsi media dan ajang promosi belaka. Ahh ... lagi-lagi panas hati semakin menjadi-jadi .... siang ini memang benar-benar panas ...


Break Cafe, Desember 09