Rabu, 07 April 2010

Mencoba Bicara Cinta

There is nothing either good or bad
but thinking makes it so !

(William Shakespeare)



Hari ini saya mau bicara cinta ...
Cinta dalam beragam makna dan pikiran manusia,

Dalam ranah filsafat modern, kita temukan pertentangan tentang arti cinta, juga tentang ada-tiadanya cinta. Saya mulai dengan pemikiran yang paling radikal dari Friedrich W. Nietzsche yang menolak cinta sebagai bagian dari upayanya menolak filsafat sokratik dan platonik. Dalam buku "The Gay Science", Nietzsche menegaskan bahwa apa yang oleh orang-orang disebut cinta tak lain dari sebentuk egoisme yang ditutup-tutupi dengan ekspresi ‘sok peduli’ atau ‘pura-pura rela berkorban’. Pada dasarnya, setiap orang digerakkan oleh kehendak untuk berkuasa. Hubungan percintaan pun pada dasarnya adalah hubungan kuasa. Mereka yang terlibat dalam hubungan cinta berusaha untuk menguasai orang yang diakui sebagai yang dicintai. Setiap orang berusaha untuk menguasai hasrat orang lain dan itu sangat menonjol dalam cinta. Cinta dalam pandangan Nietzsche merupakan bentuk lain dari perbudakan, bahkan bentuk yang paling parah dari perbudakan. Dalam hubungan cinta, orang ingin menguasai hasrat orang lain, bukan hanya sekadar menguasai tubuh dan pikiran. Hasrat yang menjadi dasar dari kehendak merupakan bagian paling vital dari manusia. Menguasai hasrat seseorang berarti menguasai seluruh diri orang itu, menguasai seluruh aktivitas dan kehidupannya. Hubungan cinta menuntut orang hanya mengarahkan hasratnya kepada orang yang dicintai, menuntut keseluruhan jiwa, raga dan kehidupan dari orang yang terlibat di dalam, tanpa syarat, tanpa mempertimbangkan kondisi apa pun. Total. Ya, bagi Nietzsche, cinta adalah bentuk totalitarianisme paling ekstrem.

Oh iya ...
Hari ini saya mau bicara cinta,
Cinta dalam kesejarahan yang tak menyejarah,

Dalam sebuah bukunya tentang filsafat “Memoar seorang Filosof”, Moore menyesalkan betapa banyaknya filsof yang sama sekali tidak memperdulikan cinta dan seksualitas sebagai salah satu bahasan dalam filsafat. Padahal itulah unsur dan titik utama munculnya kehidupan. Keberadaan itu sendiri. Mengapa sebuah ilmu yang selalu berbicara tentang “ada” jarang sekali membicarakan tentang penyebab pengadaan manusia ? yakni hubungan seksual itu sendiri. Mari kita mulai yang paling kasat mata dan tentu saja, terasa. Bersetubuh sebagai ritual tertua manusia ! kalau ini sih nampaknya cinta yang terlalu bersendikan materialisme ketubuhan... entahlah ...
Dalam ringkasan Ihya Ulumuddinnya, Ghazali mengatakan bahwa kenikmatan bersetubuh menundukkan manusia karena dua faedah besar. Pertama, dia menghasilkan kenikmatan. Janji akan kenikmatan ini jelas sekali terlihat dalam konsep-konsep bidadari yang akan menemani sosok beriman nantinya di akherat. Dalam buku 'Brides of Heaven' (2006:243) disebutkan bahwa kenikmatan memperoleh bidadari itu salah satu penyebab banyak sekali para pejuang Islam bersedia mati syahid. Kalau mati syahid nanti di Surga akan menikah dengan bidadari. Lalu mati menjadi pilihan yang melegakan. Meledakkan dirinya untuk membunuh sekawanan tentara Israel di Palestina. Saya sendiri tidak bisa membayangkan. Tentu saja dengan pertanyaan, iya kalo yang mati syahid itu laki-laki (tentu nikmat mendapat bidadari), tapi bagaimana kalau yang mati syahid itu perempuan (apa nanti lesbianisme dan poliandri akan dilegalkan di surga sono ? huss.. bagian itu tak perlu dibahas!).

Alasan kedua, bersetubuh akan meniscayakan kelanggengan keturunan dan kekekalan eksistensi. Dua hal yang membuat Ha’rut dan Ma’rut sebagai malaikat tidak mampu menyandangnya, seperti ditulis dalam novel menarik karya Ali Ahmad Baktsir (2007) dengan setting kebesaran Babilonia. Mereka tergoda. Mulai menyesali mengapa mereka berani mengambil tantangan mencoba hidup sebagai manusia. Jauh lebih melegakan menjadi sosok malaikat. Hidup statis dan hanya menghamba kepada Tuhan. Tidak fluktuatif dan selalu dilanda kegelisahan seperti halnya manusia. Kembali kepada dua kenikmatan yang mampu menundukkan manusia kepada sebuah lubang kenistaan tadi, nampak ketertundukan manusia itu murni berasal dari instink kehewanan yang memang mendiami relung hati manusia yang paling dalam.

Pada titik ini, Sigmund Freud harus diakui sebagai sosok yang mampu menyadarkan manusia akan betapa kuatnya instink kehewanan itu. Dia menggambarkan bahwa struktur kepribadian manusia pada dasarnya seperti ice montain. Gunung es yang berada di laut. Nampak muncul dipermukaan laut adalah puncak dari gunung es itu, itulah yang kita saksikan. Sementara bagian yang paling besar dan begitu kuat dari gunung es itu adalah dasar gunung yang berada di dalam laut. Tak ada yang bisa membayangkan seberapa besar bagian yang tertutup laut dan tak nampak itu. Sisi tak nampak itulah bagian terbesar dari kepribadian manusia. Bagian dari struktur kepribadian yang coba kita sembunyikan. Mengingat betapa tidak menarik dan memalukannya secara sosial apabila bagian itu muncul dan ketahuan. Dengan tegas dia mengatakan bahwa ada “dark side” pada diri hampir setiap manusia. Sisi gelap yang mampu menghancurkan. Sisi gelap yang terus menerus kita tekan. Tak mau kita akui, tak mau kita sadari. Namun sisi itu terus menekan untuk muncul kepermukaan. Pada banyak kesempatan kita mampu untuk bertahan untuk terus menekannya. Pada saat dan kesempatan lainnya, dia tak bisa kita tekan lagi. Lepas dan liarlah dia.

Inilah jawaban atas perilaku munafik manusia. Ber-alim dan takwa ria di dalam masjid, namun menjadi sosok liar dan ugal-ugalan di jalanan. Menjadi mubalig penentang poligami, sementara memiliki lima istri. Manusia memang unik. Dan ini tidak bisa kita pungkiri. Dalam konsep lain, Irawan (2008) menyebut ini sebagai sisi ambiguitas manusia. Dengan menggunakan pemikiran Ponty dan Lacan, dia bisa menarik kesimpulan bahwa sepanjang hidupnya, manusia adalah makhluk yang ambigu dan mendua. Itulah takdir kita. Tak harus risau dengan kemendua-an kita. Nikmati aja, itu katanya.

Mohamad Sobary suka sekali mengutip kata-kata pujangga besar India Tagore berikut ini,”Kita tak pernah tahu mengapa hari ini akhirnya kita tertawa menghadapi hal-hal yang dulu pernah membuat kita menangis, dan mengapa pula bisa terjadi sebaliknya, kita dibuat menangis oleh apa yang dulu kita terima dengan tertawa.” Waktu memang mengurai begitu panjang pemaknaan. Dalam bahasa yang lebih indah seorang pujangga lain dengan tepat mengatakan bahwa manusia adalah kitab lupa dan gelak tawa. Manusia mudah sekali berubah-ubah. Tak ada yang mampu menerka dalamnya hati dan tabiat manusia. Jauh di dalam sanubari kita masing-masing bersembunyi sesuatu yang sangat jahat maupun sesuatu yang sangat baik. Keduanya hanya menunggu waktu untuk berlomba-lomba keluar dan menampakkan diri yang sesungguhnya.

Ketika mulut kita hari ini dengan sangat tenang mengucapkan cinta pada seseorang, mungkin dalam hati kita bersemayam niat lain yang tidak semata-mata dipenuhi oleh konsep cinta tersebut. Di hati kita penuh dengan keinginan atas tubuh, keinginan atas penguasaan, keinginan atas birahi tak tertahan, atau rangkaian keinginan lain yang serta merta kita tekan apabila dia mulai mencoba muncul dalam ambang batas kesadaran. Inilah esensi id yang terus menerus dirasionalkan oleh ego dan ditekan sekuat-kuatnya oleh relasi kuasa super ego. Meskipun Freud menemukan teori dasar yang simpel itu berabad silam, namun relevansinya bisa dilihat ketika kita mencoba menjelaskan apa yang terjadi hari-demi hari kehidupan kita. Setiap hari kita bertarung untuk menekan id dengan memperbesar rasa ‘salah’ kita pada super ego.


Hari ini saya mau bicara cinta,
Cinta yang mudah sekali membawa malapetaka,

Terkait dengan keharusan melepaskan hasrat bawah sadar memang menarik. Namun, hal yang mungkin terlupakan oleh Freud adalah akibat sampingan dari pengungkapan dan pelepasan impuls-impuls ketidaksadaran yang kita tekan sepanjang hidup itu. Melalui imajinasi manusia mampu menciptakan segala sesuatu yang baru, namun imajinasi tidak melakukan seleksi yang sebenarnya. Ia liar. Namun mengobati rasa penasaran jiwa yang haus dan lara. Imajinasi luar biasa. Namun dia tidak “membuat komposisi”. Sebuah komposisi tercipta akibat saling pengaruh yang luar biasa antara imajinasi dan akal, atau antara pikiran dan renungan. Penyebabnya adalah akan selalu ada unsur kebetulan dalam proses kreatif. Saking asyiknya Freud dengan id sebagai sesuatu yang harus ditemukan dan ‘dilepaskan’ sehingga dia tidak cukup punya waktu untuk berbicara tentang ego. Apalagi super ego, yang selalu dia lihat dari kacamata kritis. Cinta menunjukkan betapa beratnya sebuah imajinasi yang coba kita komposisikan dengan bantuan nalar dan akal sehat. Hasilnya, menurut Allan Pease & Barbara Pease (2010), manusia adalah satu-satunya makhluk hidup di dunia yang selalu bingung setiap berhadapan dengan masalah cinta dan seks ini. Sebagai manusia, kita adalah makhluk paling ahli dalam mempelajari perilaku berpasangan makhluk hidup lainnya. Kita dapat memperkirakan tindakan mereka, memodifikasi mereka, dan kita dapat secara genetis mengubahnya sehingga penampilan mereka menjadi begitu berbeda. Namun, kalau soal memilih pasangan bagi diri sendiri, tanpaknya hanya sedikit manusia yang berhasil. Apalagi untuk mendapatkan pemahaman sejati atas proses kejadiannya. Titik utamanya adalah pada usaha yang kebanyakan gagal untuk menyeimbangkan antara nalar dan akal sehat dengan tekanan nafsu syahwat.

Ketika Leon Fastinger mencoba menjembatani kekurangan itu dengan konsistensi informasi, kita baru mulai menyadari bahwa banyak sekali alasan dan kepintaran telah menghamba pada kepentingan. Merokok bukanlah sesuatu yang berbahaya dan mematikan saat mana ada bukti bahwa kakek kita belum juga mati dan sakit-sakitan saat usia senjanya telah menunjuk angka 90, padahal dia merokok sejak usia 19 tahun ! kita berapologi dengan manjadikan kakek sebagai bumper. Semuanya tentu saja mengarah pada terpenuhinya kepentingan untuk tetap merokok tanpa rasa bersalah. Semua orang tahu betapa berbahayanya bermain dalam percintaan tanpa nalar dan akal sehat (Tiger Woods dan Werren Beatty, contohnya), semua orang tahu resiko mengumbar nafsu syahwat tanpa filter penghambat akan mengundang AIDS menjerat (Elizabeth Pisani menulisnya dengan memikat), namun toh sampai hari ini semua orang berapologi betapa nikmatnya mencoba ‘nakal’ sekali-kali sebagai tanda hidup berjalan normal dan sehat. "seperti orang-orang," katanya santai. Untuk membela diri tersebut, rangkaian argumen dan statement dibangun. Pasti. Nampak cerdas dan tak terbantahkan. Itulah unsur kepentingan yang lepas dari analisis Freud. Mungkin dia belum sempat membayangkan betapa manusia selain makhluk dengan instink dan libido liarnya, juga merupakan makhluk rasional dan memiliki nalar yang energinya akan dimaksimalkan sedemikian rupa saat menghamba pada kepentingan dan kekuasaan. Freud memang sudah terlalu tua untuk sekadar memikirkan hal itu.

Ada satu buku Erich Fromm yang cukup menarik berjudul ‘The Art of Loving’. Ketika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dia diberi judul yang sama namun dengan anak judul “Memaknai Hakikat Cinta” (2005). Bagian awal buku itu banyak mempertanyakan apakah cinta itu identik dengan seni ? sesuatu yang mengalir begitu saja dalam jiwa dan perilaku orang-orang, tanpa harus kita sibuk memikirkan dan merasionalkan dia ? Jawaban yang diberikan Fromm niscaya sangat melelahkan bagi seorang “Buaya Darat”. Betapa tidak, cinta menurut Fromm membutuhkan sebuah upaya mengembangkan seluruh kepribadian. Pemenuhan cinta seseorang tidak dapat dicapai tanpa kemampuan untuk mencintai orang lain, tanpa kerendahan dan keteguhan hati, serta keyakinan dan kedisiplinan. Inilah yang membuat kemampuan mencintai semakin langka di abad kontemporer saat ini. Nah, tuh ... kemampuan mencintai saja menjadi sebuah prestasi langka ! luar biasa !! sepertinya pemerintah sebentar lagi akan mengeluarkan sertifikasi khusus : kompetensi pecinta.

Berbicara tentang kemampuan mencintai, seorang teman yang kesunyian akan sering berkata, “tidak ada orang yang memperhatikan atau mencintai saya.” Anda langsung mungkin dapat mencoba menenangkan hatinya (pada dasarnya kita memang sok pahlawan sih), “Oh ya, orang tua anda mencintai anda.” Dia segera menukas,”Ya, tapi itu tidak sama.” “teman anda memperhatikan dan mencintai anda.” Ya, tapi bukan itu yang saya maksud.” Kita langsung melirik ke samping kirinya, melihat makhluk menjulurkan lidahnya disamping dia,”Anjing anda tampaknya menyukai anda.” “Ya, tapi itu juga bukan yang saya maksud.” Tahukah anda, bahwa yang sesungguhnya dimaksudkan orang ini adalah, dia tidak memedulikan atau mencintai siapapun juga. Adalah perbuatan memberi, bukan menerima, yang mengusir kesunyian. Jangan-jangan kita hanya menyintai diri kita sendiri ... nabi narsis sejati ! Tepatlah apa yang dikatakan Nietzsche di awal tadi : kita hanya ingin berkuasa. Kita tunggangi cinta sebagai kereta !

Akhirnya ...
Hari ini saya mungkin tidak bisa bicara apa-apa,
Mungkin cinta tidak akan mampu dibicarakan dari sisi mana saja,
Jelas Anda yang membaca tulisan ini pasti bingung tak terkira. Tulisan ini tak jelas mau menceritakan apa, tak tahu mau mengatakan apa. Kebingungan menjadi satu pertanda ketertarikan. Kebingungan pasti mengasyikkan. Itulah cinta. Setiap kali kita akan mencoba mengidentifikasi cinta, kita hanya akan sampai pada kebingungan demi kebingungan. Justru saat kita merasa mengetahui cinta sedemikian rupa. Kita pasti tengah tidak tahu apa-apa. Karena cinta memang tidak untuk dipikirkan. Cinta hanya perlu dirasakan. Dinikmati, tanpa memusingkan diri dengan rangkaian teori. Cinta ... anda punya pendapat berbeda ?


Bingung di pinggir kali, April 10

Rabu, 10 Maret 2010

Communication Unconsciousnes

“Apa yang ada dalam benak anda …
Tidak identik dengan apa yang anda sadari,
apa yang terjadi di dalam pikiran anda,
dan apa yang anda dengar darinya,
Adalah dua hal yang berbeda”



Satu postulat yang ditebarkan oleh aliran Psikoanalisis adalah bahwa kita tidak sepenuhnya mengendalikan diri kita setiap waktu. Kita dipengaruhi oleh cara yang sulit untuk kita mengerti, dan kita melakukan sesuatu untuk alasan yang tidak kita mengerti atau kita tidak mengakui diri kita sendiri. Pendeknya, kita tidak sepenuhnya makhluk yang rasional lalu bertindak atas alasan dan basis logika dan kecerdasan, namun sebaliknya, justru emosional dan hal lain yang tidak rasional atau irasional (Berger, 1999 : 72). Seperti yang dikatakan Ernest Dichter bahwa banyak sekali dari keputusan kita sehari-hari justru diambil dalam kondisi ketidaksadaran dan motivasi yang tidak bisa kita kendalikan. Prinsip ini dinamakan Blink oleh Malcolm Gladwell (2005), dan dinamakan click whirr behavior oleh Robert Cialdini (2000). Singkat kata, menurut paham psikoanalisis manusia itu kebanyakan sama sekali tidak menyadari tentang apa yang telah dilakukannya. Mudah sekali bingung dan tertipu dengan apa yang ada didepannya, sehingga dia tak mampu memilih tindakan apa yang akan dia lakukan. Paradoxnya manusia adalah bahwa dia harus memilih disaat dia sama sekali tak sadar bahwa dia harus melakukan pilihan. Bahkan ketika dia sudah memilih-pun, ternyata dia sama sekali tidak sadar telah memilih. Lalu satu tanya menarik : kapan kita menyadari bahwa kita telah berkomunikasi ?

Komunikasi begitu inheren dalam kehidupan manusia. Saking melekatnya, dia bahkan dianggap tidak ada sama sekali. Bagaikan udara bagi manusia. Bagaikan air bagi sang ikan. Komunikasi telah hadir di mana-mana, sehingga kehadirannya tidak terasa (nikmat sekali andai cinta telah hadir di mana-mana, mengatasi benci, iri, dengki, dan dendam membara !). Justru karena manusia sudah terlalu terbiasa dengan apa yang disebut komunikasi, maka manusia tidak pernah merasa ada yang perlu dilakukan dengan komunikasi. Komunikasi sudah instingtif. Komunikasi sudah berjalan dengan sendirinya, tanpa perlu menekan tombol On. Dia telah melekat dengan kehidupan manusia. Saking telah melekatnya, maka manusia menyepelekannya. Persis seperti perilaku buruk manusia terhadap udara. Merasa bahwa udara selalu ada buat dirinya, mulailah manusia membuat polusi di mana-mana, merokok di mana saja, membuang gas kemana saja, dan setelah lapisan ozon semakin tipis, barulah disadari bahwa udara (sehat) tidak dengan sendirinya selalu tersedia bagi manusia.

Begitu juga dengan komunikasi. Tidak selamanya sebuah komunikasi yang sehat selalu mengiringi kita hari demi hari. Berdasarkan apa yang ditelisik Marshall B. Rosenberg (2010), ternyata komunikasi manusia merupakan ajang kekerasan simbolik yang sudah begitu umum terjadi. Pernahkah kita menghitung berapa banyak kalimat dan kata yang kita keluarkan telah menyakiti hati orang lain ? entah dalam kondisi bercanda maupun dalam kondisi serius, entah dalam situasi sadar maupun tidak sadar, entah dalam kondisi bersama ramai-ramai dalam komunikasi kelompok, atau hanya berdua dalam komunikasi interpersonal ? rasanya jarang sekali. Kita kadang tersentak betapa kalimat kita telah membuat wajah teman di depan kita memerah, marah. Kita kadang terkejut saat hidung kita ditonjok beberapa detik selepas satu dua kalimat meluncur dari mulut kita tanpa bisa dikontrol. Begitulah, kata Rosenberg, kita melancarkan kampanye anti kekerasan. Tak boleh berperilaku kasar dan keras. Namun kita lupa bahwa kata-kata keras dan pedas, alias sarkasme selalu meluncur dari mulut kita. Celakanya, itu mengalir begitu saja, tanpa kita sadari (hmm ... andai Freud bersama kita, tentu ia akan mengumbar tawa). Jadi yang ingin saya katakan adalah, postulat besar psikoanalisis di awal tulisan tadi sebenarnya telah berlaku umum dalam dunia komunikasi.

Ciri utama dari proses komunikasi adalah dia terjadi begitu saja tanpa terlalu disadari. Sehingga proses dan akibat terkadang tidak mudah untuk diramal dan diperkirakan. Paling tidak ada empat ciri mendasar komunikasi antar manusia yang penting sebagai alasan mengapa dia terkadang begitu sering tanpa disadari. Komunikasi itu (1). Inescapable, (2). Irreversible, (3). Complicated, dan (4). Contextual.

Inescapable adalah sifat hakiki komunikasi yang melekat pada diri manusia. Manusia tidak mungkin menghindari komunikasi. “we can’t not communicate !” begitu katanya. Komunikasi hadir seiring dengan hadirnya manusia itu sendiri. Tak pernah sedetikpun manusia terlepas dari komunikasi. Bahkan ketika dia tidur sekalipun. Tentu saja disaat tidurnya (ngorok ?) memberi makna bagi orang lain. Irreversible marupakan kata yang pas untuk mengatakan bahwa proses dan hasil dari komunikasi merupakan sebuah momen ‘sekali jadi’. Artinya dia tidak mungkin dianulir (diulang) baik dalam kesamaan proses pengiriman pesan maupun dalam hasil dan akibat yang telah muncul. Kita tidak akan bisa menciptakan dua efek kemarahan sama persis dalam selang waktu dua jam antara kemarahan pertama dan kemarahan kedua. Begitu juga disaat mengutarakan perasaan (cinta ?) tak akan mungkin menghasilkan efek yang sama pada dua tempat yang berbeda (apalagi dua orang yang berbeda khan ?). ini terjadi karena komunikasi adalah sesuatu yang complicated. Kompleksitas komunikasi terjadi meliputi setiap sosok yang berkomunikasi, baik pembicara maupun pendengar memiliki kompleksitas sendiri-sendiri baik secara sosial maupun personal. Belum lagi apabila menyangkut media dan pesan-pesan yang terkirim. Contextual, menyangkut keberadaan proses komunikasi yang melekat pada tempat dan waktu di mana komunikasi itu terjadi. Tata cara dan perilaku berkomunikasi di sebuah kampung di Sumatera tidak bisa digunakan di sebuah kampung yang lain di pulau Jawa. Akan muncul masalah karena begitu berbeda dan bertolak belakang makna interaksinya. Karena itulah komunikasi antarbudaya, antaretnik, antarbangsa menjadi sangat menarik untuk dipelajari. Paling tidak kita tahu bahwa sejak peradaban diciptakan dengan heterogenitasnya, komunikasi dan bahasa menjadi masalah utama menghubungkan manusia satu sama lain. Empat ciri utama dari komunikasi manusia itu tadi membuat komunikasi menjadi sesuatu yang terkadang terjadi begitu saja, tanpa kita sadari. Lalu adakah saat kita menjadi sadar bahwa kita tengah berkomunikasi ?

Komunikasi yang disadari adalah komunikasi yang sangat disarankan para ahli psikologi. Komunikasi yang tertata dan memiliki alur dan tujuan (positif) harusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila komunikasi dilakukan dengan kesadaran, maka proses transaksi makna baik itu verbal maupun non-verbal akan sangat terkontrol. Hasilnya ? kita akan lebih peka dengan perasaan lawan bicara kita. Kita akan mampu menjaga segala ucapan, gesture, serta perilaku non-verbal lainnya. Pada titik inilah yang terkadang paling sulit. Komunikasi yang mengalir sedemikian lupa, mudah membuat kita lupa bahwa kita sedang berkomunikasi. Karena kita lupa sedang berkomunikasi, lupa pula kita dengan siapa kita berkomunikasi, lupa pula dengan kemungkinan efek yang diakibatkan dari satu dua kata yang terucap. Begitu banyak yang terlupa saat proses komunikasi terjadi. Itulah kita .... manusia .... seperti yang memang sudah ditegaskan oleh aliran psikoanalisis tadi, banyak sekali yang berada di luar kesadaran kita. Anda punya pendapat yang berbeda ?


Tepi kali, Maret 2010

Minggu, 07 Februari 2010

Naratif & Media Televisi

Hari ini hujan mengguyur Yogya sejak siang. Cuaca berubah drastis. Dari panas menyengat, menjadi dingin yang kian merambat. Menghidupkan televisi nampaknya pilihan tepat. Mungkin lebih nikmat bila berteman teh panas, sebungkus kacang, atau sejumput coklat. Sayangnya acara televisi tidak menarik. Saya sudah begitu muak melihat sinetron dan acara ketawa-ketiwi yang hanya berisi Luna Maya, Olga, maupun Ruben Onsu. Sama muaknya seperti melihat akting para anggota DPR panitia Pansus yang cuma omong melulu. TV saya matikan. Melirik ‘The Lost Symbol’ yang baru saya baca separuhnya. Rasanya malas juga untuk mengikuti khayalan Dan Brown. Mata saya berpindah pada buku Helen Fulton. Judulnya ‘Narrative and Media’ (2005). Buku yang mungkin bisa menjadi jawaban atas rasa muak saya dengan acara-acara televisi yang hanya ketawa-ketiwi. Buku ini bercerita tentang media yang semakin menaratifkan diri dalam penyajiannya. Itu artinya, entah apapun format acara televisi : dari sinetron hingga jingkrak-jingkrak di panggung gaya In-Box dan Derings, semuanya harus disajikan dengan narasi tertentu. Ada pembukaan, konflik, lalu solusi. Alurnya harus demikian. Tak cuma dalam acara santai, untuk berita yang serius pun juga harus menggunakan cara yang sama. Alasannya simpel : menyenangkan penonton. Narasi adalah alur cerita. Kita suka mendengarkan cerita yang jelas alurnya, tertata sajiannya, jelas tokohnya, dan menyimpan harapan tentang happy ending-nya. Itulah narasi. Dia ibarat dongeng yang selalu menyertai kehidupan manusia.

Kita sebagai manusia memang suka didongengi. Sejak kecil saya selalu tidur dengan ditemani dongeng lembut almarhum ibu. Masa kanak-kanak saya begitu menyenangi dongeng guru ngaji tentang kehebatan Islam. Saat remaja saya didongengi oleh film-film cengeng tentang menangnya kebajikan atas kebatilan. Saat kuliah saya dijejali dengan dongeng sejarah alternatif tentang orde baru yang membuat saya terperangah. Hingga hari ini saya masih tetap didongengi. Dan saya tetap menyenangi itu. Tanpa sadar sayapun selalu mendongeng dalam setiap kuliah yang saya berikan. Dongeng ternyata menjadi inheren dalam hidup saya.

Dongeng adalah narasi yang teratur. Jelas plotnya. Jelas alurnya. Menjanjikan penyelesaian di ujungnya. Dan Helen Fulton melihat bahwa semua itu termanifestasi dalam penyajian isi media massa. Namanya narasi. Untuk menelitinya, mereka menyebut dengan pendekatan naratif. Terkait dengan televisi, salah seorang kontributor dalam buku itu menguraikan tentang berita televisi sebagai sebuah naratif. Namanya Anne Dunn, seorang pengajar senior di Departemen Media dan Komunikasi University of Sydney. Berikut ini saya akan menguraikan beberapa pokok pikirannya.

Anne Dunn dalam buku tersebut mencoba untuk meyakinkan betapa bergunanya narasi dalam sebuah berita televisi (news). Seperti diketahui bahwa televisi adalah media audio visual yang memanjakan khalayaknya. News dalam hal ini adalah sesuatu yang nampak serius dan terkadang membutuhkan perhatian lebih dari audiens untuk tekanan-tekanan tertentu. Dia memberi contoh ketika perang, pemberitaan yang dibuat oleh reporter dan tenaga jurnalistik lainnya tidak lagi berupa kenyataan perang sesungguhnya. Itu sudah sebuah konstruksi atas peristiwa perang. Menurutnya, berita tidak merupakan sebuah kenyataan atau realitas sesungguhnya. Berita menjadi suatu konstruksi atas realitas melalui sebuah proses seleksi editorial dengan melibatkan elemen-elemen audio visual. Semua pilihan dan pertimbangan itu bukan semata-mata sesuatu yang bersifat ideologis, melainkan juga terkait dengan teknis penceritaan. Tentu saja agar berita itu menjadi menarik untuk disajikan, terlepas dari beragam kepentingan ideologis yang melatarbelakanginya. Ambil contoh saat peristiwa serangan 11 September 2001, meskipun antara televisi Al Jazeera (Arab) dan stasiun televisi di dunia Barat (AS) berbeda setting dan kepentingan ideologis, namun masing-masing stasiun menyajikan berita layaknya sebuah kisah. Ada plot dan alur di dalamnya. Di sinilah pentingnya narasi dalam mengupas berita di televisi.

Membicarakan news sebagai sebuah naratif akan dimulai dengan sebuah konsep penting dalam dunia jurnalistik. Konsep tersebut adalah nilai berita (news values). Menurutnya news values ini merupakan hal yang paling penting untuk didapatkan seorang profesional di bidang jurnalistik melalui proses pencarian, penyeleksian, penulisan, dan penyajian berita. Ada dua kriteria utama dalam memandang news values ini : timeliness (it is ‘new’) atau currency (it is already in the news). Keduanya harus dipercaya memiliki pengaruh signifikan terhadap orang-orang berikut kehidupan mereka, memiliki sisi proksimitas dengan audiens, untuk itu mampu merangkai kejadian-kejadian agar layak diberitakan.

Prinsip utama dalam menciptakan news values adalah tentang ‘bad news is good news’, biasanya berita tentang sesuatu yang buruk-buruk akan serta merta menarik perhatian orang. Anne Dunn mengatakan ada dua hal yang perlu diketahui untuk menelusuri bagaimana seseorang bisa menciptakan nilai berita. Pertama, tentang ‘known’ yakni seseorang yang dengan namanya saja sudah menjadi sebuah berita. Ini artinya, apabila memberitakan presiden, para menteri, maupun selebritis, bisa dianggap memiliki kemampuan menciptakan nilai berita. Kedua, ‘unknown’ yakni orang yang namanya sama sekali tidak dikenal, dan untuk itu perlu untuk mengulas tentang apa yang dilakukan orang tersebut. Seorang anak yang menolong anjing kecil yang terperangkap karena banjir besar, petugas pemadam kebakaran yang bertaruh nyawa menyelamatkan seorang anak yang terperangkap di tingkat 15 sebuah gedung yang terbakar. Semuanya memiliki nilai berita terkait apa yang dilakukan, bukan siapa yang melakukan. Artinya kita tak perlu kenal siapa anak dan siapa petugas pemadam kebakaran yang heroik tadi. Kita hanya terkesan dengan perbuatannya. Intinya Known menciptakan nilai berita dengan hanya mengatakan ‘who they are and doing what they do’, semantara Unknown menciptakan nilai berita melalui ‘doing or having done to them something extraordinary’.

Menerapkan analisis naratif terhadap berita televisi sepenuhnya akan dipengaruhi oleh kerangka kerja jurnalisme televisi. Ini terkait erat dengan prinsip pemberitaan dan penyusunan berita. Dalam dunia jurnalistik terkenal dua jenis berita : hard news dan soft news. Hard news sejajar dengan hot news biasanya selalu berkaitan dengan berita-berita yang harus segera ditayangkan, disiarkan karena menyangkut sesuatu yang maha penting bagi hajat hidup orang banyak. Sementara soft news biasanya berkaitan dengan hal-hal human interest yang tidak terlalu urgen untuk diberitakan dengan segera. Meskipun keduanya harus menerapkan unsur-unsur 5 W + 1 H dalam proses penyusunan berita, namun memiliki esensi yang berbeda dalam susunan pemberitaannya. Hard news selalu menuntut penyusunan berita yang menganut prinsip piramida terbalik (inverted pyramid) : hal-hal yang penting harus diletakkan dan disajikan di awal penyajian. Yang kurang penting diletakkan dibagian belakang saja. Sementara soft news melakukan prinsip sebaliknya : dari hal yang kurang penting menuju pada esensi-esensi utama. Pertanyaannya : mana yang lebih menarik dari sisi kajian naratif ?

Mengacu pada pemikiran Espen Ytreberg (2001) seorang teoretis pemberitaan yang mencoba membandingkan antara prinsip piramida terbalik dengan penggunaan struktur naratif dalam berita televisi, Dunn percaya bahwa prinsip naratif akan memberikan nuansa tersendiri saat diterapkan dalam sebuah pemberitaan televisi. Naratif akan lebih menarik dengan piramida tegak ! Penelitian Ytreberg menunjukkan perbedaan yang terlihat dalam teknologi dan format pemberitaan NRK TV News (Norwegia) pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Para reporter masa-masa sekarang (setelah 1990-an), menurutnya lebih banyak menggunakan bahasa gambar dibanding menggunakan kata-kata dalam melaporkan kejadian pada setiap voice over mereka. Untuk menganalisis hal tersebut, Ytreberg membagi prinsip kerja reporter tadi dalam dua terminologi besar yakni ‘information tradition’ dan ‘communication tradition’ (2001:362-3).

Perspektif information tradition melihat bahwa wartawan cuma sekadar memberitakan kejadian berdasakan prinsip-prinsip inverted pyramid tadi. Melaporkan peristiwa, menyebutkan jumlah korban atau pahlawan, mewawancarai orang-orang, dan hal-hal lain untuk sekadar menjawab 5 W + 1 H. Dalam perspektif communication tradition seorang jurnalis memiliki kepekaan atas prinsip kemenarikan (engage) dan kemudahan (easy) dalam menyusun laporan. Apabila yang pertama berstruktur kaku dan tegas dalam merangkai peristiwa, maka yang kedua berstruktur lentur dengan sudut pandang beragam dan gaya penyampaian yang mudah dicerna. Unsur kedua sangat memanjakan audiens. Untuk menegaskan model terakhir ini, Dunn menyitir pemuka eksekutif NBC, Reuven Frank, “every news story should, without any sacrifice of probity or responsibility, display the attributes of fiction, of drama. It should have structure and conflict, problem and denouement, rising action and falling action, a beginning, a middle and an end. These are not only the esentials of drama; they are essentials of narrative”.

Untuk mengganti istilah soft news yang terkesan sangat beroposisi biner dengan hard news, Dunn mengusulkan terminologi other news. Kesimpulannya, hard news sebagai upaya menghadirkan berita yang memiliki news value memiliki struktur yang penyajiannya tidak terlalu sensitif pada kepentingan dan kenyamanan audiens, sementara other news (soft news) memiliki kelenturan untuk menomorsatukan perasaan audiens saat menonton dan menyimak berita televisi.

Apabila menyimak pembacaan Anne Dunn tentang esensi naratif pada berita televisi tadi, nampaknya kreator acara di Indonesia cukup cepat menangkap fenomena. Sebagai audiens, kita dimanjakan oleh berita-berita yang sudah diolah sedemikian rupa dengan struktur naratif dan pembingkaian menarik. Sisi human interest yang selalu dimunculkan tim kreatif dan tim produksi membuat kita melihat bencana gempa, tsunami, banjir, dengan sisi naratif dan terkadang cukup menarik. Saking menariknya, kita sudah dijejali oleh cerita kesedihan dengan angle beragam. Termasuk kesedihan si Luna Maya karena ulah tak sengaja para wartawan. Juga kesedihan si Olga yang telah kehilangan ibunya dengan setting cerita rumah baru (gak nyambung banget !).

Semuanya menghadirkan narasi tertentu sesuai dengan kepentingan masing-masing. Bisa jadi dia sponsor utama program (minum-minum suplemen mereka tertentu dalam Take Him Out), bisa jadi kepentingan promosi sosok penyanyi (penderitaan duda ditinggal istri gaya Anang Krisdayanti), atau pencitraan menjadi sosok malaikat baik hati sok berempati (air mata kesedihan dengan slow motion dalam ‘Andai Aku Menjadi’). Apapun bentuk dan format acaranya, dia harus disampaikan dalam bentuk naratif. Penonton senang karena diberi alur dengan gampang, sekaligus tak perlu berpikir rumit sambil menikmati pop corn atau sepiring kacang. Terlepas dia melenakan atau mendidik, gaya naratif memang menarik. Tapi ... ehh .. ngomong-ngomong, mana kacang dan coklat tadi ? ahh ternyata sudah habis, jangan-jangan sambil bercerita tentang naratif, saya juga tengah menaratifkan diri ? entahlah ...


Tepi Kali, Februari 10

Minggu, 31 Januari 2010

Homo ludens Huizinga : Kritik Senyap Modernitas

“Historical imagination dwelt by preference on crusades,
Tournaments, khights-errant. Since then history has become democratic”

-Huizinga, The Wanning of the Middle Ages (1924)-



A.Pengantar

Sejarah panjang upaya untuk menjelaskan dan menjawab problema peradaban manusia yang dilanda ketidakadilan, telah tersaji dalam beragam terminologi. Bermula dari label Homo Erectus (manusia tegak) di zaman pra-sejarah, menjadi penanda berbedanya manusia dengan makhluk lain, yang melata dengan empat kakinya. Lalu era modern ditandai oleh prinsip Homo Sapiens (manusia cerdas) yang menjadi penanda manusia semakin mengandalkan rasionalitasnya, seperti diungkapkan Rene Descartes (Scruton, 1986 ; Strathern, 2001). Masing-masing terminologi menyajikan kompleksitas dan dinamika yang berbeda-beda. Khusus untuk menjawab problem modernitas hasil kapitalisasi industri yang faktanya mendehumanisasi manusia, kritik utama Marxisme melahirkan istilah Homo Faber (manusia pekerja). Terma yang terakhir ini menggambarkan fakta pengisapan tenaga manusia pekerja oleh manusia lainnya sang pemilik modal, peradaban ingin diformulasi ulang dalam kerangka produksi dan persamaan kelas oleh Karl Marx.

Seperti rata-rata argumen utama pendukung mazhab Frankfurt, istilah manusia pekerja dinilai mewakili situasi dehumanisasi manusia. Segala aktivitas manusia hanya dipandang sejajar dengan logika produksi kapitalis. Sang ”iblis” di sini adalah spirit kapitalisme. Semua menghamba pada prinsip produktifitas dan efisiensi. Pencapaian yang dinikmati peradaban manusia dengan berkonsumsi ria (Baudrillard,1998), sebagai hasil mesin kapitalisme melahirkan kerinduan akan semangat humanisme. Upaya melawan efek buruk kapitalisme dengan konsep masyarakat tanpa kelas ala Marxisme terbukti gagal dan tenggelam dalam utopia. Dibutuhkan sebuah kerangka pemikiran untuk menjelaskan mengapa Marxisme gagal membumikan teori tanpa kelasnya tanpa memantik paranoid seperti catatan sejarah yang ditinggalkan Lenin, dan Stalin. Bagaimana upaya menjelaskan fenomena masyarakat yang tetap asyik berbelanja, sementara mereka sendiri sadar akan fakta begitu miskinnya orang disekelilingnya. Struktur kognitif tidak lagi mampu memandu segala perilaku. Kritik utama yang diarahkan kaum Marxis pada fenomena modernitas bersendikan pada tibanya masyarakat yang serba berkesadaran. Contohnya adalah antitesis Marx atas kondisi alienasi yang uncenciousness. Kritik ini gagal. Ternyata masyarakat sendiri begitu menikmati kondisi ketidaksadaran ini. Tak perlu ‘sadar’ untuk berbelanja dengan kartu kredit (yang penting gesek), tak perlu ‘sadar’ untuk kredit mobil dan rumah (yang penting angsuran ringan), dan masih banyak ketidaksadaran lain yang ternyata begitu dinikmati.

Hal yang ternyata dilupakan oleh kaum Marxis adalah begitu kuatnya area ketidaksadaran itu melekat pada masyarakat. Bagaikan insting yang inheren dalam diri manusia. Insting ‘permainan’ melekat erat dalam kehidupan. Sebagaimana layaknya insting, dia tidak perlu rasional dan bernalar. Insting membuka peluang pada hati nurani dan semangat humanisme untuk muncul kepermukaan. Johan Huizinga (1872-1945) mengintrodusir terminologi homo ludens untuk menjelaskan dan menjawab problematika manusia modern.

Tulisan ini bermaksud mengurai konsep homo ludens tersebut dengan mengambil setting kemunculan sikap kritik atas modernitas dalam berbagai segi. Diyakini bahwa konsep homo ludens sebenarnya memiliki roh dan semangat kritik serupa, untuk memeriksa kondisi sosial politis masyarakat di Eropa. Tulisan diawali dengan penjelasan hubungan antara Marxisme dan psikoanalisis. Psikoanalisis bercerita tentang ketidaksadaran, demikian pula homo ludens. Berbeda dengan mazhab Frankfurt yang sukses menuai popularitas sebagai teori kritis, pemikiran Huizinga tidak diketahui banyak pihak. Tawaran untuk membaca ulang pemikiran Huizinga melalui perspektif kritis akan dihadirkan dengan mengembalikan konsep ludens tadi sebagai sebuah hasrat. Psikoanalisis akan digunakan sebagai dasar pijakan penjelasan. Lalu barulah analisis selanjutnya akan dikerangkai dengan pendekatan postmodernisme melalui konsep Skizofrenik dari Gilles Deleuze & Felix Guattari.

B.Kritik Atas Kehancuran Peradaban Manusia : Memasok Psikoanalisis dalam Marxisme

Dalam bukunya “Civilization and Discontents” (Pertama kali terbit tahun 1955), Sigmund Freud melihat sebuah masa depan peradaban yang suram. Sesuram instink dari id yang pada akhirnya tidak bisa lagi dibendung oleh super ego, terlebih oleh ego itu sendiri. Masa dimana kehancuran melanda, saat manusia hanya diperbudak oleh nafsu dan keinginan kehewanan mereka. Nafsu yang selama ini tertekan oleh katup pengaman norma dan relasi sosial kemasyarakatan, tiba-tiba secara bebas memberontak. Dia menyeruak bukan karena terus ditekan, melainkan norma dan nilai masyarakat sebagai katup pengaman telah terjalari pula oleh instink id itu sendiri. Boleh dikata karya Freud ini adalah sebuah puncak penggambarannya akan id yang semakin liar. Seperti ide besar yang ditawarkan oleh Freud pada buku-buku utamanya tentang relasi id, ego, dan super ego (Wollheim & Hopkins, 1982; Freud, 1998; ) Id yang tidak lagi bertahta dalam singgasana kedirian seseorang, namun telah keluar menuju ranah sosial mempengaruhi lingkungan manusia. Sebuah dimensi sosial yang terjalari oleh id tanpa kekuatan super ego untuk mengamankan id yang semakin ‘nakal’ dan ‘tak terkendali’. Itulah inti dari kekhawatiran Freud.

Sayang sekali upaya untuk mulai mengeritisi ranah sosial dengan pendekatan psikoanalisis ini tenggelam di tengah-tengah kepopuleran Freud sebagai ahli terapis yang hanya berhubungan dengan orang sakit jiwa (neurosis). Freud meninggal di tengah-tengah upaya memulai elaborasi tersebut. Untunglah kemudian pemikirannya tidak lantas selesai seiring dengan kematiannya. Elaborasi selanjutnya atas kritik ideologi yang diberikan Freud dilanjutkan oleh Erich Fromm. Seorang anggota mazhab Frankfurt yang berhasil menghubungkan antara psikoanalisis dengan pendekatan Marxian. Psikoanalisis yang sangat personal individual, terhubungkan dengan Marxisme yang sosial komunal.

Sebelum masuk ke sekolah Frankfurt, Fromm sudah menulis suatu karya The Dogma of Christ (1963). Para tokoh Frankfurt menganggap bahwa karya tersebut sebagai contoh konkret integrasi ajaran Freud dan Marx. Dalam karyanya tersebut, Fromm menunjukkan bahwa Marxisme membutuhkan psikoanalisa, sebab psikoanalisa dapat makin mempertajam kritik ideologi dari Marx. Pemahaman Marx melihat bahwa segala sesuatu hanya demi meteri, dan untuk memeroleh materi itu orang kemudian melakukan manipulasi (ini dia namakan konsep ideologi) dengan orientasi membenarkan segala perilaku dan keinginannya. Dalam prakteknya, ideologi yang sebenarnya merongrong martabat insani diterangkan dan dibenarkan atas nama gagasan-gagasan luhur. Penganut ideologi berusaha menegaskan bahwa praktek ini dan praktek itu sesuai dan dituntut oleh gagasan ini dan gagasan itu. Jadi segala sesuatu yang mengontruksi kebutuhan atas materi itu sebenarnya berasal dari penciptaan gagasan-gagasan saja. Terkait dengan ideologi, menurut Marx ideologi itu lahir bukan dari kesadaran manusia itu sendiri tapi dari kebutuhan dan kepentingan material manusia secara nyata. Melalui pemaparan inilah Fromm menawarkan “proyek damai” antara psikoanalisa dan Marxisme.
Seperti yang diajarkan Freud, Fromm (2001; 2002) menunjukkan bahwa dalam psikis terdapat dua naluri dasar yang selalu berkonflik, yakni naluri seksual dan naluri mempertahankan diri (self preservation drive). Satu Eros dan yang lainnya Thanatos. Naluri mempertahankan diri selalu minta dipuaskan secara langsung, misalnya rasa lapar hanya bisa dipuaskan dengan makanan. Sedang naluri seksual dapat digantikan, disublimasikan dan dipuaskan dalam fantasi. Jadi naluri seksual itu lebih luwes terhadap kondisi sosial yang tidak dapat memuaskannya, sedangkan naluri mempertahankan diri sangat kaku terhadap lingkungannya. Maka ideologi mestinya ditinjau dalam hubungan dengan naluri seksual ini, karena ideologi adalah semacam fantasi yang dapat memuaskan naluri seksual itu. Naluri seksual itulah kunci untuk memahami ideologi.

Menurut Fromm (2002), ideologi justru merupakan semacam represi atau penundaan terhadap kebutuhan tersebut. Patut dikemukakan bahwa dorongan-dorongan psikis itu tidak hanya bersifat biologis, melainkan juga historis. Artinya mereka juga merupakan produk dari situasi sosial tertentu. Dengan demikian, psikoanalisa tidak hanya dapat menerangkan gejala-gejala yang sifatnya individual, tapi juga sosial. Analisa terhadap dorongan-dorongan psikis yang sifatnya sosial ini, tentu akan makin membantu untuk menyelami berbagai bentuk “rasionalisasi sosial” yang terkandung dalam ideologi. Bagi mazhab Frankfurt, usaha Fromm untuk mengintegrasikan psikoanalisa Freud dengan ajaran Marx dari sudut teori tentang naluri itu memang merupakan sumbangan besar untuk makin memperkaya kritik ideologi mereka. Namun mereka beranggapan bahwa teori Freud tentang superego lah yang paling memberi kunci untuk menjalankan kritik ideologi. Sebab teori superego itu paling memberi keterangan tentang manipulasi dan dominasi sebagai unsur-unsur yang menjadi minat mazhab Frankfurt dalam menjalankan kritik ideologi.

Melalui tafsir yang diberikan Fromm, teori superego memberi alasan jelas mengapa masyarakat dapat memanipulir naluri-naluri bawaan demi suatu identifikasi yang disodorkan masyarakat. Dengan teorinya tentang Oedipus kompleks yang diterapkan kepada masyarakat secara luas, Freud menerangkan bahwa “ego ideal” atau “superego” dapat berbentuk pribadi, kelompok yang mungkin saja dibenci dan dimusuhi secara aktif (seperti anak terhadap bapak dalam sebuah keluarga) namun individu atau kelompok tertarik dan kagum padanya. Secara ringkas ajaran Freud itu bisa berbunyi, kendati penguasa itu dibenci dan tidak disukai, ternyata kelas yang ditindas oleh penguasa tetap tertarik secara emosional kepada penguasa tersebut. Superego bisa berbentuk rasionalisasi atau ideologi penguasa yang terus-menerus menentukan dan mungkin memaksa anggota masyarakat, tapi anggota masyarakat mematuhinya. Padahal dibalik superego tersebut tersembunyi berbagai kepentingan untuk manipulasi dan menindas. Jelaslah bahwa teori superego ini dengan demikian bisa memberi penjelasan makin mantap tentang pengertian dan timbulnya ideologi. Lewat kritik terhadap superegolah maka bisa dijalankan kritik ideologi yang memadai.

Kemampuan tokoh-tokoh Mazhab Frankfurt untuk menggabungkan gagasan-gagasan Freud dengan Marx menjadi kekuatan aliran ini untuk mengkritisi situasi modernitas yang merugikan peradaban manusia. Catatan sejarah mereka yang sama-sama teraniaya karena perlakuan Nazi Jerman ternyata sanggup menghasilkan pemikiran yang kritis bahkan bukan hanya pada pihak Nazi itu sendiri, melainkan mampu melebarkannya pada aras sosial lainnya. Muncul kekuatan kritis yang menghasilkan banyak sekali pemikiran pendobrak atas keterjajahan manusia karena kekuatan modern itu sendiri (baca misalnya Kolakowski, 1978; Elster, 2000; Berman, 2002). Pada titik akhir sulit untuk memisahkan pemikiran kritis mereka yang pada awalnya bernuansa meterialisme (dan buta filsafat) lalu terus bergeser semakin masuk ke ranah filsafat. Untuk itu saya harus mundur sedikit kebelakang, untuk menjelaskan pemikiran sosok lain yang berkeyakinan bahwa psikoanalisis bisa digunakan untuk memperjelas kritik ideologi.
Sosok itu adalah Harbert Marcuse (1898-1979). Salah satu karyanya yang menonjol untuk melihat relasi tersebut adalah “Eros and Civilization” (Pertama terbit tahun 1970). Buku ini mencoba menggunakan berbagai kategori-kategori psikologis yang menyeruak jauh sekali kepada kategori politis. Dari buku ini terlihat bahwa apa yang dilakukan Fromm telah pula dilakukan oleh pemikiran Marcuse.

Marcuse memulai penulisan bukunya (1970) dengan melihat kondisi manusia di zaman ini, batas-batas ruang psikologis individual dengan filsafat politik dan filsafat sosial telah semakin kadaluwarsa dan kabur. Ini artinya, menerapkan hukum dan sudut pandang secara parsial untuk masing-masing permasalahan di dua ruang terpisah tadi nampaknya juga harus ditinggalkan. Apa yang pada mulanya murni diterima sebagai masalah-masalah psikologis (berarti menjadi unit analisis dari kajian psikologi) dan hanya sebatas proses kejiwaan yang otonom dan dapat diidentifikasi sebagai semata-mata masalah kejiwaan, pada saat ini telah diserap oleh fungsi, peran individu di dalam masyarakat negara. Ini mutlak wilayah kajian filsafat publik dan filsafat sosial (berarti menjadi unit analisis kajian sosial). Masalah-masalah psikologis segera saja berubah menjadi masalah politis. Dalam bahasa Marcuse (2004: v-vi), segala macam gangguan, masalah personal, sekarang dapat secara lebih langsung merefleksikan gangguan-gangguan, masalah-masalah masyarakat secara keseluruhan, dan penyembuhan atau pengobatan gangguan atau masalah personal tersebut semakin tergantung secara langsung pada penyembuhan masyarakat secara keseluruhan.

Ada alasan kuat mengapa Marcuse menggunakan pendekatan psikologis untuk menyelesaikan masalah-masalah sosiologis. Psikologi menurutnya hanya akan memiliki kekuatan analisis andai individu yang berada dalam konteks kekuatan sosial politik itu memiliki kekuatan untuk membentuk kebebasan dirinya sendiri. Namun andaikata kekuatan ranah sosial telah berhasil menekan dan membuat sang individu tidak lagi memiliki kekuatan untuk menjadi diri sendiri, dia akan teralienasi. Dalam kondisi demikian, menerapkan psikologi dalam analisis peristiwa-peristiwa sosial dan politik berarti menggunakan suatu pendekatan yang telah dilemahkan oleh peristiwa-peristiwa pengekangan itu sendiri. Ini tidak ada gunanya untuk dilakukan. Marcuse akhirnya menawarkan sebuah formula baru dalam buku sebelas chapter tersebut. Dia bermaksud mengambangkan beragam substansi politis dan sosiologis dari psikologi. Energinya adalah psikologi, namun diarahkan untuk mengungkap fenomena politik dan sosial yang berlaku pada zamannya. Apa yang dirisaukan oleh Marcuse sebenarnya adalah kekecewaan terhadap situasi umat manusia yang berada dalam kondisi ketidaksadaran (unconsciousness) atas pembudakan sukarela yang dilakoni atas nama kemajuan ekonomi dan peradaban itu sendiri.

Menurut Marcuse, psikoanalisa telah berubah fungsinya dalam kebudayaan dewasa ini, dia harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan sosial fundamental yang terjadi selama paruh awal abad 20. Ambruknya era liberal berikut janji-janji, semakin meluasnya kecenderungan totalitarian dan upaya meredam kecenderungan tersebut, terpantul dalam kajian-kajian yang dilakukan oleh psikoanalisis (Marcuse, 2004 : 306). Sejajar dengan realitas id yang terus bergerak liar, segala keinginan ideologi kapitalis sebagai mesin liberalisme, berikut segala ikutan di belakangnya menjadi sebuah energi penggerak masyarakat modern. Marcuse meyakini bahwa arah baru kemajuan manusia berikut peradabannya sangat tergantung pada apa yang dia sebut sebagai “seksualitas polimorf” (bersegi banyak). Istilah itu mengacu pada kesempatan menghidupkan, membangkitkan kebutuhan-kebutuhan organik, kebutuhan-kebutuhan biologis yang tertindas dan ditahan, intinya menjadikan tubuh manusia sebagai instrumen kesenangan, bukan sebagai instrumen kerja.

Gagasan tentang Prinsip Realitas yang baru ini didasarkan pada asumsi bahwa prasyarat material (teknis) bagi pengembangan Prinsip Realitas tersebut telah tersedia ataupun dapat disediakan dalam masyarakat industri maju seperti saat ini. Penjabaran kemampuan teknis ini ke dalam realitas sama artinya dengan revolusi. Namun cakupan dan keefektifan introyeksi demokrasi telah membenamkan sang subjek historis, sang agen revolusi : manusia bebas tidak merasa membutuhkan pembebasan, dan mereka yang merasa tertindas tidak cukup kuat untuk membebaskan diri mereka sendiri. Kondisi ini mendefinisikan kembali konsep utopia : pembebasan adalah kemungkinan historis yang paling realistis dan konkret juga sekaligus adanya kemungkinan ketertindasan secara rasional dan efektif.

Masyarakat yang makmur dengan caranya sendiri mempersiapkan diri menghadapi kondisi keterkekangan dengan mengorganisir ‘hasrat akan keindahan’ dan ‘kehausan akan komunitas’, pembaharuan ‘cara berhubungan dengan alam’, pengayaan pikiran dan penghargaan atas ‘penciptaan demi penciptaan itu sendiri’. Kegagalan dalam menerapkan tujuan-tujuan semacam itu adalah pertanda bahwa dalam sistem yang ada, aspirasi-aspirasi tersebut diterjemahkan ke dalam aktivitas-aktivitas kultural yang diatur, didukung oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar. Mereka bertindak sebagai perluasan kakuasaan eksekutif pada jiwa-jiwa massa. Merupakan sebuah kerja yang sulit, menurut Marcuse, untuk melihat isi aspirasi ini kecuali kembali mendefinisikan isi Eros (konsep kehidupan dalam terma psikoanalisis) dan transformasi otonomnya dari lingkungan dan eksistensi yang represif. Jika tujuan-tujuan yang dapat didefinisikan ini dapat dipenuhi tanpa konflik yang terdamaikan dnegan persyaratan-persyaratan ekonomi pasar, tujuan-tujuan tersebut harus dipuaskan di dalam kerangka kerja perdagangan dan keuntungan. Namun demikian, pemenuhan semacam ini pasti akan banyak menimbulkan penolakan, karena energi erotis inting kehidupan tidak dibebaskan dalam kondisi yang tidak memanusiakan dalam masyarakat makmur yang berorientasi pada profit.

Ketakutan paling mendasar yang dialamatkan Marcuse pada perjalanan peradaban adalah saat insting untuk mempertahankan kehidupan berhadapan langsung dengan ilusi pencapaian kehidupan yang lebih baik namun bersendikan thanatos. Kapitalisme yang nampaknya menjanjikan kehidupan lebih baik pada dasarnya adalah thanatos berselimut eros. Dia menjanjikan kemajuan dengan menciptakan kemunduran di sisi lain. Dia menawarkan kesejahteraan bagi penduduk di negara maju dengan mengeksploitasi dan menggerogoti negara-negara berkembang. Bahkan menurut Marcuse, sisi tergelap dari perjalanan peradaban adalah munculnya insting menikmati thanotos itu sendiri dengan berlagak mengibarkan panji-panji eros. Berbendera perdamaian bagi pasukan perang sama saja dengan menciptakan ilusi. Berdalih menciptakan kedamaian dan ketentraman namun pesawat tempur mereka terus membombardir rumah sakit, sekolahan, dan rumah-rumah penduduk sipil yang sama sekali tidak tahu menahu tentang perang berikut segala alasannya.

Apa yang terjadi kemudian adalah pengingkaran eros. Protes tentu saja terus berlanjut atas semua itu. Sebuah protes yang menurut Marcuse berawal dari insting mendasar mempertahankan kehidupan itu sendiri. Munculnya sosok-sosok yang berjuang demi Eros melawan kematian. Mempertaruhkan kehidupan mereka sendiri. Mereka melawan kematian, dan melawan peradaban yang berusaha memperpendek ‘perjalanan kembali menuju kematian’ (2004, hal.xxviii). sementara mereka sadar betul bahwa mereka telah terjebak dalam peradaban yang memiliki kuasa kontrol sarana-sarana yang memperpanjang atau memperlama perjalanan menuju kematian itu. Upaya mengontrol itu harus dilawan dengan kekuatan tandingan untuk mengatasi kontrol pula. Cara yang segera harus dilakukan adalah mensinergikan antara pemahaman eros itu sendiri dengan sebuah kerangka strategi politik yang berdimensi sosial. Simpul Marcuse menyebutkan bahwa abad ini adalah sebuah abad di mana perjuangan kehidupan, perjuangan demi eros itu sendiri, adalah sebuah perjuangan politik.

Seperti yang diakui oleh Dauglas Kellner, kekuatan filsafat menjadi roh analisis Harbert Marcuse atas fenomena sosial politik. Dengan mengelaborasi beberapa karya utama Marcuse, Kellner mengatakan bahwa, ”his (Marcuse) articulations of philosophy with social theory, cultural criticism, and radical politics seem an enduring legacy”. Disaat para pemikir lain melupakan filsafat sebagai basis analisis, Marcuse datang dengan, “critical theorists provide philosophy with an important function within social theory and cultural criticism and develop philosophical perspectives in interaction with concrete analyses of society, politics, and culture in the present age.” Jadi dengan penilaian Kellner ini, saya kira cukuplah paparan kontribusi Harbert Marcuse dalam memberikan kritik terhadap perjalanan peradaban manusia. Sebuah kritik yang mampu menyandingkan pendekatan Marxian dengan psikoanalisis Freud dalam sinergi yang mengejutkan. Terlihat nyata bahwa psikoanalisis telah bermetamorfosis pada ranah sosial sebagai sebuah kritik. Kritik itu membawa kembali insting kehidupan (eros) dan kematian (thanatos) ke dalam ranah perdebatan. Keduanya bergerak untuk menjelaskan salah satu aspek mendasar kehidupan manusia yang begitu terlupakan oleh modernitas. Aspek itu adalah hasrat (desire) yang sangat terkait erat dengan tokoh-tokoh pemikir posmodernisme. Saya akan menjelaskan sisi keterlupaan ini terlebih dahulu.

Kalau mau jujur, hasrat (desire) merupakan sebuah konsep yang ‘dilupakan’ oleh para pejuang Mazhab Frankfurt ketika membangun teori kritis mereka. Itu terjadi saat Mazhab itu terlalu menjadikan kritik Marx sebagai pintu masuk menelaah modernitas. Perhatian atas hasrat baru disuarakan oleh Harbert Marcuse, lalu kemudian Erich Fromm. Tepat pada saat Fromm menemukan pintu masuk untuk mengawinkan psikoanalisis dengan Marxian, para pengusung pendekatan dan pemikiran posmodern telah bergerak begitu jauh melampaui apa yang digelisahkan dan dianalisis pengeritik modernitas tadi. Akhirnya para pemikir dan pengeritik aspek negatif modernitas tidak terlalu mengenal konsep hasrat.

Ketika mencoba menarasikan lanskap teori-teori sosial modern, tidak ada satu katapun dalam index buku George Ritzer “Modern Sociological Theory” (1996) yang menuliskan kata hasrat (desire). Kritik terberat pada modernisme yang mengagung-agungkan rasionalitas justru tidak melalui kekuatan oposisi biner rasionalitas, melainkan pada prinsip-prinsip kemanusian penuh kerinduan akan keselarasan, persamaan hak, romantisme sejarah, yang pernah diagung-agungkan pasca revolusi Prancis. Terlalu fokusnya Mazhab ini pada inti rasionalitas justru membuat mereka membuang lawan utama rasionalitas itu sendiri. Nalar yang terlalu kuat justru akan mematikan insting primitif manusia untuk ‘mengada’ secara natural. Kemampuan produksi yang dikritik oleh Mazhab ini memang terlalu berada dalam diskursus Marx atas logika produksi yang disadari. Padahal kalau melirik sejenak pada ide besar munculnya alienasi pada diri manusia, kita akan menemukan pintu masuk Marx yang mulai bermain-main dengan aspek psikologis dan filsafat dalam membongkar kejahatan produksi. Dua upaya Max Horkheimer untuk menelisik ulang rasionalitas hanya jatuh pada sebuah kerangka inventarisasi negatifnya rasionalitas tanpa nilai-nilai kemanusiaan semata. Dia meninggal sebelum dia sampai pada sebuah usulan konkret melawan rasionalitas produksi yang begitu menggila. Kemampuannya membeberkan ciri dan sifat dasar irasionalitas manusia dalam logika produksi menarik pemikiran filsafat yang justru bermaksud menaikkan prinsip rasionalitas dalam segala dalil dan argumennya. Hasil yang muncul sebagai muara analisis adalah terlupakannya hasrat dalam ranah kritik tersebut. Sebuah konsep yang begitu menonjol dalam pemikiran-pemikiran posmodernisme.

Apakah hasrat sungguh terlupakan oleh para tokoh dialektika modernitas yang melakukan kritik ideologi ? Mungkin di Jerman sebagai pusat aliran kritis hal itu terjadi. Mungkin pula hal itu juga dialami para tokoh pengkritik ideologi di Amerika. Namun sesungguhnya energi untuk memaparkan tentang hasrat sebagai elemen penting untuk menghadapi himpitan hidup dan menghilangnya nilai-nilai humanisme telah dihembuskan sejak 1930-an. Seorang tokoh sejarawan Belanda telah melakukan itu. Namanya Johan Huizinga. Salah satu karyanya telah mengangkat elemen hasrat menjadi begitu penting dalam kehidupan manusia. Hasrat itu adalah insting bermain (ludens) manusia.

C.Huizinga & Play Element of Culture

Johan Huizinga lahir di Groningen, Belanda pada tahun 1872, sebagai putra Dirk Huizinga, guru besar Fisiologi. Sejak berusia dua tahun Huizinga telah menyandang anak piatu karena ibunya, Jacoba Tonkens, meninggal dunia saat Huizinga baru berusia dua tahun. Sebuah kehidupan piatu yang membuat dia tidak mendapatkan kasih sayang dan sentuhan seorang ibu. Kondisi batiniah yang kelak akan sangat terlihat di beberapa bukunya yang selalu tidak jauh dari kesepian, pesimisme, dan kerinduan akan kebersamaan. Dengan kondisi ekonomi yang relatif baik, Huizinga menempuh pendidikan di atas rata-rata anak seusianya. Dia masuk ke pendidikan universitas tahun 1891, dan mendapatkan gelar dalam bidang bahasa Indo-Jerman pada 1895. Huizinga kemudian belajar ilmu bahasa perbandingan di Universitas Leipzig, dan setelah kembali dari Jerman dia mendapat Ph.D. nya di 1897. Disertasinya adalah tentang topeng dalam drama sangsekerta. Sejak awal Huizinga sangat meminati sejarah sebagai sebuah kajian yang mempesona. Namun karena keterbatasan dosen pembimbing berikut pengajar pada bidang itu, maka minatnya beralih pada linguistik. Selama tahun-tahun berikutnya ia mengajar sejarah di sebuah sekolah menengah di Harlem dan pada tahun 1903-1905 menjadi pengajar tentang sejarah kuno di Universitas Amsterdam. Pada 1905 ia menjadi guru besar sejarah di Groningen.

Setelah kematian istri pertamanya, Maria Vincentia Schorer (1877-1914), dia pindah dari Groningen ke Leiden, di mana ia diangkat pada tahun 1915 sebagai guru besar umum sejarah di universitas terbesar di Belanda tersebut. Ketika menulis pemikirannya tentang bermain menjadi sebuah buku berjudul Homo Ludens, dia berstatus sebagai rektor universitas Leiden. Buku inilah yang menurut Mangunwijaya (1990) memiliki ide yang belum tertandingi karena menceritakan sebuah hal yang nampak terlalu biasa namun memiliki akibat sangat luar biasa dalam peradaban manusia. Diakui oleh Huizinga, pada buku inilah emosinya begitu terlibat.

Buku yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul “Homo Ludens : a Study of the Play Element in Culture” (1955) itu telah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia dengan judul singkat : Homo Ludens (1990). Pengakuan Huzinga bahwa dia begitu terlibat dalam proses penyusunan buku itu bukanlah tanpa alasan dan bukti kuat. Dia mengakui bahwa untuk mengintrodusir konsep ludens sebagai sesuatu yang inheren dalam kebudayaan, dia berjuang pada setiap kesempatan yang tersedia. Bahkan setiap kali menyampaikan ide itu entah di seminar, atau acara akademis serupa, Huizinga akan memerotes keras panitia yang mengubah judul makalahnya dari “The Play Element of Culture” menjadi “The Play Element in Culture”. Setiap kali panitia mengoreksi “of Culture” nya menjadi “in Culture”, maka dia langsung memprotes keras. Dia langsung mengutarakan maksudnya untuk menganggap dan menegaskan bahwa kebudayaan itu sendiri di dalamnya mengandung karakter permainan. Budaya bermain bukan cuma menjadi salah satu wujud dari manifestasi lain sebuah kebudayaan. Permainan itu inheren dalam kebudayaan. Bahkan kebudayaan adalah permainan.

Membaca keseluruhan buku Homo Ludens itu membuat kita terbawa pada romantisme Huizinga tentang kedahsyatan abad pra-sejarah. Menurutnya, hanya manusia-manusia pada zaman Arkhais-lah yang sangat terlibat dengan insting bermain mereka. Insting itu dalam perjalananan sejarahnya sempat hilang ditelan peperangan dan kehancuran zaman, namun kemudian muncul dengan kuat selepas manusia mengenal renaisans. Abad Renaisans telah menghidupkan kembali kedua khayalan kehidupan ludik yang utama, yakni mengenai kehidupan di pedesaan dan mengenai kehidupan ksatria. Sementara itu dua dunia yang sangat kuat semangat kebermainan di dalamnya manurut Huizinga adalah dunia sastra dan dunia pesta (Huizinga,1990:251). Hal yang sama diakui oleh Alison (2009) tentang betapa cintanya masyarakat era renaisans terhadap buku-buku, sekolah, seni dan arsitektur. Salah satu ciri khas yang begitu kuat bagi masyarakat yang hidup di zaman renaisans adalah humanisme.

Khusus kepada istilah humanisme, tampaklah bahwa apa yang telah kita catat tentang ciri permainan dari renaisans juga berlaku bagi humanisme. Lebih daripada renaisans, humanisme terbatas kepada mereka yang tergolong orang dalam dan mereka yang “tahu”. Kaum humanis mengejar suatu rumusan ideal tentang kehidupan dan kerohanian yang dirumuskan dengan ketat. Mereka bahkan mampu mawarnai pengungkapan kepercayaan kristiani mereka dengan unsur-unsur pagan antik dan dengan bahasa klasik mereka (Huizinga, 1990:252). Dalam mencoba memberikan contoh kuatnya insting bermain dalam kehidupan masyarakat abad pertengahan itu, Huizinga mengambil kasus penggunaan wig dalam konteks sosial kemasyarakatan. Untuk menjelaskan mengapa mode wig bisa bertahan begitu lama (membentang dari abad ke-17 hingga ke-18, menurut Huizinga, kita harus bertolak dari kenyataan bahwa pemeliharaan rambut panjang dengan segera akan menimbulkan tuntutan-tuntutan yang lebih besar daripada apa yang dapat dipenuhi oleh kebanyakan kaum pria. Dan begitu wig sudah menjadi mode, ia tidak lagi dianggap sebagai rambut tiruan atau rambut palsu dan menjadi unsur corak mode. Hampir sejak lahirnya mode itu dalam abad ke – 17, wig merupakan suatu hasil seni. Dalam arti yang paling harfiah, wig dimaksudkan sebagai “bingkai” wajah, sebagaimana lukisan diberi bingkai. Wig tidak dimaksudkan untuk meniru-niru, melainkan untuk mengisolasi wajah, sehingga akan kelihatan lebih muda, lebih indah. Maka dari segi ini, wig merupakan yang paling barok dari segala Barok (Huizinga, 1990:255).

Abad ke-19 tampaknya tidak punya banyak tempat lagi bagi fungsi permainan sebagai faktor dalam proses kebudayaan. Terdapat kecenderungan-kecenderungan yang semakin kuat yang tampaknya tidak memungkinkannya untuk terjadi sebagai basis kehidupan manusia. Sudah sejak abad ke-18, umpamanya, utilitarianisme yang prosais dan berkepala dingin (ini yang fatal bagi Barok) dan ideal Borjuis tentang kesejahteraan sosial, sudah mulai berpengaruh dalam masyarakat. Menjelang akhir abad itu, revolusi industri dengan keefektifan teknisnya yang semakin meningkat memperkuat kecenderungan-kecenderungan itu. Kerja dan produksi menjadi ideal dan hampir menjadi idola di zaman tersebut. Eropa mengenakan seragam kerja. Kesadaran sosial, tujuan pendidikan dan pengetahuan ilmiah merupakan faktor-faktor yang menentukan proses kebudayaan. Semakin meningkat perkembangan industri dan teknik, mulai dari mesin uap sampai kepada tenaga listrik, semakin kuat ilusi yang diciptakannya, bahwa dalam dirinyalah terletak segala kemajuan peradaban. Akibatnya terbukalah kemungkinan bagi manusia untuk menyusun dan menganut konsepsi yang keliru dan yang memalukan; seolah-olah peristiwa di dunia ini ditentukan dan dikuasai oleh kekuatan dan kepentingan ekonomi (Huizinga, 1990:265).

Bagaimana Huizinga menjelaskan unsur permainan abad modern setelah memudarnya budaya Arkhais abad ke-18 ? Minimal ada beberapa simpulan yang bisa diperoleh dari dia. Pertama, semuanya begitu terkait dengan kegiatan olehraga. Olahraga dengan segala kompleksitas dan sifatnya masih menjadi habitat subur dimana insting bermain itu tidak pernah benar-benar mati. Dikatakan oleh Huizinga, sesuatu yang penting bagi kita adalah peralihan dari permainan hiburan yang dilakukan sesekali ke sistem perkumpulan dan pertandingan yang terorganisasi. Meskipun begitu, ada perbedaan substantif antara masa arkhais dengan dunia modern dalam memaknai olahraga sebagai sebuah aktivitas ludik. Dalam masyarakat terkini, olahraga menduduki tempat tersendiri, terpisah dari proses kebudayaan yang sesungguhnya, yang berlangsung di luarnya. Dalam kebudayaan arkhis, kompetisi merupakan bagian dari pesta sakral. Kompetisi selalu bermuara pada harapan akan datangnya kesejahteraan, tidak dapat ditiadakan. Dalam olahraga modern, hubungan dengan ritus itu sudah hilang sama sekali. Ia sudah menjadi profan sepenuhnya dan tidak mempunyai ikatan organis lagi dengan struktur masyarakat, sekalipun kegiatannya diharuskan oleh pemerintah. Ia masih merupakan pengungkapan mandiri dari naluri-naluri agonal daripada suatu faktor semangat kemasyarakatan yang subur (Huizinga, 1990:273). Suatu perusahaan besar dengan sadar telah memasukkan faktor permainan ke dalam lingkungannya sendiri, untuk kemudian berlomba mengukir prestasi demi prestasi. Orang terjebak di dalamnya. Prosesnya sudah dibalikkan : permainan menjadi sungguhan. Seorang atlit sepakbola internasional saat ini tidak bisa lagi hanya sekadar menikmati permainan sepakbola sebatas permainan riang gembira memainkan si kulit bundar, namun sudah terlalu sibuk dengan berapa gol yang akan tercipta sekaligus harga transfernya, berapa gaji bulanannya, berapa asuransi kakinya, berapa iklan yang akan dia bintangi selama dia menjadi bintang. Sepakbola telah menjadi bisnis dan tidak ada lagi unsur ludik di dalamnya. Semua ditaksir dan diprediksi sedemikian rupa.

Kedua, terdapat kecenderungan bahwa kegiatan-kegiatan yang pada mulanya sangat terimpit dengan kepentingan, keharusan, atau kebutuhan (sama sekali tidak menunjukkan bentuk-bentuk permainan) secara sekunder mengembangkan suatu sifat yang hanya dapat dinamakan sifat permainan. Validitas kegiatan-kegiatan itu hanya terbatas dalam suatu lingkungan yang tertutup, dan aturan-aturan yang berlaku di dalamnya kehilangan finalitas umumnya. Contoh konkret dunia modern adalah anggapan bisnis yang semakin kehilangan sisi kesungguhannya dan berubah menjadi semi permainan. Cerita tentang jual menjual saham dari para spekulan tak lebih dari sebuah permainan angka-angka numerik di papan keyboard komputer mereka. Tak lagi dapat dipungkiri bahwa krisis ekonomi terbesar abad ini nampaknya hanya bermula dari semangat iseng seorang spekulan raksasa dalam mengkalkulasi tarik ulur dana di berbagai pasar saham dunia. Menganggap dunia permainan saham sebatas permainan games telah menyengsarakan banyak orang dengan tak terkendalinya nilai mata uang. Beberapa manajer puncak perusahaan-perusahaan global merasa bahwa dalam dekade terakhir mereka lebih banyak terlibat dalam suasana kompetisi yang lebih mirip sebuah permainan ketimbang tuntutan profesional pekerjaan.


Tesis utama Huizinga adalah bahwa kebudayaan itu sendiri mengandung karakter permainan. Secara ekstrim dia bahkan mengatakan bahwa peradaban muncul dan berkembang di dalam dan sebagai permainan (1955). Usahanya untuk mencoba mengintegrasikan konsep permainan ke dalam kebudayaan, nampaknya hingga hari ini tenggelam ditengah-tengah semangat humanisme yang ditiupkan generasi baru abad 20. Sekalipun sesungguhnya apabila direnungkan, Huizinga telah berupaya memberikan jawaban atas ketertundukan manusia sebagai Homo Faber logika produksi. Mengapa demikian ? karena karakter Homo Ludens dengan sendirinya sudah mencakup spirit Humanisme. Demi memaparkan bagaimana telaahnya atas esensi bermain manusia dalam kebudayaan, Huizinga memberikan empat ciri-ciri yang bisa dijadikan patokan. Pertama, permainan itu suatu aktivitas sukarela (voluntary activity) , yang -walaupun disadari sebagai-“tidak sungguhan”. Kedua, bermain selalu dipandang berada diluar kehidupan yang biasa (not real life and only pretending) - dapat menyita seluruh perhatian pemain untuk berkonsentrasi memainkan peran tertentu ketika terlibat dalam permainan ; Ketiga, tertutup dan terbatas (secludedness and limitedness). Sebuah permainan hanya dimainkan dalam batas-batas waktu dan tempat tertentu. Ia berlangsung dan bermakna dalam dirinya sendiri. Keempat, permainan menciptakan ketertiban (create order, is order). Bahkan ia adalah ketertiban itu sendiri. Dalam sebuah permainan, seluruh pihak yang bermain harus taat pada sebuah aturan khusus yang harus dipatuhi. Ketidakrelaan mengikuti aturan membuat permainan tidak bisa lagi dijalankan.

Esensi dari permainan menurut Huizinga, adalah insting mendasar manusia untuk tampil menunjukkan diri atau sesuatu. Pada tataran ini identitas menjadi kata kunci. Eksistensi manusia yang dipertunjukkan dalam permainan mewakili sifat dan fungsi permainan (Huizinga, 1950). Bila membicarakan permainan, maka kita akan menemukan upaya mencapai posisi ”juara”, ”nomor satu”, yang pada intinya adalah memenangkan permainan. Esensi kalah menang ini menjadi bagian integral dalam kehidupan. Bahkan menjadi kunci dalam interaksi kehidupan manusia sehari-hari. Dari pembacaannya atas energi ludens tersebut, Huizinga sebenarnya tengah memperhalus dan mengurai konsep relasi kuasa yang bersumber dari ‘hasrat berkuasa’ (will to power) dari Nietzche. Sebuah hasrat yang menjadi fondasi pemikir-pemikir Prancis posmodern. Pada titik inilah kemudian menginterpretasi insting ludens tadi dalam fenomena kekinian akan menjadi sebuah kajian menarik. Tafsir yang ditawarkan adalah pembacaan atas hasrat ludens tadi dengan meminjam konsep-konsep Deleuze & Guattari. Namun menjelaskan lebih dahulu tentang konsep hasrat nampaknya menjadi sebuah keharusan.

Dari sedikit ilmuwan yang begitu peduli akan konsep hasrat ini, kita boleh menyebut Sigmund Freud lah yang paling detail dalam mengelaborasinya. Terbukti dua abad sejak dia tuliskan, perbincangan hasrat semakin menemukan atmosfir untuk tumbuh dan berkambang. Tersebutlah nama Lacan, Foucault, Derrida, Barthes, Deleuze & Guattari, Irigaray, Lyotard, dan Kristeva, semuanya adalah pemikir dan filosof yang banyak membicarakan dinamika hasrat dalam rangkaian karya mereka. Freud menelusuri genesis hasrat dari pengalaman badani awal antara bayi dan ibunya. Manusia terlahir prematur. Dia tidak seperti kambing atau rusa yang langsung bisa berjalan beberapa saat setelah dilahirkan sang induk. Bayi manusia sepenuhnya tergantung atas perawatan sang ibu untuk pemenuhan kebutuhan biologisnya. Dinamika relasi antara anak, ibu, kecemburuan pada peran ayah serta ketakutan akan kartrasi (pengebirian) berakhir pada usaha keras Freud untuk menundukkan Id dalam selubung ego dan campur tangan super ego (Adian, 2006:25-43). Upaya penundukan itu ternyata tidak serta merta menghilangkan id sebagai kekuatan latent. Ia mengambil bentuk baru lewat penyingkapan fantasi. Hasrat atas kepuasan serta merta sementara mengalah guna mencapai kepuasan yang lebih tahan lama dan permanen sifatnya.

Formasi ego pun pada tataran selanjutnya melibatkan hasrat. Kehilangan ‘yang dicintai’ adalah pengalaman yang menyakitkan sehingga sebentuk ego mesti dibentuk lewat identifikasi dan inkorporasi. Identifikasi adalah proses di mana individu menginternalisasi atribut orang lain dan mentransformasi lewat imajinasi tak sadar. Identifikasi ini kemudian menjadi bagian dari individu melalui inkorporasi : pengambil-alihan-objek-sebagian atau seluruhnya-untuk menyusun basis dari ego. Dari sepenggal paparan ini, hasrat paling tidak bisa didefinisikan sebagai sebuah kekuatan alam bawah sadar yang menggarakkan manusia. Hasrat hadir karena posisi belum sempurnanya manusia sebagai makhluk yang berkeinginan. Keinginan yang karena munculnya peradaban berhasil dikekang dan dikendalikan. Namun pada saatnya terlihat bahwa inilah sebuah konsep yang mampu menjelaskan perilaku manusia abad ini. Seperti yang coba dibahas tuntas oleh para pemikir posmodern.


D.Posmodernisme dan Hasrat : Me-luden-kan Kehidupan

Dalam uraiannya tentang sosiologi posmodern, Scott Lash (2006:88-91) menegaskan bahwa untuk berbicara tentang hasrat, kita tidak bisa melepaskan diri dari ciri-ciri intelektual Prancis. Dengan tiga penulis utama Prancis – Foucault, Lyotard, dan Gilles Deleuze – Lash menyatakan bahwa pembicaan tentang hasrat akan sangat terkait dengan ciri tersebut, yakni kuatnya pemikiran posmodern. Dengan menggunakan tiga logika Foucault, Lash mengatakan bahwa sumbangan kaum neo-Nietzschean bukan hanya pada wilayah estetika, melainkan juga etika posmodernitas, yang telah mengangkat “perlawanan” dan “penemuan” melawan isu hirarki dan penaklukan. Kata pertama yang penting untuk melihat peralihan posmodern estetis menuju posmodern teoretis adalah mengangkat narasi atau “kisah” melawan diskursus.
Di Prancis, posmodern teoretis terutama menjadi persoalan keterpisahan dengan strukturalisme. Dalam perkembangannya kemudian para teoretisi Prancis terbelah menjadi dua kubu. Di satu kutub ada para strukturalis atau modern seperti Barthes, Lacan, dan Derrida yang sangat terinspirasi oleh pendekatan bahasa Saussurean; di sisi lain ada kaum posmodernis seperti Foucault, Deleuze, dan Lyotard yang bersifat Nietzschean. Satu kutub pertama sangat mengidolakan bahasa menjadi pintu masuk menjelaskan fenomena, satu kutub berikutnya menjadikan hasrat diri sebagai upaya menjelaskan semuanya. Sekalipun keduanya berbeda jalan, namun keduanya memiliki sasaran kritik yang sama yakni melawan narasi besar modernitas. Seorang filosof kontemporer yang benar-benar menjadikan hasrat sebagai landasan berpikir melawan narasi besar itu adalah Gilles Deleuze.

Sebagai salah satu bentuk kekhawatiran atas terlalu kuatnya kecendrungan dehumanisasi manusia yang dihasilkan oleh modernitas, Gilles Deleuze & Felix Guattari dalam masterpeice mereka “Anti-Oedipus : Skizophrenia & Capitalism” (2008) menawarkan konsep masyarakat Despot. Seperti yang dilakukan Fromm dan Marcuse, kedua orang ini juga menggunakan analisis Freudian dalam membaca zaman dengan perspektif strukturalis. Untuk menyebut mereka sebagai penerus Freud nampaknya tidak sesuai dengan maksud buku mereka tadi, jadi lebih baik ide mereka berdua dinamakan sebuah upaya pelebaran (pembantahan) atas kritik besar Freud terhadap kemajuan peradaban yang terus menerus meninggalkan manusia pelaku peradaban itu sendiri. Saat Freud sama sekali tidak tertarik pada ide tentang masyarakat dan bagaimana masyarakat sebagai sebuah kesatuan sosial bisa terbentuk dan lalu hancur lebur, justru Deleuze & Guattari berhasil memperluas ide mikro Freud menjadi senjata utama kritik menghancurkan narasi besar Marxian. Interpretasi Freud yang sangat personal individual, dipinjam untuk melihat perspektif lebih luas berupa kompleksitas dan dinamika masyarakat sosial. Dengan menggunakan konsep Schizophrenia, keduanya merelasikan antara hasrat dengan produktifitas Marxian.

Relasi antara hasrat yang produktif dan kekuatan antiproduksi merupakan bahasan yang penting di dalam karya Deleuze & Guattari (2008). Dengan dua konsep yang saling berelasi inilah mereka berusaha memecahkan logos hasrat yang selama ini berwajah Oedipus. Menurut mereka subyek yang ter-Oedipalisasi sudah merupakan sebuah produk atau hasil dari pertentangan antara hasrat produktif dengan kekuatan antiproduksi. Semuanya terjadi di bawah sadar, dan dengan cara pembacaan diri yang restropektif akan memungkinkan kita menyadari setelah pertarungan itu usai dan siapapun pemenangnya. Schizophrenia merupakan suatu kondisi dimana hasrat yang produktif dan kekuatan antiproduktif secara permanen bergantian menguasai koneksi atau diskoneksi tubuh-tanpa-organ. Sebuah revolusi permanen yang tanpa henti, dan tentunya tidak mengijinkan pembentukan subjek.

Untuk membedakan konsep utamanya dengan psikoanalisis (yang terlanjur dianggap sebagai dogma) Deleuze & Guattari (2008) menggunakan istilah Skizoanalisis. Formula yang ditawarkan oleh keduanya untuk keluar dari krisis kemanusiaan mengacu pada konsep schizophrenia yang menurutnya masih lebih bermartabat daripada apa yang ditawarkan kaum psikonalisis. Mereka bilang, “a schizophrenic out for a walk is a better model than a neurotic lying on the analyst’s couch” (2008:2). Seorang skizofrenik yang ingin sekali melangkah bisa jadi merupakan model yang lebih baik daripada model neurotik yang terbaring di atas dipan seorang analisis (pendekatan psikoanalisis).

Permasalahan akan muncul ketika kekuatan antiproduksi memenangkan pertarungan dan membebaskan hasrat dari pengaruh insting atau kebiasaan yang menentukan. Ketika koneksi organ dan mesin hasrat terputus, hasrat yang produktif menjadi rentan untuk tertangkap di dalam representasi sosial yang represif, yakni bentukan-bentukan sosial tentang apa yang harusnya kita inginkan dan patuhi.

Dari titik inilah kemudian skizoanalisis memulai proyeknya untuk memeriksa masyarakat sebagaimana memeriksa psikis manusia. Permainan mesin hasrat yang produktif dan kekuatan antiproduktif tidak hanya diam di dalam psikis individual, lebih lanjut di bawa ke ranah sosial untuk menunjukkan bagaimana hasrat yang selama ini dituduh sebagai kambing hitam sejarah justru memperoleh representasinya dari ranah sosial. Untuk membuktikan hal tersebut, Deleuze & Guattari melakukan sebuah genealogi, metode pelacakan silsilah yang dikembangkan oleh Nietzsche & Foucault. Tidak ketinggalan, pisau analisis Marx untuk memeriksa ekonomi sosial, strukturalis Lacan dan Levi-Strauss untuk memeriksa simbol, bahasa, dan bentuk-bentuk interaksi sosial, serta Freud. Dari pemikir sosial kontemporer, Deleuze & Guattari yang pertama membawa psikoanalisis dalam bentuk barunya, yakni skizoanalisis, ke tahap yang menggabungkan analisis kuasa Nietzchean, analisis politik-ekonomi marxian, dan strukturalisme Lacanian.

Kemampuan untuk memindahkan konsep Marx tentang masyarakat sosial ke dalam prinsip psikis individual dibuktikan oleh Deleuze & Guattari (2008). Tekanan mereka melihat hasrat sebagai yang ditekan namun tak tertiadakan. Ide awal mereka adalah dengan mengurai konsep Oedipus dari Freudian. Perlu diketahui bahwa sosok mitologi Yunani bernama Oedipus ini adalah gambaran Freud tentang sosok anak yang membunuh bapaknya untuk kemudian mengawini ibunya. Hasrat disederhanakan setara dengan kompleksitas sosok Oedipus. Setelah mengupas Oedipus versi Freud mereka berdua sampai pada pertanyaan kunci, apakah memang hasrat selalu mengambil bentuknya sebagai Oedipus di dalam kesejarahan manusia ? untuk memecahkan pertanyaan itu, Deleuze & Guattari melakukan geneologi terhadap Oedipus dengan membagi momen kesejarahan manusia menjadi momen Savegery, Despotism, Capitalism, dan Permanent Revolution.
Membicarakan tentang hasrat sebagai konsep utama dalam teori-teori kritis sesungguhnya menandai membaurnya pendekatan posmodern untuk melihat apa yang sama sekali tidak terlalu dilirik oleh teori-teori tersebut. Dalam pandangan awal Ben Agger (2003) posmodernisme neoliberal dan multikultural sama sekali tidak mengeksplisitkan diri sebagai teori sosial kritis karena mereka tidak memunculkan tantangan radikal bagi sistem sosial yang telah mapan. Namun pada bagian akhir tulisannya, Agger menyarankan agar teori-teori sosial posmodern bisa dibaca dalam narasi besar teori kritis. Untuk mendukung asumsinya itu, Agger memberikan delapan asumsi terkait dengan dasar berpikir teori-teori posmodern.


E.Homo Ludens Sebagai Kritik : Tawaran Simpulan

Paling tidak ada dua skenario besar untuk mencoba menelaah hasrat yang bermetamorfosis dalam ke-bermain-an manusia abad ini. Pertama, jika memang benar dia telah menjadi sebuah gejala masif (mempermainkan bentuk hasrat sedemikian rupa untuk mengelabui super ego) bagaimana cara menditeksi keberadaannya agar manusia tidak lagi terjebak pada labirin metamorfosis hasrat yang absurd ? Kedua, jika memang dia tidak bisa direpresi sedemikian rupa oleh kekuatan imaji sosial masyarakat, maka dalam wujud dan rupa seperti apa dia bisa ditoleransi untuk merepresentasikan diri ? Kemampuan untuk menyembunyikan segala insting dengan formulasi yang sangat halus bisa dijawab dengan hasrat bermain (ludens).

Konsep homo ludens sungguh datang pada saat yang tepat. Konsep yang ditawarkan lebih dari satu abad silam oleh Huizinga ini paling tidak menjadi alternatif menerangkan fenomena manusia kontemporer. Ternyata di luar dunia relijius, seni spontan, dan segi-segi manusiawi lain yang tidak bisa dibawahkan oleh hukum-hukum empirik dan rasionalitas instrumental belaka, masih ditemukan suatu dunia yang sangat manusiawi, spontan, dan asli dalam diri manusia, yang diharapkan dapat mengimbangi distorsi dunia rasionalitas yang ternyata adalah irasionalitas yang absurd. Dunia itu adalah dunia bermain.

Esensi ke-bermain-an manusia sangat erat hubungannya dengan spontanitas, autentisitas, dan aktualisasi dirinya secara asli menjadi manusia seutuh mungkin. Oleh karena itu ia menyangkut dunia dan iklim kemerdekaan manusia, pendewasaan, dan penemuan sesuatu yang dihayati sebagai sejati. Bermain mengandung aspek kegembiraan, kelegaan, penikmatan yang intensif, bebas dari kekangan atau kedukaan, berproses emansipatorik, dan semua itu hanya akan tercapai dalam alam dan suasana kemerdekaan. Dalam kondisi bermain itulah seharusnya manusia menikmati prinsip konsumsi. Menikmati hidup yang semakin berat. Mencoba untuk menafsir homo ludens dengan perspektif posmodern akan menghasilkan daya bongkar atas perilaku tak terjelaskan manusia kontemporer.

Kamis, 24 Desember 2009

Namanya Mira ...

Ini cerita tentang perempuan.
Perempuan jalanan yang tidak pernah sadar bahwa hidup ini harus punya tujuan.
Kepada perempuan itulah semua hasrat dan naluri kebinatangan aku tumpah dan tuangkan.
Ini cerita tentang perempuan,
Kata mereka sih semua untuk hidup dan untuk makan ….
Namanya Mira, mengaku berumur 29 tahun. Namun bagiku mungkin itu adalah samaran dan karangannya semata. Kalau ditaksir sih mungkin sudah 35 atau bahkan lebih. Namun tidak apalah, malam ini awalnya aku hanya berinisiatif untuk menjernihkan otakku yang tegang dalam beberapa hari ini. Jam di tanganku menunjukkan pukul 18.00 WIB ketika aku menjalankan mobilku pelan-pelan keluar dari Salon Riska. Nama salon baru di tikungan sebuah jalan utama kota Jogja itu merupakan referensi yang berasal dari temanku, Ibtu. Katanya sih di sana menerima perawatan “lebih’. Jadi tadi sore aku coba-coba datang ke sana, Setelah di treatment cukup satu jam, aku memutuskan untuk mengakhiri perawatanku itu. Tanpa menindaklanjuti tentang informasi ‘plus’ dari Ibtu. Ada beberapa catatan atas tempat itu, Pertama, dia tidaklah seperti yang digembar-gemborkan temanku. Juru pijatnya tidak ada yang cantik dan memikat. Pelayanannya standar sekali (bisa jadi karena aku tidak terlalu tahu tentang kode-kode tersembunyi ketika menyampaikan maksudku sebenarnya datang kesitu). Kedua, tarif yang dibebankan padaku untuk satu jam murah banget. Untuk pijat selama satu jam, tarif yang dikenakan cuma 60 ribu. Wuaah kalau ini sih super murah dari beberapa tempat pijat di Yogyakarta yang pernah aku kunjungi.
“Masih masa promosi sampai akhir bulan ini Mas, “ Kata pegawai dikasir pembayaran, Naah mumpung promosi makanya bisa jadi ada niat bagiku untuk kembali ke tempat itu. Tentu saja dengan strategi dan teknik yang berbeda. Tapi okelah ….. karena cukup murah, maka aku berpikir mungkin ada baiknya ntuk mencoba "hal lain", maka aku mulai memijit nomor hp ku dengan kepala dipenuhi satu nama yang kusebut tiga detik setelah hp kupencet :
“ Hallo …. “ aku hela napas sejenak “ Mira ? “
“ Heii ,,, siapa ini ? “ suara agak mendesah
“ Ini Tole….. loe ada dimana ?” napasku memburu : “ Gue butuh banget kehadiran loe !”
“ Kapan ?”
“Ya malam ini lah !” Wajahku pasti cemberut. “Masak tahun depan !!”
“Wah .. aku ga bisa neh ..”
“Mengapa ?”
“Ada tamu ..!”

Gubrak ..!
Dasar perempuan sialan, lagi dibutuhkan benar-benar malah asyik menjamu tamu. Dasar brengsek sex sex sex …. Malam jahanam !

Ini cerita tentang perempuan ...
Otak kananku langsung memvonis bahwa Mira adalah perempuan panggilan yang tidak bisa dibilang muda lagi. Usianya sudah diatas 35 tahun (Lihat betapa cepatnya asumsi menjadi sebuah dakwaan dengan nada penuh kepastian!). Sepanjang yang aku lihat dan aku raba, aku tahu sudah ada bagian-bagian tubuhnya yang menonjolkan lemak disana-sini. Parasnya juga tidak terlalu menarik, bahkan cenderung biasa saja. Sekilas mirip-mirip penyanyi goyang ngebor Inul Daratista. Bedanya dia bukan berasal dari Jawa Timur dan kaya raya seperti halnya Inul. Dia lahir dan dibesarkan hanya di sebuah kecamatan kecil di Surakarta, lengkap dengan kesederhanaan dan kemiskinannya. Menikah di usia muda (15 tahun) dan ditinggalkan suaminya dalam kondisi mengandung anak pertama (katanya sih anaknya cowok !). Pernah mencoba bersuami dengan seorang langganan tetapnya yang dia kira bagai ksatria. Ternyata dia lagi-lagi ditinggalkan dalam kesusahan. Akhirnya di usia kepala tiganya, dia memutuskan untuk terus melakoni hidup sebagai perempuan panggilan dan ready in used di salah satu sudut jalan Pasar Kembang, Yogyakarta.
Apakah semua cerita hidupnya itu yang kemudian membuatku sangat gemar memboking dia ?
Tidak man …… salah coy ...
Tentu saja tidak ! ….
Aku tak pernah trenyuh mendengar cerita kesedihan dan kenestapaan para pekerja sex komersial. Sudah terlalu biasa !!
Kawin muda …
Ditinggal suami …
Punya anak ….
Himpitan ekonomi keluarga …..
Menghidupi anak …..
Tetap jadi pelacur ……..
Huh …. Terlalu biasa ….. biasa ….. jayus ….
Sekali lagi bukan karena itu semua …
Aku tertarik dengannya dan kerapkali memboking-nya semata-mata karena layanan seks yang diberikannya. Mira adalah sosok wanita hipersex dan hiperaktif yang paling dahsyat yang pernah kutemui. Segala jenis fantasi yang tersusun di kepalaku nyaris semuanya bisa dituntaskan dalam kamarnya yang sempit, remang-remang, tanpa ada satupun rasa malu dan rasa sungkan. Aku menjadi seorang psikoanalisis sejati apabila bersamanya.
Setiap kali gelegak gairah dikepalaku sudah membuncah tak terkendali, maka aku tinggal memijit nomor hpnya. Janjian ketemu. Dan dia akan menunggu dengan segala persiapan maksimal.
Tapi malam ini ?
Malam dimana gairah dan nafsu begitu menghantam diriku ?
Doi menyatakan tengah ada tamu …
Berarti sekarang dia tengah bersimbah keringat dengan lelaki lain
Entah om-om …..
Entah pemuda …..
Entah aki’-aki’
Entah lelaki penjelmaan iblis dari neraka …
Entahlah …. Yang jelas semua itu syah … legal … dan bisa dibenarkan !
Semuanya membayar. Habis perkara.
Lha wong dia wanita panggilan !
Aku tidak boleh marah ! terlebih-lebih lagi cemburu !
Hua ha ha ha ha ha … apa pula itu
Cemburu pada wanita panggilan ?
Premis apa pula itu ?
Tak adalah kata itu dalam kamus hidupku ..
Tapi …..
Nafsu sudah membumbung tinggi …
Gimana dunk ?

Langkah instant dan sederhana adalah menjalankan mobil pelan-pelan menyusuri jalan Solo, sebuah ruas jalan utama kota Yogyakarta ini. Tekat bulat menuju timur. Maju terus pantang mundur. Pelan terus ke timur. Melewati sebuah kampus yang tengah dipugar dan dibangun dengan (katanya !) dana hibah dari Kairo atau Timur Tengah : megah dan jumawa. Terserahlah ! Terus ke timur. Melewati Ambarukmo Mall : sebuah mall yang hiruk pikuk dan berlebihan laku, dengan meninggalkan rentetan protes dan demo dari komunitas disekitar rencana bangunan megah itu. Katanya mall itu menjadi mall termegah di Jawa Tengah. Entahlah ….. malam ini pikiran itu cuma melintas cepat dikepalaku yang memang tengah tidak mau berpikir. Ada lintasan bergolak lain yang menekan semua rasionalitas di kepala atasku : bergolaknya hasrat di kepala bawahku !
Kepala satunya yang terus menerus menuntut pemuasan ….
Hasrat yang menggila …….
Butuh pelepasan segera …….
Segera ………………

Memang begitulah jalan hidupku. Tanpa aku pernah berpretensi menjadi Brahmana atau manusia suci. Bagiku pemuasan kebutuhan seksual tidak bisa terus menerus dilakukan melalui onani. Bahwa katanya kemudian ada dua diantara tiga laki-laki remaja dan dewasa yang menggunakan tangannya untuk merancap dan masturbasi, itu adalah kenyataan dan fakta non riset yang tetap dipegang kebenarannya. Namun bagiku perilaku onani dan masturbasi sudah lewat. Bagi seorang lelaki dengan penghasilan diatas rata-rata seperti diriku, wajah yang juga di atas rata-rata, penampilan tidak terlalu menjemukan, dan ….. kemampuan berbicara yang cukup brilian, tentu bukan perkara sulit untuk menemukan satu sosok perempuan yang bisa menerima dan juga turut menikmati permainan seksual dunia yang tanpa batas. Inilah yang namanya hasrat, kata Baudrillard !
Manusia sepanjang hidup terus menerus menuntaskan hasratnya
Seumur hidup terus menerus menetralisir id dengan bermunafik diri berpegang pada superego ! itu kata Sigmund Freud.
Ah, dasar Freud, mengapa pula sampai pada kesimpulan yang mengandung penuh kebenaran itu ? apa Deleuze & Guattari belum juga sadar ? bahwa kemaluan mereka tetap saja bergerak dengan instink ala psikoanalisis. Dasar Yahudi sok pintar !

Setelah sepuluh menit menelusuri jalan Solo, sebelum nyampe pertigaan Janti di bawah jembatan layang, mobil aku belokkan ke kiri. Masuk pelan ke sebuah gang yang aku tahu menuju pada sebuah makam, dan berarti gangnya buntu ! Bukan makam itu yang jadi tujuan, namun aku tahu pasti bahwa sebelum makam itu, ada dua buah pondok yang menampung belasan gadis. Gadis-gadis itulah yang selalu tersedia untuk menampung segala kepenatan dan kemendesakan naluri binatang yang tengah berkecamuk dalam diri lelaki sepertiku.

Porsneling mobil aku pindah ke-2. Mobil melaju pelan. Lampu senja aku aktifkan. Inilah tanda yang aku pahami apabila memasuki jalan ini sebagai isyarat ’khusus’.
Seorang laki-laki kekar cekatan menghampiri mobil sebelah kanan. Tepat di sisi sopir. Melempar senyum, ”met malam bozz..!”
”Maleem?’ senyum terpaksa ku lemparkan : ”ada berapa orang ?”
”Waah ..... masih banyak boz,” seringai senang itu keluar. ”masih lengkap !”
”Baguslah...”
Aku matikan mesin mobil. Kebisuan menyergap. Baru kusadari bahwa area pemakaman itu memang seram. Cocok benar mereka menempati area ini. Cukup menakutkan bagi orang yang tidak berpikiran jorok seperti aku. Menepis bayangan menakutkan seperti film-film kuntilanak dan sundal bolong, aku turun dari mobil dan menutup pintu.
Brakk ...!

Pandanganku menyapu sekeliling. Dari jarak sekitar 3 meter aku mulai membiasakan diri dengan gelapnya malam untuk memastikan aku berada di tempat yang tepat.
Di kiri mataku ada sebuah rumah dengan pagar separuh badan menutup halamannya. Lampu merah 5 atau 10 watt menyala temaram. Nampak beberapa kursi butut bersandar ke dinding disamping pintu masuk. Nampak dua laki-laki dan seorang wanita stw (setengah tua) cekikikan di sana. Asyik sekali bercengkrama. Kulirik sebelah kanan. Ada rumah kecil lagi dengan neon putih yang mulai menghitam di kedua ujungnya. Pasti udah saatnya diganti ! berbeda dengan suasana pelataran rumah di kiri, rumah ini nampak angkuh. Sepi sekali. Pintunya menghadap ke selatan. Satu setengah meter di depan pintunya ada tembok yang membuat kita harus membelok menghadap ke barat apabila keluar dari pintu itu. Sementara di sebelah barat ada tembok lagi yang lebih tinggi yang akan segera menghalangi penglihatan orang yang memandang dari sebelah barat. Ada tanah lapang sekitar 2 x 3 meter di utara tembok tinggi itu. Itulah tempat masuk menuju pintu tadi.

Aku paling tak suka ditatap orang saat masuk ketempat beginian. Bagiku penyembunyian identitas menjadi permainan menarik. Menghadirkan “diriku” yang bukan diriku memberikan keasyikan tersendiri sepanjang hidupku di dunia hitam ini. Tentu aku bukan Michael Foucault yang terang-terangan mengaku dirinya ketagihan sodomasokis. Ini Yogyakarta coy, bukan New York yang membuat Foucault ketagihan. Atas dasar itulah aku menghindari menuju ke rumah sebelah kiri, karena dengan demikian berarti aku akan bertemu dan melewati tiga orang yang bercengkrama di teras rumah itu.
”Baiklah,” aku menggerutu, dalam hati ”tampaknya rumah selatan deh”
”Bagaimana boz ?”seringai itu keluar lagi, ”sebelah mana ?” seringai lagi, ”dua-duanya sama bagus kok !” mulut itu terus saja berpromosi.
Aku senyum tak menjawab. Namun melangkah pelan menuju tanah 2 x 3 meter itu. Dari kegelapan di jarak 5 meter tadi, aku menyongsong lampu neon agak hitam itu. Pasti raut wajahku terlihat jelas. Ahh .. persetanlah... toh mereka cuma melihat uangku saja. Bukan siapa diriku.

”Di hotel mana boz ?” si seringai tadi mencoba beramah tamah. Ujungnya pasti komisi.
”Saya belum check in..” aku malas-malas. Sudut mataku melirik manusia ’penjilat’ disamping ini, ”Nantilah saya cari tempat sekalian..”
Aku merasa si seringai itu tersenyum, membayangkan dia akan dapat persenan lagi dari upaya mencarikan aku kamar di hotel yang telah menjadi network dia. Biasanya dalam dunia pelacuran begini, seluruh manusia yang mendapatkan manfaat dari bisnis ini akan membangun kolaborasi imbang yang saling menguntungkan. Germo akan mendapatkan sekitar 50% dari uang boking dan “uang pake”, terus sang bodyguard akan mendapat 2% dari kemampuan menarik konsumen, sementara itu hotel akan diwajibkan memberi sekadar ’tip’ pada bodyguard sebagai balas jasa sang pengawal sudah memberikan tamu untuk mengisi kamar hotelnya. Dengan pengetahuan akan sistem bagi hasil begitu, aku merasa muak dengan senyum dan seringai sok ramah dari bodyguard itu. Sama saja dengan senyum menertawakan kebodohan dan ketolollanku.
”Ahh persetanlah ...” makiku dalam hati, sambil kupercepat langkahku..
Saat menapaki ujung tanah lapang 2 x 3 meter itu mataku sudah melirik ke kiri, mengarah pada depan pintu masuk yang diterangi sorot lampu neon yang lebih benderang.. dan. Bruukk ..... ujung kakiku terantuk satu gundukan di kegelapan, sialan .. gue terpeleset!
”Hati-hati bozz ..” tangkas sekali si bodyguard merespon, padahal doi pasti tersenyum geli.. dasar aku saja yang goblok.. Ini nih akibatnya kalau nafsu sudah di ubun-ubun ... he he he he he ………

Satu menit kemudian aku sudah berada di depan pintu rumah dengan lampu temaram itu. Ruang tamu memanjang. Sekitar 3 x 10 meter. Pada setiap sisinya terdapat kursi sofa empuk. Dibelakang deretan panjang kursi itu terdapat kaca cermin yang besar melekat di dinding yang posisinya berhadapan. Hingga setiap orang yang duduk di sofa itu akan melihat dirinya sendiri utuh di cermin depannya. Persis dipunggung sosok lain yang duduk di hadapannya.

Sambil mempersilahkanku duduk, sang bodyguard tadi memencet satu tombol persis diatas tempat duduk dia. Terdengar bunyi bel. Aku sudah paham maksud bel itu : semua gadis-gadis harus keluar memamerkan diri. Tak sampai lima detik, bermunculanlah rupa-rupa cantik menggairahkan dari dalam menuju sofa yang tadi ada cerminnya berhadap-hadapan.
“Evi, Neni, Dian, Anggi, Siska, Rika, Leni ,..” dan entah berapa nama lagi yang disebutkan sang Bodyguard merangkap germo itu untuk menjelaskan masing-masing gadis yang keluar secara teratur. Yang pasti aku tak bisa mengingat semua. Mataku Cuma nanar menatap gadis mana yang sesuai seleraku. Putih, berambut panjang, dada menunjang, agak nakal, bokong sexy, fashionable... ahh ....
“yang mana boz?” tanya germo itu .
Ternyata semua gadis itu sudah duduk berhadap-hadapan sambil tersenyum memamerkan dirinya masing-masing. Pada saat seperti ini aku jadi teringat ungkapan Hatib Abdul Kadir dalam bukunya “Tangan Kuasa Dalam Kelamin”. Buku yang diantar Benedict Anderson itu mengetengahkan analisis menarik atas dunia pelacuran berikut sebab musababnya. Penyebab muncul dan bertahannya pelacuran menurut buku itu bukanlah karena lemahnya pendidikan agama, kurang iman, dan lemahnya moral pelaku-pelaku itu, melainkan relasi timpang kekuasaan ekonomi yang menghimpit kelompok marjinal. Kesempatan berusaha dan mendapatkan penghasilan layak yang tidak merata bagi manusia di Indonesia ini membuat timpangnya pendapatan. Mereka yang kaya akan terus membangun sistem untuk mengukuhkan kekayaan dan status mereka, dan itu berarti akan senantiasa mengorbankan mereka yang miskin. Semakin miskin, semakin tersingkir. Pada titik ini pilihan untuk menjadi pelayan dan budak dari mereka yang memiliki uang sama sekali tidak bisa terelakkan. Inilah relasi borjuis dan proletar. Persis seperti yang digambarkan Kuntowijoyo atas peran kelas Borjuis di Eropa. Mereka yang menjadi pelacur adalah kelas proletar dengan modal tubuh yang dikuasai para germo. Dengan sistem pembagian yang lebih banyak menguntungkan sang germo, tepat sudahlah relasi kuasa itu memainkan peran dalam urusan perkelaminan. Dan aku menjadi sosok yang berkuasa, menjalin teori konspirasi dengan germo itu untuk meng-establish-kan posisi germo itu. Aku punya uang, bebas memilih mana tubuh yang akan kunikmati tiga jam ke depan. Dan ...
“Yang paling kiri mantap lho bos !” ahh dasar otak promosi, “Namanya Vera.”
Meski mengumpat dalam hati, toh lensa mataku juga bergerak seiring dengan perintah otak untuk tidak menyia-nyiakan secuil informasi itu. Duduk di kiri, sosok putih bersih (yang kusadari kemudian hanyalah pengaruh lampu yang terang benderang), dada membusung (pasti 36b), memakai rok jins super sexy, nampaknya germo ini tahu betul seleraku. Aku menyeringai bagai srigala lapar melihat anak rusa gemuk siap dimamah. Dasar bajingan !

Tak perlu aku teruskan. Apakah aku akan “mengambil” Vera atau tidak. Yang jelas Freud sudah tahu betul akan apa yang terjadi pada sisi tergelap manusia. Seks menjadi akar masalah peradaban. Seks menjadi sarana penguasaan. Seks telah menggantikan proses berketurunan sebagai sarana permainan yang mengasyikkan. Manusia memang makhluk menyimpang. Berdasarkan standar 4.300 spesies mamalia lain di dunia, dan berdasarkan standar kerabat kita yang paling dekat (menurut hukum Darwin), kera besar (Simpanse, bonobo, gorila, dan orang utan), kitalah spesies yang paling menyimpang. Minimal itu simpul yang kubaca di buku “Why is Sex Fun ? : The Evolution of Human Sexuality” yang ditulis Jared Diamond. Apabila spesies mamalia lain hanya memaknai persetubuhan sebagai sekadar cara memelihara keturunan dan berkembang biak, manusia memaknai persetubuhan sebagai ritual rekreasi dan kesenangan. Akibatnya, di dalamnya timbul pertaburan proses pencarian kesenangan, sensasi, fantasi, penguasaan satu sama lain, dan tentu saja uang yang melimpah ruah. Memang benar kata Freud : seks pencipta peradaban.

Selebihnya aku tak bisa bercerita lebih banyak lagi. Tubuh dengan dada membusung itu benar-benar telah berdiri di depanku. Kami berdua sudah berada dalam kamar sebuah hotel bintang empat. Punya garasi mobil di setiap kamarnya. Hotel yang resepsionisnya tidak norak dengan mempertanyakan KTP setiap tamu yang menginap. Cukup dengan memberikan tip satu lembar lima puluh ribuan, mulutnya akan diam. Mataku semakin nanar. Nafsu pasti berpendar. Blouse-nya telah terlepas. Berganti dengan BH merah menutup sepasang buah dada yang tadi membuncah. Aliran listrik tidak mampu lagi memaksimalkan fungsi otak kiriku. Yang ada sekarang hanya pijaran listrik berlebihan yang menyerang otak kanan. Dengan sigap aku menghambur ke depan ... Vera menyambut dengan senyum nakal dan lenguh berkepanjangan. Seks telah menjadi profan, memang begitulah peradaban ... Dua jam ke depan biasanya aku pasti akan menyadari, kalau aku memang Freudian.


Tepi Kali, Desember 09