Kamis, 13 Agustus 2009

Kekuatan Kontrol yang Tak Mampu Mengontrol

“Melihat dunia dalam sebutir pasir,
dan surga dalam bunga hutan,
peganglah Yang Tidak Terbatas di
telapak tanganmu, dan Keabadian
dalam satu jam.”

-William Blake -


Setelah Rene Descartes memberikan penegasan betapa berkuasanya akal pikiran untuk mengatur diri dan dunia di sekeliling kita, sampailah kita pada masa di mana akal telah kehilangan kekuatannya. Pendewaan pada akal telah mengakibatkan hilangnya kekuatan imajinatif, puitis, dan simbolis, bahkan pada sudut terjauh telah menghilangkan visi akan landasan etis. Sebuah landasan yang menjadi rahim peradaban. Kekuatan imajinatif yang seharusnya kita kelola dengan otak kanan, telah kita dorong dan kembangkan dengan otak kiri. Ini kemungkinan yang tidak mungkin. Seperti tuduhan telak Kevin O’Donnell (2009) bahwa saat otak kiri meminta konkritisasi atas apapun di dunia ini, lahirlah materialisme. Dia telah membuat visi tentang keindahan tidak lagi bermakna apa-apa. Semua diubah menjadi komoditas dan bukan ekosistem yang halus dan menakjubkan. Kekuatan akan penciptaan dan penghayatan akan keindahan hanya bisa dihadirkan dengan mekanisme otak kanan.
Namun saat ini, dengan ikut campurnya otak kiri untuk mengapresiasi beberapa hal tadi, kita telah menghancurkan semuanya. Mau bukti ? berjalan-jalanlah di sepanjang gerai yang dipajang di Mall Ambarukmo Plaza (Jogja). Kita akan temukan semua nilai kehidupan yang mewujud dalam baju, celana, kamera, komputer, mobil, sepeda, dan aneka komoditas lainnya. Semua bercerita tentang diri. Mengonstruksinya. Membingkainya. Menekan kita. Pernahkan kita berpikir terlalu lama untuk memilih salah satunya ? satu-satunya yang mungkin kita pikirkan adalah “masih cukupkah uang kita untuk membelinya ?” Panjang lebar Jean Baudrillard mengurai ini dalam The Consumer Society (1998), yang dengan lebih radikal disuarakan Martyn J Lee (2006). Mereka khawatir dengan budaya hidup konsumtif. Pada titik terjauh saat ini kita akan melihat parade pameran bertitel unjuk budaya setiap daerah di Indonesia yang muncul dalam rupa kerajinan tangan, baju adat, rumah adat, makanan khas daerah, serta beragam hasil kreasi budaya lainnya. Ironisnya, semua ditempa dalam wujud material yang harus laku jual. Mau bukti ? kunjungi saja Pameran Investasi Daerah se-Indonesia yang setiap tahun digelar di Jogja Expo Center (JEC). Budaya sebagai artefak diperdagangkan di sana. Hasil budaya telah dihilangkan nilai sakralnya. Itulah komoditas. Sebuah bukti kerja budaya yang sarat dengan nilai keindahan dan abstraksi seni tingkat tinggi, telah dinilai dengan berapa dollar dan berapa rupiah dia terbeli. “uang berbicara, dan semua adalah imej dan super-realitas !” begitu kata Baudrillard.
Otak yang pada dasarnya kita gunakan untuk berpikir segala sesuatu yang memang layak untuk dipikir, telah menyimpang untuk menilai sesuatu yang selayaknya tidak perlu dipikirkan. Keindahan, kebahagiaan, kesenangan, adalah sesuatu yang tidak meminta untuk dipikirkan. Dia hanya meminta dirasa dan dinikmati. Dijalani. Semua sudah mengalir dengan sendirinya. Semua telah dikupas tuntas oleh Malcolm Gladwell (2009) dengan menggunakan terma blink sebagai ungkapan bahwa manusia bisa mengembangkan kemampuan berpikir tanpa berpikir. Inilah energi besar yang terlupakan (atau sengaja dilupakan) oleh otak. Pertanyaan besarnya adalah : bisakah otak kita gunakan tidak sekadar untuk berpikir ? tentu bisa. Asal berikan sesuai porsi mereka. Otak kiri telah diberikan kemampuan sebagai sentral berpikir manusia. Untuk sisi yang lain terkait dengan keindahan dan daya cipta kebahagiaan, telah tersedia sudut kanan untuk memamahnya. Biarkanlah dia bekerja. Rasakan saja. Ketika semua ingin dimamah oleh otak kiri, maka peradaban manusia telah didorong pada komoditas tiada henti. Sesuatu yang tak berujung. Tak pernah berhenti. Mesin komoditas telah menciptakan komoditas atas dirinya sendiri. Namanya bisa apa saja. Lengkungan emas McDonald yang lebih dikenal daripada salib kristen (Ritzer,2002), kosmetik yang menjadi acuan kecantikan (Davis, 1995; Wolf, 2004), dan hampir keseluruhan nilai seni yang telah tergusur menjadi komoditi jual beli (Smiers,2009). Inilah abad dimana bahkan seks sebagai media penerus keberlangsungan spesies manusia, telah dijadikan komoditas dengan daya jual luar biasa (Diamond, 2007).

Dengan menukik lebih dalam dari filsafat posmodern Gilles Deleuze & Felix Guattari, Yasraf Amir Piliang (2004) telah membuka pemikiran tentang pergeseran peradaban kita menuju nilai tanda (sign value). Sebuah nilai yang sungguh lentur dengan beragam makna yang terus berubah. Seiring dengan kekuatan terbesar konsumsi masyarakat itu sendiri. Masalahnya adalah, disaat semua orang terlena dengan aktualisasi diri mereka, terlena dengan narsisme mereka, tanpa sadar kita tergiring pada pinggiran peradaban tak bertujuan. Sebuah epidemi akan narsisisme yang sangat dikhawatirkan Jean M. Twenge & Keith Campbell (2009).
Akar dari semua fenomena tadi adalah saat akal dianggap memiliki kemampuan membuat segala sesuatunya bisa dipahami. Termasuk emosi. Kita merasa bahwa akal bisa mengontrol kita untuk mencapai kebaikan. Justru masalahnya adalah di saat kita merasa bisa mengontrol, kita tengah jatuh ke dalam ketidakmampuan mengontrol. Itulah batas nalar, seperti dikatakan Donald B. Calne (2005). Kreasi budaya, hasil narasi seni dan rasa, tidak cukup mampu diterjamahkan dalam bilik “kemasuk akalan”. Bila itu dipaksakan, kita memang telah jatuh dalam pemberhalaan akal pikiran. Kita kehilangan sensitifitas keindahan. Rasa tertinggi kemanusiaan. Berikutnya musnahlah peradaban ...

Bantaran Kali Kesunyian, Agustus 09

Kamis, 30 Juli 2009

Menjadi Dosen Pembimbing Lapangan KKN : Sebuah Kesalahan ?


Menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) bukanlah sebuah aktivitas favorit di kalangan dosen-dosen. Dalam satu dekade karier saya sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada, tak sekalipun saya menjumpai dosen di fakultas saya (FISIPOL) yang bangga, gembira dan rela menjadi DPL. Terbayang di mata saya bahwa menjadi DPL adalah aktivitas dosen yang kurang kerjaan. Mau bersusah-susah mengurus anak-anak mahasiswa di dusun dan kampung yang jauh dari pusat peradaban dan simbol-simbol modernitas. Merekapitulasi laporan dari mahasiswa yang sebagian besar salah. Atau aktivitas apalagi yang menjemukan dan membosankan. Itu terasa hampir dua tahun belakangan. Dan menjadi sesuatu yang tidak habis saya pikirkan, mengapa kemudian saya mau menandatangani formulir permintaan menjadi dosen pembimbing lapangan dari Dira, Ria, dan beberapa teman lain mahasiswa jurusan ilmu komunikasi 2006 pada bulan Mei 2009 lalu. Begitu gampang saja saya mengiyakan permintaan mereka untuk menjadi dosen pembimbing lapangan. Selepas menandatangani, jujur saya mulai berpikir : “ini sebuah kesalahan !”

Mereka bilang akan melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di desa Sugian, Sambelia, Lombok Timur. Mendengar nama desa itu saja baru satu kali seumur hidup saya, apalagi membayangkan tempatnya. Pasti jauh dan terpencil sekali. Semakin memikirkan hal itu, semakin pula saya berpikir bahwa telah melakukan sebuah kesalahan. “Mengapa saya tandatangani ?” itu mengganggu pikiran seiring dengan berbagai masalah yang kemudian muncul yang mengharuskan saya berurusan dengan lembaga payung yang menaungi kegiatan KKN ini, namanya Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UGM. Sebuah lembaga yang nampaknya sangat kerepotan mengurusi berbagai tetek bengek mahasiswa dikarenakan kekurangan sumber daya dan ketidakmampuan manajeman mereka. Mulailah terjadi masalah. Pertama, proposal KKN anak bimbingan saya ditolak oleh LPPM. Teman-teman mahasiswa sedih. Setelah berupaya menyusun proposal, melakukan survey ke desa Sugian, proposal mereka ditolak. Terjadi negosiasi. Akhirnya LPPM menyetujui dengan syarat teman-teman mengganti tema dan judul proposal menyesuaikan dengan apa yang diinginkan oleh LPPM. “just do it, “ komentar saya saat teman-teman menanyakan itu. Akhirnya jadilah saya sebagai DPL harus bolak-balik turun naik tiga lantai untuk datang ke kantor LPPM di gedung pusat UGM. Sampai disitu masalah selesai. Tapi dalam hati saya kembali berpikir : “sebuah kesalahan menjadi DPL !”

Masalah kedua, tentu saja erat kaitan dengan dana operasional mereka. Kebutuhan akan dana program yang hampir 80 jutaan, pada akhirnya sama sekali tidak bisa ditanggung dengan mengandalkan sponsor. Sampai menjelang keberangkatan, tidak ada sponsor yang bisa mereka dapatkan. Kapasitas saya sebagai DPL berikut berbagai kesibukan pekerjaan membuat saya tidak mampu terlibat terlalu jauh dalam upaya mencarikan sponsor. Saya hanya bisa menelpon beberapa teman dan selalu mendapat jawaban mengambang dan “masukan saja proposalnya !”. Padahal saya tahu, teman-teman KKN sangat tergantung pada dana itu untuk transport, akomodasi, dan konsumsi, berikut berjalannya program di lapangan. Waktu sudah begitu mepet. Padahal saya juga tahu bahwa keterbatasan dana akan membuat pemangkasan berbagai item di atas. Terus terang ini membuat hati saya galau dan gelisah. Dalam hati saya kembali mengumpat : “sebuah kesalahan menjadi DPL !”

Benar dugaan saya. Pemangkasan dana pertama adalah dana transportasi. Berbagai alternatif moda transport yang ditawarkan begitu jauh dari jangkauan dana teman-teman. Dengan jumlah anggota KKN sebanyak 25 orang maka perhitungan untuk naik bus dari Jogjakarta – Lombok sangat mustahil. Boro-boro naik pesawat. Janganlah menyindir saya dengan pernyataan itu. Mengapa ? dari kebutuhan 80 juta yang dianggarkan mereka, dana yang bisa mereka gunakan hanya sekitar 19 juta. Itu sudah termasuk untuk makan, program, dan transportasi. Bisa dibayangkan betapa miskinnya mereka nanti. Dan dugaan tentang kemiskinan itu berubah menjadi kenyataan setelah saya mendengar keputusan mereka tentang cara mencapai Lombok. Mereka akan menggunakan sistem estafet. Wah apa pula itu ?

Begini. Mereka akan naik kereta api ekonomi dari stasiun lempuyangan, Jogjakarta menuju stasiun Banyuwangi, sebuah stasiun yang paling dekat dengan feri penyeberangan Ketapang. Selepas itu berjalan kaki menuju pelabuhan Ketapang. Berlanjut menumpang feri penyeberangan ke Gilimanuk, Bali. Dari Gilimanuk mereka akan menumpang bus ekonomi untuk seterusnya menuju pelabuhan Padang Bai, ujung timur Bali. Dari sana akan estafet menumpang feri penyeberangan menuju Lembar, pelabuhan sebelah barat Lombok. Dari Lembar mereka akan naik angkutan kota menuju desa Sugian, Sambelia, lombok Timur, setelah melewati kota Mataram. Dengan model estafet begitu dana yang akan ditanggung setiap anggota KKN berkisar sekitar Rp. 125.000,-. Whats ? ... sebegitu murah untuk mencapai Lombok ? dari Jogja pula ? sampai disitu saya terkekeh-kekeh. Membayangkan dan membandingkannya dengan dana rekreasi yang telah dihabiskan fakultas saya dahulu untuk pergi ke Bali. Sebuah kegiatan rekreasi setiap 2 tahun sekali yang dilaksanakan oleh FISIPOL dengan melibatkan seluruh staf dosen dan keluarganya. Kebetulan saya selalu menjadi panitia. Kalau tidak salah ingat dana yang dihabiskan untuk rekreasi ke Bali saat itu sekitar 400 hingga 500 juta. Berbeda sekali dengan dana anak-anak KKN ini yang cuma 19 juta. Woalah pasti anak-anak ini akan menderita sekali di perjalanan. Sampai saat itu bahkan saya mulai berpikir : “KKN adalah sebuah kesalahan !”

Namun entah mengapa begitu diberitahu tentang model estafet itu, naluri petualang saya (yang sudah saya matikan sejak menjadi dosen) tiba-tiba tergelitik. Satu pertanyaan yang memantiknya “apa mungkin perjalanan sejauh itu bisa sebegitu murah ?” lalu bagaimana susahnya perjalanan semurah itu ? dari berbagai rasa penasaran itu akhirnya sama memutuskan untuk mencoba saja, dari pada menduga-duga dan membayangkan. Hal terpenting bagi saya adalah berupaya untuk terus empati di tengah kekurangan dana dan berbagai masalah yang muncul dalam rombongan yang notabene sudah menjadi tanggung jawab saya. Untuk itu saya putuskan untuk ikut serta dengan rombongan mereka. Well, begitulah saya mengambil keputusan. Meskipun dalam hati tetap saja membisikan “KKN adalah sebuah kesalahan !”
Kami harus berangkat selepas pemilihan presiden tanggal 8 Juli. Berangkat dari stasiun lempuyangan, Jogjakarta pagi hari tanggal 9 Juli 2009, jam 7.30 WIB. Padahal hingga tanggal 7 itu saya masih berada di Jakarta, setelah sebelumnya berada di Gorontalo, dan Makasar. Ditengah-tengah kesibukan pembagian jadwal dan manajeman waktu saya yang benar-benar buruk, tanggal 8 Juli saya harus menyoblos calon presiden RI. Sisa hari tanggal 8 itu harus saya habiskan di kantor mengerjakan policy brief sebuah draft undang-undang yang harus diajukan ke DPR RI. Ditambah malamnya saya harus mengoreksi dua mata kuliah hasil ujian akhir mahasiswa saya. Betul-betul sebuah minggu yang melelahkan. Sampai disitu saya kembali berpikir : menjadi DPL adalah sebuah kesalahan !

Begitulah, pada tanggal 9 Juli 2009. Pagi hari saya harus bangun. Padahal saya baru bisa tidur jam 3 dinihari selepas mengoreksi hasil ujian mata kuliah Psikologi Komunikasi yang tersisa. Satu tas kuning pakaian lengkap telah dipersiapkan istri saya, Erni. Sosok istri terbaik sepanjang dunia ini. Sosok istri yang sangat mengerti segala kesibukan dan kenakalan suaminya. Dia yang telah memelihara buah hati kami berdua, Harsa. Ingat Harsa, saya masuk ke kamarnya. Saya pandangi wajah gantengnya. Dua kali saya mencium kening Harsa, anak saya semata wayang yang masih lelap dalam mimpi. Dia baru berusia tiga tahun. Terlalu sering ditinggal pergi ayahnya. Mungkin nanti dia akan bertanya-tanya mengapa ayah selalu pergi ? saya tepis segala lamunan cengeng di kepala, lalu memanggul tas berisi laptop dan beragam dokumen lain. Saya minta diantar istri naik sepeda motor untuk sampai ke Lempuyangan. Cuma butuh 3 menit. Rumah saya dekat sekali dengan stasiun itu. Sesampai di sana, saya jumpai wajah-wajah ceria dan semangat dahsyat ke 23 teman mahasiswa. Oh iya, dari 25 orang anggota KKN, yang kemudian memastikan untuk ikut serta hanya tinggal 23 orang. Beragam masalah dan kesibukan membuat dua orang mengundurkan diri. Tak mengapa. Yang tersisa sudah lebih dari cukup untuk menjadi satu rombongan luar biasa. Itu faktanya. Mereka penuh canda. Gembira. Memanggul tas masing-masing berikut membantu membawakan tas temannya. Saya segera bergabung dengan mereka. Sambil di telinga saya terdengar bisik lirih : “yakinlah, menjadi DPL bukanlah sebuah kesalahan !”

Jam 07.30 WIB tepat kereta ekonomi yang penuh dengan manusia itu berangkat. Berderak-derak. Aku duduk ditengah-tengah mahasiswa. Mereka membawa banyak makanan rakyat. Membawa kebahagiaan. Sama sekali tidak terlihat canggung dan menyesali keadaan. Inilah model transportasi rakyat Indonesia. Sampai di titik itu saya malu dengan mereka. Malu dengan kesungguhan hati mereka. Betapa sangat berbeda dengan saat saya menikmati perjalanan ke Gorontalo, Makasar, Jakarta, Singapura, yang sama sekali tidak menyisakan kesusahan. Semua sudah tersedia. Duduk manis dalam pesawat. Dijemput dengan mobil berpendingin buatan. Tidur nyenyak di kamar hotel berbintang empat. Sungguh kontras. Tapi mungkin itulah dunia. Perbedaan menjadi niscaya. Tinggal keinginan untuk berempati dan mau merasakan kehidupan orang lain. Dan itu nampak pada tekad dan semangat teman-teman mahasiswa. Mereka telah memberi pelajaran tentang kesusahan dan kebersamaan. Sampai di sini dalam hati saya berkata : “KKN bukanlah sebuah kesalahan !”

Butuh waktu satu hari penuh untuk menyelesaikan perjalanan hingga tiba di stasiun Banyuwangi. Rombongan baru tiba di statiun Banyuwangi pada jam 22.00 WIB. Maklumlah, kereta ekonomi harus mampir-mampir dulu di Surabaya setelah beberapa stasiun kecil sepanjang perjalanan dari Jogja. Persis seperti bus ekonomi yang selalu berhenti setiap ada lambaian tangan penumpang di pinggir jalan. Tak perduli di manapun tempatnya. Dalam hati saya bergumam, untung kereta api tidak perlu berhenti di sembarang tempat semaunya sang Masinis. Dia hanya berhenti di setiap stasiun saja. Merskipun itu adalah satu-satunya faktor yang membuat perjalanan menjadi sangat lama bila dibandingkan dengan menumpang kereta api eksekutif. Beragam pikiran itu terus berkecamuk dalam hati sepanjang perjalanan, diantara tawa ramai dan terbahak-bahak teman-teman KKN. Pada saat itu barulah saya tahu betapa susahnya untuk buang air kecil alias kencing dalam perjalanan kerata api kelas ekonomi. Dalam satu kesempatan, karena tidak mampu lagi menahan tekanan dan kodrat alami untuk pipis, saya mencoba bergerak menuju toilet. Di sela-sela kursi manusia penuh berdesak-desakan, saya harus menerobos dengan resiko berkali-kali menginjak kaki manusia. Tentu saja ada makian dan protes karena kakinya saya injak. Dan itu terjadi lebih dari tiga kali. Saya Cuma tersenyum dan minta maaf sambil terus bergerak menuju toilet yang terdapat persis di sambungan antar gerbong. Setelah berjuang lebih dari 15 menit, saya mencapai ujung gerbong. Saya tersenyum mengingat jarak kursi tempat duduk saya hanya berkisar tiga meter dari sambungan gerbong tempat toilet berada. Saya tempuh lebih dari 15 menit dengan keringat membanjir. “Luar biasa !” gumam saya dalam hati. Meski begitu hati saya sungguh gembira, sebentar lagi acara buang hajat saya pasti terlaksana. Indahnya dunia !! saya bergegas menuju pintu toilet sebelah kiri, dan melengok ke dalam karena pintu toilet dalam posisi terbuka dengan tiga atau empat orang berdesakan di depannya. Mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah karung besar sekali yang nangkring di atas dudukan toilet. Disampingnya berdiri santai seorang tua sambil memegangi karung itu. Sebuah tindakan simbolis untuk menyatakan bahwa karung itu miliknya. Bagi saya tindakan itu juga sekaligus ingin menegaskan bahwa toilet berikut dudukan dan seisinya telah menjadi kuasa dia. Saya menatap dan mencoba tersenyum padanya. Berharap dia mengerti keinginan buang hajat ini. Wajah bapak itu dingin. Tak ada senyum. Melengos. Cukup untuk mengomunikasikan ketidakrelaan berbagi istana kecil seukuran 1 meter persegi itu. Hukum rimba telah terjadi. Dan dalam hati saya cuma bergumam “batalkan saja niat buang hajat itu bung !” sambil ditambah, “daripada cari ribut ?” . sekelebat pemikiran itu membuat saya menelan kembali senyum saya. Nyengir dan berbalik posisi kembali ke tempat duduk saya. Kursi no 15 D gerbong 2. Dalam hati terbersit : “DPL yang malang !”. Berjuanglah menahan hajat kecilmu itu ! Kereta terus melaju dengan tangis dan rengekan anak kecil yang menambah keakraban suasana. Suasana sebagai rakyat kecil yang harus rela dengan fasilitas tak seberapa. Dalam hati saya menghibur diri. Paling tidak saya tidak sendirian terjebak dalam labirin kasta struktural masyarakat negeri ini. Sisa perjalanan masih harus ditempuh enam jam lagi. Hati saya berbisik : “sebuah kesalahan naik kereta api kelas ekonomi !”

Pukul 23.00 WIB kereta sampai di Banyuwangi. Stasiun tujuan akhir kereta ini. Hari sudah gelap dan sepi. 23 orang anggota rombongan turun dan harus memanggul tas masing-masing untuk berjalan sejauh 500 meter menuju pelabuhan Ketapang. Bagi mereka nampak sudah biasa. Namun tidak bagi saya. Setelah 10 tahun tidak lagi menjadi mahasiswa, dan terlanjur dimanjakan oleh berbagai fasilitas sebagai dosen, tentu memanggul tas dan berjalan sejauh itu bukanlah sesuatu yang biasa bagi saya. Tetap aja megap-megap dan berat he he he .Hanya prinsip dramaturgi dan manajeman kesan yang membuat saya tidak menunjukkan perilaku yang mengendorkan semangat mereka. Sampai di pelabuhan Ketapang, rombongan hanya tinggal membayar 5.700 per orang untuk sampai ke Gilimanuk, Bali. Perjalanan menyeberang ditempuh lebih dari satu jam. Tentu saja mata saya mengantuk. Tapi mimpi tentang tidur nyenyak akan tetap sebagai mimpi. Setelah makan dan merokok, sisa waktu saya habiskan dengan membaca buku. Buku tentang dokter yang melawan aturan dunia kesehatan. Cerita yang akan menjadi bahan presentasi saya nanti dalam pelatihan tentang komunikasi kesehatan di fakultas kedokteran. Feri penyeberangan yang membawa kami merapat ke Gilimanuk pukul 1 tengah malam waktu Bali.Lagi-lagi rombongan kecil ini harus berjalan sekian puluh meter menuju terminal di Gilimanuk. Sebuah bus kelas ekonomi sudah menanti. Tarif senilai Rp. 35.000,- tentu lebih murah ketimbang Rp.200.000,- apabila kami langsung naik bus dari Ketapang tadi. Anak-anak ini memang super irit. Mungkin juga pelit he he he...

Pukul 2 dinihari bus bergerak. Saya sudah tidak bisa bicara lagi. Antimo yang 15 menit sebelumnya telah saya telan mulai menunjukkan pengaruhnya. Saya langsung tertidur. Mungkin lebih tepat disebut pingsan. Kelelahan. Sudah tidak terasa lagi bagaimana lajunya bus itu. Mata saya terbuka saat bus sudah sampai di pelabuhan penyeberangan Padang Bai, ujung timur pulau Bali. Dari situ kami bisa naik feri penyeberangan seharga Rp. 31.000,- menuju Lembar (dibaca seperti kita mengucapkan huruf ‘e kedua’ pada kata sepeda !). Pelabuhan paling barat pulau Lombok. Menurut keterangan mahasiswa, dalam kondisi laut tenang perjalanan menuju Lembar bisa diarungi selama 4 jam. Namun bila laut menggila, kita harus siap lebih dari 6 jam. Sebuah perjalanan yang melelahkan. Ini hari Jum’at. Ada ritual sholat Jum’at bagi umat Islam. Tapi katanya musafir tak diharuskan untuk sholat Jum’at. Saya tersenyum. Mungkin sudah lebih dari dua tahun tidak pernah sholat Jum’at.

Pukul 8 pagi feri penyeberangan siap diberangkatkan. Selepas sarapan saya dan semua anggota KKN ini masuk ke feri. Menikmati perjalanan 4 jam saya isi sepenuhnya dengan tidur dan membaca. Selepas tengah hari tibalah kami di Lembar. 24 orang ini turun dan mengepak barang masing-masing menuju angkot yang khusus kami carter yang akan membawa kami menuju desa Sugian, Sambelia. Saya sama sekali tidak memiliki bayangan bagaimana wujud desa tersebut. Yang saya nikmati sepenuhnya adalah semangat dan canda yang tiada henti meluncur dari mulut teman-teman mahasiswa. Jawaban atas ketidaktahuan itu saya dapat mulai empat jam kemudian setibanya kami di Sugian. Sebuah desa yang tepat berada di tepi laut. Dari desa ini kita bisa melihat permukaan laut yang rata dengan tanah. Membiru di mana-mana. Begitu indah. Sulit digambarkan dengan kata-kata. Rencananya desa ini akan terus diproyeksikan menjadi salah satu desa wisata di kepulauan Lombok. Empat hari lamanya saya menginap di desa itu. Beragam kenangan dan pelajaran saya dapat. Semakin banyak pengalaman berbaur dengan para mahasiswa, semakin hati saya berbisik : begitu banyak pelajaran yang didapat dari KKN. Daya tempa semangat. Kekuatan pembentuk mental dan karakter. Membina teamwork. Saling menghargai antar teman. Dan saya yakin dalam dua bulan mereka di desa tersebut, akan banyak sekali pelajaran hidup yang mereka dapat. Mengapa ? karena hanya dalam empat hari di sana, saya sendiri mendapat begitu banyak pelajaran berguna untuk hidup. Perlahan tapi pasti hati saya berbisik, “menjadi DPL bukanlah sebuah kesalahan !” .... terima kasih teman-teman ..

Sugian, Sambelia, 12 Juli 09

Kamis, 18 Juni 2009

Adakah Surga di Bumi ?

Apakah yang akan terjadi andai saja, surga yang didengungkan akan didapatkan orang beriman setelah mati itu dipindahkan dan hadir di bumi ini ? wow, tentu sebuah pertanyaan yang menarik, sekaligus juga memiliki implikasi keimanan serius. Aku bahkan sempat berpikir bahwa seluruh sisi baik manusia, seluruh amalan manusia di dunia, seluruh upaya berbuat kebajikan manusia di sini, semuanya dalam rangka membangun sebuah fondasi keterimaan mereka di surga. Hanya gara-gara ada surgalah kemudian manusia menjadi terpacu untuk berbuat kebajikan dan menahan diri untuk tidak berbuat kerusakan. Formulasi kunci untuk memahami dan menjadi landasan aksiologis atas itu adalah agama. Agama adalah pencerita terbaik tentang keberadaan surga dan neraka. Agama sekaligus juga pendongeng yang cakap atas segala ketakwaan nabi-nabi dan rasul-rasul. Agama memang luar biasa. Agama juga yang menjelaskan tentang konsep surga yang baru kita dapatkan setelah kita menjalani kematian. Dia berbeda dimensi dengan kehidupan di dunia ini.

Logika surga yang ditawarkan selepas kita menemui kematian itu terkadang menyerupai tempat, terkadang menyerupai perasaan, terkadang menyerupai hasrat. Dan begitu banyak lagi tentang konsep surga ditawarkan dalam berbagai kitab suci. Semua selalu berbanding terbalik dengan neraka. Keduanya adalah binary opposition satu dengan yang lainnya. Semua digambarkan akan kita dapatkan selepas kita melepas nyawa dan roh kita. Lalu adakah yang percaya bahwa surga akan hadir di dunia ? Pastilah ada. Sosok anak kecil yang digambarkan Vittorio Hosle memiliki kemampuan nalar yang mencengangkan para filosof. Seorang bocah perempuan 11 tahun dengan kemampuan filosofis tingkat tinggi. Dan digambarkan telah membuat para filosof itu sangat merindukan surat-suratnya. Namanya Nora K. Semua korespondensi mereka berdua dibukukan dengan judul “Das Cafe Der Toten Philosophen”. Buku ini dicetak edisi Inggris tahun 2004, namun di-Indonesiakan baru tahun 2007.
Kembali pada ide surga di bumi. Nora K. sangat percaya bahwa nanti akan tercipta surga di bumi. Artinya kita tidak perlu harus menunggu-nunggu kematian untuk hanya merasakan surga. Tidak mencari-cari mati seperti para santri kanjeng Syekh Siti Jennar. Surga bisa muncul dibumi. Minimal karena dua alasan yang dikemukakan Nora K. Pertama, surga pastilah untuk manusia, dan karenanya ia mesti dapat dipahami oleh kita sebagai manusia. Kedua, apa makna penciptaan bumi apabila taman surga bukan datang dari sini ?

Apa yang terpikir oleh Nora saat menyebutkan bahwa surga pasti diciptakan Tuhan untuk manusia ? karena menurutnya untuk memahami surga pastilah seseorang (atau sesuatu) harus memiliki akal pikiran terlebih dahulu. Justru karena dia punya akal pikiranlah maka dia memahami prinsip oposisi biner antara kebaikan dan keburukan, antara kebajikan dan kejahatan. Dan itu pasti hanya terdapat pada diri manusia. Coba aja tanya pada srigala, macan, harimau, atau (yang paling dekat dengan spesies kita) simpanse, apakah mereka itu mengenal surga ? jangankan menjawab, mengerti pertanyaan anda saja binatang-binatang ini tidak mampu. Karena mereka binatang ! tak punya akal pikiran ! untuk itulah ketika gambaran binatang yang serba tak berakal ini dibalik penjelasannya oleh Garth Stein dalam novel inspiratifnya “The Art of Racing in The Rain” (2008) banyak sekali orang yang meneteskan air mata saat membacanya. Seekor anjing yang bernama Enzo telah mengambil alih peran seorang filsuf untuk menjelaskan dan memaknai kehidupan dirinya. Sebuah sindiran telak untuk manusia yang sudah terlalu lupa untuk mencandra diri dan kehidupannya sendiri. Karena sudah terlalu lupa dengan diri sebagai manusia, maka mereka bahkan sudah bersikap dan berperilaku tak lebih daripada seekor anjing !

Binatang, kata Nora, tak pernah terlalu sibuk berpikir dan merenung tentang neraka dan surga. Mereka pasrah menjalani takdirnya. Tak ada dinamika dalam kehidupan mereka. Jadi untuk apa mereka terlalu resah dengan surga dan neraka ? hanya manusia yang memiliki kehendak bebas (free will) dan layak ditagih oleh Tuhan sebagai implikasi kebebasan berkehendaknya itu. Jadi karena hanya manusia yang sibuk dengan telaah dan repot dengan surga dan neraka itu, pastilah surga itu juga diciptakan untuk manusia.

Pertanyaan menarik untuk Adam sebagai manusia pertama adalah : mengapa Tuhan memilih bumi sebagai “kurungan” dan penjara setelah dia melanggar perintah Tuhan ? Bumi dipilih agar manusia seperti Adam dipastikan kuat menjalani masa hukuman tersebut. Ingat, Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melebihi daya tahan makhluknya ! saya bayangkan andai waktu itu Adam dan Hawa dilempar ke Jupiter, pastilah siang dan malam kita akan lebih panjang (betapa lamanya menahan lapar saat puasa he he he). Atau mereka berdua dilemparkan ke Markurius saja, tak bisa dibayangkan betapa uniknya tubuh kita, karena penuh pijaran listrik dari cipratan energi matahari yang membara saking dekatnya (betapa uniknya baju dan celana kita, he he he ).

Bumi dipilih tentu dengan sebuah pertimbangan maha cerdas. Bumi dipilih tentu dengan sebuah alasan masuk akal. Di planet bumi inilah manusia diberi pilihan untuk menciptakan surga dan nerakanya sendiri. Untuk itulah bagi seorang James Canton (2009) yang menulis buku “The Extreme Future”, menjadi kebebasan penuh bagi manusia untuk membangun surga atau neraka di muka bumi ini. Kita hancurkan bumi dengan rasa penasaran atas ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa mau lebih menahan diri untuk menjaganya, maka neraka akan segera tercipta. Kehancuran ekosistem, kehancuran habitat, penggundulan hutan, penggunaan senyawa kimia, pemanasan global, hingga ribuan contoh-contoh lain yang membuat Canton yakin kita hanya mengulang-ulang cerita “ingin tahu”nya Adam saja. Ujung dari rasa ingin tahu berlebihan itu akan melemparkan kita pada jurang hukuman persis seperti saat Adam dihukum Tuhan hijrah dari surga ke bumi. Jadi bagi seorang Nora, surga bisa kita ciptakan di bumi. Artinya seluruh sifat surga yang indah, nyaman, dan nikmat bisa kita ciptakan di sini, di bumi ini. Apa syaratnya ? asal kita sama-sama mau saja.

Masalah keinginan untuk menciptakan bumi yang seperti surga inilah dalam sejarah peradabannya mendistorsi peran manusia dalam kelindan ilmu pengetahuan dan keimanan. Persis yang digambarkan oleh Angels & Demons bahwa pertikaian antara agama dan ilmu pada dasarnya dengan tujuan yang sama : kemaslahatan seluruh umat manusia. Selama ini ilmu dipandang membawa petaka karena sifat rakus dan keras kepalanya (bahkan melawan dalil atas tuhan). Selama itu pula agama dipandang menggariskan sejarah ketololannya sendiri dalam menerjemahkan petanda alam, sehingga muncul kepasrahan dan kedunguan yang menghentikan eksistensi manusia sebagai homo sapiens.

Surga bukanlah konsep tempat. Surga adalah suasana. Surga adalah rasa. Kenyamanan, ketentraman, penghargaan, dan kasih sayang berlimpah. Kalau cuma itu yang selalu digambarkan tentang surga, maka mungkin kita bisa mengonstruksi surga itu di sini, di bumi ini. Hidup terus damai dengan orang lain, tanpa mengobarkan kebencian. Hidup terus belajar untuk mencapai kepintaran memudahkan proses hidup yang pendek ini. Hidup dengan terus menghargai karya orang lain. Memberikan diri untuk terbuka pada orang lain dengan mengikis habis prasangka buruk dalam hati. Begitu banyak energi yang bisa dibangkitkan untuk “menciptakan” surga itu. Masalah utamanya hanya satu : kita memang tidak pernah mau belajar dari sejarah yang sudah-sudah ! kita hanya mengulang cerita yang sama berkali-kali tanpa kita menyadari. Jadi sekarang aku tahu mengapa lewat surat-suratnya Nora K. mampu menghipnotis dan membuat kagum para filsuf. Anak kecil itu telah mengajarkan sesuatu yang bahkan tidak sempat terpikirkan oleh para filsuf besar tadi, karena mereka terlalu asyik dengan egonya sendiri-sendiri. Nora telah mentransformasi pemikiran para filsuf. Ide esensialnya adalah kalau memang kita mampu mengapa tidak berupaya menciptakan surga di bumi saja ? tak berlebihan memang. Terima kasih Nora ....

Baturetno, Juni 09

Sabtu, 30 Mei 2009

Harsa dan Narsisisme ?

Selalu saja ada yang menarik setiap kali menghabiskan waktu bersama Harsa, anakku. Terkadang aku baru menyadari bahwa dunia anak-anak adalah dunia dimana simbol bermain dengan kebebasan sepenuhnya telah tercipta. Pada dunia anaklah segala macam “dunia” bisa diciptakannya. Ia bisa manganggap apapun menjadi sesuatu apapun juga. Tak terbatasi oleh kungkungan rasionalitas dan emosionalitas. Dua hal yang selalu mendera manusia dewasa, yang tak pernah sadar hidup hanya dikendalikan oleh egonya. Itulah Harsa. Hari ini tanggal 31 Mei 2009 mungkin dia tidak pernah tahu bahwa dia sudah berumur tiga tahun tujuh bulan. Usia yang masih sangat muda. Selalu menjanjikan permainan demi permainan. Homo luden dalam tataran sangat awal. Akupun terkadang ikut larut dalam permainan dunianya. Ikut tertawa bersamanya. Kadang menuntaskan kejengkelan dengan menghardiknya (ini seh terbawa gejala hipertensiku .. he he he). Sangat membanggakan apabila dia berperilaku nakal dan unik sebagai sebuah ciri khas. Dunia Harsa memang menarik. Sama menariknya dengan dunia anak-anak lain. Namun ada satu kebiasaan Harsa yang menurutku sangat unik. Dia sangat menikmati ketika mamandang dirinya di cermin atau foto dirinya sebagai hasil japretan istriku, Erni.
Perilaku sangat menikmati wajah dirinya dicermin, lalu kemudian senyam-senyum sendiri sering membuatku terkekeh-kekeh karena gembira. Dia telah belajar langsung teori fase cermin dari Jacques Lacan (Bracher, 1997). Dia mengenal dirinya, sekaligus menikmati dirinya dalam sebingkai cermin. Sekalipun mungkin nanti setelah dia besar aku akan menjelaskan bahwa yang muncul dicermin itu bukanlah dirinya. Itulah diri konstruksi. Tapi itu mungkin nanti saja, setelah dia dewasa dan mau mengerti tentang diri. Saat ini dia masih terlalu kecil. Harsa memang suka bercermin. Suka menikmati wajah dirinya. Mungkin dia menemukan keasyikan tersendiri ketika berinteraksi dengan “dirinya” yang lain, sosok yang muncul di cermin. Tapi secara awam orang akan mengkategorikan perilaku itu sebagai manifestasi narsis atas diri. Sebuah kata dari labirin psikoanalisis Freudian. Narsisisme diambil dari mite Narcissus dari Yunani. Kata itu bisa menunjuk pada sebuah perversi seksual dimana orang memperlakukan tubuhnya sendiri seperti obyek seks yang didambakan. Pengertian lain mengatakan bahwa narsisme merupakan investasi libido apapun di dalamnya karena itu kateksis dari aspek diri yang berlawanan dengan obyek eksternal. Narsisisme bukanlah patologi. Di dalamnya tersimpan sejuta energi percaya diri. “Mending narsis ketimbang minder”, katanya sih begitu. Kata terakhir ini menciptakan sosok-sosok yang neurosis secara sosial.

Namun dengan segala keyakinanku, aku berani mengatakan Harsa tidaklah terperangkap dalam neurosis demikian. Yang terjadi saat ini pada dirinya hanyalah sebatas senang melihat diri yang lain yang muncul di cermin. Tak kurang tak lebih. Membayangkan apabila nanti setelah dia besar aku akan bercerita gaya nakal dan genit dia di depan cermin tentu akan membuat kesan romantisme tersendiri dalam dirinya. Biasanya kita akan sangat ingin tahu seperti apa kita saat masih kecil. Saat mana tak satupun dari peristiwa-peristiwa itu sempat terekam oleh otak kita. Mengingat otak kita baru bisa merekam sempurna saat kita berumur empat hingga lima tahun. Nah tahun-tahun sebelum itu lebih banyak dinamakan fase “kegelapan” dalam diri kita. Kita tak tahu dunia. Kita tak terlalu bisa membedakan mana paman, ayah, dan bahkan kakek. Secara instingtif kita hanya merasa bahwa salah satu lebih lembut dan lebih sayang dibanding lain. Semua berdasarkan instingtif semata. Otak belum bisa banyak membantu. Dia berkembang seiring waktu. Tapi percayalah, bahwa justru saat-saat itulah saat yang paling menarik dan terindah dalam hidup. Saat mana kita tak memiliki kehendak bebas. Otomatis itu menjadi saat-saat dimana kita tidak dituntut untuk bertanggung jawab atas apapun yang kita lakukan. Merdeka seutuhnya. Egois sepenuhnya. Memang enak menjadi manusia tanpa tanggung jawab. Harsa berada dalam fase itu. Aku selalu suka memproyeksikan diriku seperti halnya dia. Membayangkan betapa aku sangat disayang, dimanja, dituruti kemauannya oleh ayah, ibu, dan kakak-kakakku. Harsa memiliki kekurangan dibanding diriku yang ditakdirkan lahir sebagai anak bungsu. Kakakku sembilan. Aku sendiri anak ke sepuluh. Harsa anak sulung. Dia tidak memiliki kakak. Persis seperti takdir istriku yang terlahir sebagai anak sulung. Biasanya mereka adalah orang-orang yang tegar. Tak mau bermanja-manja. Tahan terhadap cobaan dan tantangan. Berbeda 180 derajat dengan anak bungsu sepertiku. Anak sulung akan labih cenderung merasa dirinya berkuasa atas adik-adiknya. Dia memiliki beban lebih berat dalam menempuh hidup. Mungkin Harsa akan menjadi seperti itu. Terlepas dari mampu atau tidaknya dia, harapanku cuma agar dia tidak pernah terdikte untuk menjadi “sosok lain” dari apa yang dirasa nyaman olehnya. Baiklah ..... kita kembali pada ide awal tulisanku kali ini. Sebuah tulisan yang berupaya menjelaskan seberapa besar ide dan perilaku narsis melekat dalam diri anak sulungku itu. Harsa yang narsis. Sekaligus juga mengoreksi kesalahan terminologi dan konseptual yang terus berlangsung hingga hari ini atas kata “narsis”.
Asal Mula ...

Narsisisme diambil dari mite Narcissus dari Yunani, yang berkembang menjadi batasan akan perversi seksual, dimana orang memperlakukan tubuhnya sendiri seperti obyek seks yang didambakan. Dalam teori Freud, investasi libido atas apapun di dalamnya yang mengakibatkan terjadinya kateksis dari aspek diri yang berlawanan dengan obyek eksternal. Kebanyakan orang mengira bahwa narsis ini patologis. Namun sesungguhnya dia bukanlah sesuatu yang merugikan dan bisa dimaknai sebuah “kekurang normalan”. Dia diperlukan untuk mencari dan mengidentifikasi diri dalam konteks membina relasi dengan lingkungan sosial dan orang lain. Setiap kita membutuhkan sejumput narsis. Tentu agar memahami apa nilai lebih dan kekuatan kita. Pemahaman yang saya kutip dari Ensiklopedi Psikologi (1996) yang disusun Rom Harre & Roger Lamb tadi mensiratkan kompleksitas yang diemban oleh terminologi narsis dan narsisisme tadi. Kesalahan terbesar biasanya bermula ketika kita memberikan muatan negatif atas kata itu.

Gambaran sederhana tentang narsisisme ini diberikan oleh Jeremy Holmes (2003) dalam bukunya Narcissism. Kata itu mewujud nyata dalam bentuk cermin yang kita pandang setiap hari. Kita sering sekali dibuat kagum oleh cermin. Mengapa ? kita asyik mengagumi diri kita saat bercermin. Cermin merupakan objek yang seketika berubah menjadi subjek saat kita sudah terpaku berdiri dihadapannya. Muncul dua rasa yang berbeda, suka cita atau kengerian tiada tara. Yang pertama dirasakan oleh seseorang yang merasa yakin bahwa dirinya menarik, pantas, bangga atas elemen dan tekstrur wajah dan tubuh yang hadir dalam cermin dihadapannya. Sementara rasa kedua muncul dari ketidakrelaan menerima sosok yang ada di dalam cermin dikarenakan dia tidak sesuai dengan “diri ideal” yang dicitrakan dalam media dan konsensus masyarakat. Holmes menyebutkan inilah sisi dilematis dari narsisisme. Pemahaman narsisisme lebih mengacu pada tindak lanjut dari rasa yang pertama. Apakah seseorang yang merasa yakin akan kejelekan wajahnya mau berlama-lama bercermin dan mematut diri ? apakah seseorang yang rusak sebagian besar wajahnya mau berlama-lama di depan cermin ? Dia benci cermin. Itu manifestasi benci dengan keadaan dirinya. Mungkin setelah kecelakaan pertama yang menimpa dirinya sebelum dia mati karena narkoba, salah satu barang yang paling dibenci Alda Risma adalah cermin. Mengapa ? karena kecelakaan itu telah menghancurkan wajah ayu dan melankolisnya. Kenyataan yang membuat dia mencari pelarian dan terjerat lebih dalam pada narkoba, berujung maut yang menimpa. Sejak Havelock Ellis pada akhir abad ke-19 sebagai seorang seksologis menjadi orang pertama yang menghubungkan mitos Narcissus klasik dengan hambatan psikologis, maka sejak saat itu kajian tentang narsisisme menyeruak ke dalam ranah kesadaran manusia akan hakekat dirinya. Secara teoritis, aliran psikologi yang cukup serius mengurai narsisisme adalah psikoanalisis.

Penjelasan Psikoanalisis ...

Dalam upaya menjelaskan tentang konsep tersebut, Freud (2006: 478-479) sendiri membedakan antara konsep narsisisme yang dibandingkan dengan konsep egoisme. Menurutnya, narsisisme adalah pelengkap libidinal egoisme. Ketika kita berbicara tentang egoisme, kita sedang berpikir hanya tentang orang yang bersangkutan, narsisisme juga berhubungan dengan pemuasan kebutuhan libidinalnya. Adalah mungkin untuk menindaklanjuti keduanya secara terpisah untuk jarak yang cukup jauh sebagai motif praktis dalam kehidupan. Seseorang mungkin secara mutlak egoistis tetapi memiliki keterikatan libido yang kuat dengan objek, sejauh pemuasan libido dalam sebuah objek merupakan kebutuhan egonya. Egoismenya kemudian akan melihat bahwa keinginannya terhadap objek tidak melukai egonya. Seseorang mungkin egoistis dan pada waktu yang sama juga sangat narsisistik (yaitu tidak merasa butuh terhadap objek), dan ini terjadi lagi entah dalam bentuk yang diambil oleh kebutuhan akan pemuasan seksual langsung atau dalam bentuk perasaan yang lebih tinggi yang berasal dari kebutuhan seksual yang secara umum disebut “cinta”, dan dengan cara tersebut dikontraskan dengan “sensualitas”. Dalam semua situasi ini egoisme adalah unsur yang jelas dengan sindirinya dan konstan, dan narsisisme variabelnya.

Gagasan psikoanalisis tentang narsisisme bisa dibagi ke dalam tiga bagian yang berbeda : narsisisme libidinal (berkaitan dengan libido), narsisisme destruktif (bersifat merusak), dan narsisisme yang sehat. Tak penting untuk terlalu mengungkap mana dari tiga bagian itu yang telah secara prinsipil layak diwaspadai, seperti yang dikatakan Freud bahwa narsisisme destruktif akan membawa pada kehancuran. Namun secara psikologis masyarakat Amerika saat ini tengah kebingungan dengan sebuah epidemi narsisisme sebagai buah dari over-confidence mereka sendiri. Seperti ditulis dengan cerdas oleh Twenge & Campbell (2009) bahwa over-confidence dalam masyarakat AS akan menciptakan fenomena sama seperti halnya obesitas. Penikmatan atas konsumsi makanan menciptakan generasi yang selalu bermasalah dengan berat badan. Mereka menyadari kelebihan berat badan akan bermasalah bukan cuma secara sosial, namun juga akan berbuah kematian. Tapi anehnya mereka menemukan dan menyadari itu setelah habis-habisan mempraktekkan pola konsumsi yang tidak sehat. Seperti itulah narsisme yang muncul karena kita habis-habisan ingin memperoleh dan mendapatkan confidence atas diri kita. Hasilnya adalah over-confidence. Kegelisahan atas epidemi narsisisme ini dituangkan dalam buku mereka untuk mengingatkan akan bahaya kepercayaan diri yang terlalu berlebihan justru akan menciptakan masyarakat anarki. Tidak ada lagi sosok yang mau menjadi anak buah. Semua ingin jadi pemimpin !

Kembali pada kebiasaan bercermin si Harsa, anakku. Sungguh aku yakin bahwa dia tidak akan menjadi sosok pencipta masyarakat seperti yang dikatakan Twenge & Campbell di atas. Dia hanya menikmati cermin sebatas have fun anak kecil yang selalu asyik dengan dunia interaksionisme simboliknya. Semoga memang demikian .....

Referensi :

Bracher, Mark (1997). Lacan, Discourse, and Social Change : A Psychoanalytic Cultural Criticism, Cornel University Press, New York.

Freud, Sigmund, (2006). Pengantar Umum Psikonalisis Sigmund Freud, Penerjemah Haris Setiowati, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Holmes, Jeremy (2003). Narsisisme, Penerjemah Basuki Heri Winarno, Penerbit Pohon Sukma, Jogjakarta.

Twenge, Jean M., & W. Keith Campbell, (2009). The Narcissism Epidemic : Living in the Age of Entitlement, Free Press, New York.

Selasa, 26 Mei 2009

Ilmuwan dan Penguasa : Relasi Pemanfaatan ?

Sebagai seorang manusia yang mencoba mengabdikan dirinya sebagai ilmuwan, aku ingin berkeluh kesah sambil menelisik sejarah. Tentang kehidupan ilmuwan yang ternyata tidak juga berubah. Ada fakta menarik ditengah-tengah sejarah barbarisme para Khalifah Abbasiyah yang memerintah Islam setelah beberapa abad kematian Nabi Muhammad. Sudah menjadi fakta sejarah bahwa para penguasa dan khalifah saat itu menggunakan pendekatan Marchavelian dalam menjalankan kekuasaan. Gunakan cara apapun untuk mempertahankan kekuasaan. Tak penting menilai cara, yang penting hasilnya ! Imbas prinsip itu juga menelan banyak korban para ilmuwan Islam. Sebagai gambaran adalah ketika khalifah al-Manshur memerintah sebagai barisan dinasti Abbasiyah.

Banyak sekali jumlah para fuqaha atau imam besar Islam di masa khalifah al-Manshur. Tersebutlah Abu Hanifah, Imam Malik, al-Auza’i, Umar bin Ubaid, Sufyan as-Tsauri, Ubbad bin Katsir, Ja’far bin Muhammad as-Shadiq, dan lain-lain. Rata-rata mendapatkan penyiksaan, andai mereka berseberangan dengan penguasa. Abu Hanifah disiksa dengan cara dikurung, dicambuk, dan akhirnya diracuni hingga mati, hanya karena Abu Hanifah menolak untuk memimpin peradilan masanya. Penyiksaan al-Manshur terhadap Imam Malik, dengan cara melecutnya dalam kondisi telanjang bulat agar ia merasa terhina, tidak lain karena Imam Malik menyebutkan hadis yang tidak disukai al-Manshur. Namun cerita itu belumlah seberapa. Yang paling tragis adalah perlakuan yang diterima oleh ulama Ibnu Muqaffa.

Sosok ahli fiqih ini mengirimkan sebuah buku tipis kepada al-Manshur. Judulnya Risalah al-tahabah (Risalah tentang para sahabat). Di situ tertulis antara lain nasihat untuk khalifah agar pandai-pandai memilih para pembantu dan memperbaiki sistem pengelolaan masyarakatnya. Meski nasihat disampaikan dengan bahasa yang sangat santun, namun tanggapan al-Manshur menunjukkan betapa isi buku itu begitu menyinggung urat-urat kekuasaan dia. Bagi al-Manshur fungsi tertinggi dari seorang sastrawan adalah menyampaikan puja-puji. Peranan terakhir seorang pemikir tak lain dan tak bukan adalah memberi legitimasi. Bila melenceng dari itu, apalagi mengeritik penguasa, maka layak diberi pelajaran ! Ibnu Muqaffa ditangkap. Tungkai dan lengannya dicincang satu per satu. Potongan dagingnya dipanggang di atas bara api, tepat dihadapannya. Karena saat dicincang tangannya itu Muqaffa masih hidup. Dia masih bernapas ! setelah potongan daging itu matang, satu persatu pula daging panggang itu dijejalkan ke mulutnya. Dia harus memakan daging tangannya sendiri ! Ibnu al – Muqaffa menjalani penderitaan tiada tara sampai ajal pun menjemputnya. Apakah anda masih dapat membayangkan peristiwa itu bisa terjadi di abad modern ini ? rasa-rasanya sekeblinger-blingernya George W. Bush, sebrengseknya Saddam Husain, atau sekejam-kejamnya Hitler, mereka tidak pernah memiliki daya kreatifitas sehebat al-Manshur dalam memberikan hukuman. Kita bangga, kita jauh lebih beradab. Memang tak salah Islam diturunkan di tanah Arab. Sebuah tanah dimana kedunguan dan kezaliman menemukan habitatnya. Celakanya, apa yang kita dengar dari buku sejarah tentang al-Manshur ? cerita penyiksaan tadi tidak pernah ditulis. Yang ada cuma al-Manshur adalah seorang negarawan besar. Pemberi jalan terang bagi kekhalifahan dinasty Abbasiyah.

Sejarah memang milik para pemenang. Pihak yang kalah tidak memiliki kuasa dalam menuliskan sejarah. Tidak ada objektivitas dalam sejarah. Hidup dan cerita kehidupan para ilmuwan pun mengalami beragam versi dan seri tertentu sesuai dengan setting penceritaan. Namun banyak sekali martir ilmu pengetahuan yang biasanya mengambil sikap berhadapan dengan penguasa, saat mereka menyadari bahwa penguasa sudah keluar dari garis kewajarannya. Padahal tidak ada kuasa politik yang wajar-wajar saja. Semua penuh manipulasi dan tipu daya. Demi kursi untuk berkuasa. Tak ada yang salah. Sekaligus juga tak ada yang benar. Para ilmuwan Eropa juga harus lari terbirit-birit saat Adolf Hitler memegang kekuasaan di Jerman. Mereka yang berkumpul di Amerika untuk masa berikutnya membuat negara ini menjadi adidaya dengan pemikiran sains dan sosialnya. Itulah hikmah. Namun perlu pula kita ingat, bahwa diantara banyaknya ilmuwan yang menjadi martir kebenaran itu, lebih banyak lagi yang memposisikan diri sebagai pelegitimasi kekuasaan.
Sejajar dengan pemahaman al-Manshur tentang posisi ilmuwan sebagai pelegitimasi, begitu pula peran mereka di abad ini. Mungkin saja dahulu ilmuwan mendukung khalifah (sekalipun buruk perilakunya) karena ketakutan akan bayangan penyiksaan dan teror mengerikan. Saat ini tak ada alasan penyiksaan gaya khalifah Abbasiyah diberlakukan. Dunia akan mengutuk itu. Namun ada alat penarik yang luar biasa berpengaruh pada posisi membela legitimasi itu. Kekuatan itu adalah uang dan kenikmatan hidup.

Ilmuwan saat ini adalah ilmuwan profesional. Begitu kata mereka. Begitu pengakuan mereka. Ilmuwan dibayar sesuai dengan kontribusi keahlian mereka. Sebutlah mereka sebagai kaum puritan elitis. Kaum yang menempatkan ilmu di atas segala-galanya. Membawahi kebenaran itu sendiri. Ilmu berada di puncak singgasananya. Hanya tinggal direngkuh dan diterapkan saja. Tak ada hubungan antara ilmu dengan pembelaan posisi dan kekuasaan seseorang, entah itu raja, gubernur, presiden, maupun ketua partai berlambang sapi jantan. Secara teoretis begitu gampang. Tapi di situlah sudut berkelit yang maha menarik. Dengan menjadikan ilmu sebagai landasan, maka posisi keberpihakan dan penjilatan kepada pengusaha menjadi terhaluskan. Bahkan unsur legitimasi tidak bisa lagi dibedakan dengan unsur hegemoni. Ilmuwan dalam posisi ini telah dimanjakan dengan proyek dan kehidupan lengkap duniawi. Mereka digaji tinggi. Dicukupi kebutuhan itu dan ini. Fungsi kritis dan hati nurani menjadi mati. Pikiran sederhana mendukung itu : “ketimbang bersusah susah berbeda dengan penguasa, menimbulkan kegetiran dan penderitaan, mengapa tidak dukung dan kuatkan kekuasaan pemerintahan ?” sambil tersenyum merasa menang, “Toh kita-kita tetap diuntungkan,”.

Ilmuwan memang telah terbeli di sepanjang zaman. Tak perlu lagi kita ragukan. Hanya tinggal memilih : mau menjadi ilmuwan yang dimanfaatkan, atau mau menjadi penguasa yang memanfaatkan tenaga dan pikiran ilmuwan. Simpel khan ?

Sabtu, 16 Mei 2009

APA KATA BERNARD PODUSKA TENTANG KEPRIBADIAN ?

Membaca tentang teori-teori kepribadian memang menarik. Paling tidak ini membuat kita bisa intropeksi diri, lewat upaya komfarasi teori-teori kepribadian dan mulai menempatkan diri kita cenderung berada di titik mana. Salah satu buku tentang kepribadian yang aku ulang lagi membacanya hari ini adalah buku “Empat Teori Kepribadian” karya Bernard Poduska & R. Turman Sirait. Buku yang sudah dicetak empat kali (1990, 1997, 2000, 2002) diterbitkan oleh Restu Agung, Jakarta. Paling tidak beberapa waktu terakhir ini aku berusaha menyeimbangkan sumber buku (terutama penerbit) yang aku beli. Beberapa kali ada penerbit yang nampaknya kurang bertanggung jawab ketika berani menerbitkan buku yang terjemahannya sendiri masih “amburadul” (nah kalo ini ingat ama lagu Ruth Sahanaya yang nemenin tiap malam saat bikin resume buku !) akhirnya malah bikin pusing ketika membacanya. Jadi ada kalanya membeli buku terbitan Jakarta, dan ada kalanya juga membeli buku terbitan Yogyakarta, Bandung, dan Solo. Setiap kota membawa implikasi harga buku yang berbeda, karena discount yang berbeda … terus karena discount yang berbeda .. heyyy .. kok malah ngomongin tentang harga ya ……. kapan bicara isi bukunya ?
“ he . he. He.. sabar … man..”
“Jangan terburu-buru….!” Ini baru sebangsa preface atas sebuah buku yang menurutku layak untuk dibeli dan dibaca karena gaya populernya. Gaya populer ?? nah ini dia kehebatan Poduska dan Sirait. Mereka menawarkan empat teori (sebenarnya perspektif atau konsepsi) tentang diri manusia. Keempat perspektif itu adalah : Eksistensialis, Behavioris, Psikoanalitik, dan Aktualisasi Diri. Pembicaraan secara teoritis atas empat konsepsi itu sebenarnya sangat njelimet, kompleks, dan butuh bacaan banyak[1]. Tapi disinilah hebatnya Poduska dan Sirait ini. Mereka nampaknya tidak mau terjebak pada penuturan teori-teori dasar yang kompleks. Mereka justru memberikan beragam contoh dan fenomena hidup riil sehari-hari yang mengacu dan menggambarkan implementasi dari teori-teori tersebut. Sebagai contoh : untuk menjelaskan konsep berat seperti superego, mereka mengambil gambaran kehidupan seperti berikut :

“Super ego ………. Berlaku dalam kemutlakan, hitam atau putih, benar atau salah. Selama tingkat-tingkat internalisasi dini, hati nurani anda terutama berjalan dalam suatu prinsip “semua atau tidak sama sekali”. Anda berbuat salah satu, mencurinya atau tidak mencurinya. Anda menipu atau tidak melakukannya. Anda berdusta atau tidak, sebagaimana waktu Ibu berkata kepada seorang penjaja (sales) di depan pintu bahwa dia tidak mungkin diganggu karena mau pergi ke dokter gigi. Reaksi anak mungkin, “Hm, ibu berdusta.” .. “Ya, tidak sesungghunya. Saya akan mengadakan janji dengan dokter gigi. Memang tidak sekarang tetapi nanti”…. “tapi itu suatu dusta, Bu. “ anak itu keluar pintu dan berseru “ Ibu bohong.. ibu bohong….” (hal. 81). Itulah superego yang ditanamkan. Dia hanya tahu hitam atau putih, benar atau salah, dan tidak pernah ada area abu-abu. Gaya bercerita seperti itu menarik karena kemampuan aplikasinya dalam kehidupan riil sehari-hari. Sepanjang buku tersebut cara bercerita yang dibangun selalu sama seperti di atas. Juga ketika mereka menjelaskan tentang kepribadian menurut perspektif Eksistensialis, Behavioris, maupun Humanistik. Namun tujuanku sebenarnya ketika mencoba menulis isi buku ini adalah guna memaparkan bagaimana kepribadian bisa tercermin dari beragam perspektif yang berbeda. Marilah kita lihat dua perspektif dulu dari empat perspektif yang ditawarkan itu. Oke .… tarik coyyyy ….

Kepribadian menurut Eksistensialisme

Aliran yang dipopulerkan Jean Paul Sartre ini memiliki daya terobos yang luar biasa atas kemapanan sistem dan fungsionalis. Bagi Sartre dirilah yang berkuasa.

Satu kalimat pusaka dari aliran eksistensialis tentang kepribadian adalah “ Anda adalah anda karena anda menghendaki demikian”. Untuk membongkar makna kalimat itu kita harus sadar suatu prinsip bahwa lingkungan kita sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap diri. Kita adalah seorang penafsir atau penerjemah lingkungan itu, dan sesuai dengan tafsiran kita, kita sudah memilih menjadi orang atau pribadi seperti apa keadaan kita sekarang. Dengan sudah memilih menjadi orang seperti kita sekarang, tidaklah berarti bahwa kita menghendaki menjadi yang kita pilih. Pilihan disini hanya berarti bahwa kita bertanggung jawab akan pilihan kita itu, yaitu pribadi kita sekarang.

Pertamakali kita mengenal aliran ini, kita mungkin melihat bahwa konsep pertanggungjawaban ini menimbulkan rasa kurang enak atau kita cenderung menolaknya, karena dengan demikian tak ada lagi kambing hitam. Tidaklah kesalahan siapapun yang membuat kita menjadi kita. Beberapa orang cenderung untuk memaafkan kegagalan mereka dalam kehidupan ini dengan mengatakan bahwa kekurangan atau kegagalan itu karena kesalahan orang tua atau orang lain. Namun terlepas dari itu semua, yang menjadi dasar untuk mengkaji eksistensialis adalah persepsi kita terhadap lingkungan itu sendiri.

Lingkungan tidak membuat kita harus menanggapinya dalam satu cara tertentu, lingkungan itu hanya menghidangkan alternatif-alternatif yang dapat kita perhatikan atau abaikan. Kita harus bebas untuk menanggapi dunia ini sebagai dunia busuk ataupun menakjudkan, atau menanggapi dunia atau Tuhan kita sebagai murah hati, penolong, pendendam & tidak kenal ampun, atau hidup kita sebagai yang berharga atau tidak berharga dan penuh dosa. Kita bebas untuk memilih. Dalam kondisi tertentu sebenarnnya kita tidak memiliki kuasa memaksa dan membuat orang lain bahagia kalau dirinya memilih untuk tidak bahagia. Cerita seorang istri yang merasa tidak tahan dengan kebaikan suaminya (cerita tentang perfectionis sang suami) kemudian menceraikannya, membuat bingung sang suami. Suami bermaksud membahagiakannya dengan kesempurnaan dan kemudian tidak meninggalkannya, namun ternyata sang istri memilih untuk menanggapi sebaliknya. Akhirnya kita tidak dapat membuat seseorang menjadi sesuatu.

Realisasi bahwa hanya kita yang dapat membuat membuat diri kita bahagia, sedih, marah, tertekan, atau sesuatu emosi lainnya, untuk pertama kali memang sukar. Kita dapat memilih untuk memepertahankan, bahwa walaupun seseorang tak dapat membuat kita merasakan sesuatu, dia (obyek) masih dapat mempengaruhi kita. Dia tidak dapat, kecuali kita memilih untuk dipengaruhinya. Seseorang mungkin memilih untuk melakukan banyak perbuatan yang hati-hati dan dipikirkan untuk mempengaruhi reaksi emosi kita terhadapnya. Kita mungkin memilih untuk menjawabnya dengan ucapan terimakasih, atau kita bisa memilih untuk merasa salah karena kita tidak pernah berpikir melakukan perbuatan-perbuatan terencana yang timbal-balik. Ingat cerita Victor Frank ketika disiksa dan dianiaya tentara Nazi ? dia dengan tegas mengatakan bahwa dirinyalah yang berhak atas rasa sakit atau rasa nikmat yang mendera tubuhnya. Sekalipun dicambuk dan dipukuli, Frank tidak pernah mengeluh kesakitan. Tentara Jerman bengong !

Kepribadian dari Behaviorisme

Pengikut aliran behavioris lebih tertarik pada perilaku yang terjadi, dalam merubah perilaku tertentu, dan dalam meramalkan perilaku dimasa mendatang. Mereka sangat percaya bahwa “manusia adalah hasil dari sejumlah kondisi-kondisi yang mempengaruhinya !”. Kalaupun kemudian ada kesimpulan bahwa seorang bayi kelaparan, bukanlah kelaparan bayi itu yang menjadi penanda laparnya dia, namun lebih karena stimulus tangisan dari bayi tersebut. Dengan perilaku menangis itulah maka si bayi menunjukkan dirinya lapar. Jadi lingkungan kitalah yang memberikan stimulus atas segala perilaku yang akan kita tunjukkan. Pada kasus diri, orangtua, agama, dan segala sesuatu dalam lingkungan kita, semua itu bertanggung jawab, mempengaruhi bagaimana jadinya kita.

Menurut behavioris tidak ada dan tetap tidak akan pernah ada kebebasan memilih. Dalam realitas behavioris, kebebasan memilih dan kebebasan menentukan tidaklah ada. Hanya hukum perangsang dan jawaban terhadap perangsang itu (the laws of stimulus dan response) yang ada. Jika kita percaya bahwa kita mempunyai kebebasan memilih, itu adalah hanya karena kita sudah dipengaruhi atau dikondisikan untuk mempercayai itu.

Untuk melihat bagaimana hukum stimulus & respons maka Thorndike memberikan beberapa pertimbangan. Pertama, hubungan yang anda buat antara suatu respon dan akibat-akibat dari respon itu, dapat diperkuat ataupun diperlemah oleh akibat-akibat dari respon itu. Ada konsep belajar yang dipegang oleh prinsip ini. Belajar adalah suatu perubahan dalam perbuatan atau dalam melakukan sesuatu yang berhubungan dengan beberapa pengalaman. Jika tidak ada perubahan dalam pelaksanaan atau cara melakukan itu yang dapat dilihat atau diamati, maka tidak ada hal belajar yang terjadi. Kedua, pengikut behavioris hanya tertarik mengenai hasilnya, yaitu perubahan dalam perilaku yang menyatakan bahwa hal belajar sudah terjadi. Ketiga, perubahan dalam sering terjadinya perbuatan itu sebagai suatu indikasi hal belajar. Setiap perubahan mengenai seringnya terjadi, diukur sejak dari respon pertama. Jika seringnya perbuatan itu bertambah atau berkurang, maka sudah ada perubahan dalam perilaku, dan hal belajar sudah terjadi.

Yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa jika perubahan-perubahan itu tidak terjadi, maka hal belajar tidaklah terjadi. Kekuatan behaviorisme terletak dalam membuat hal belajar itu terjadi. Sebagaimana halnya dengan penerapan dari setiap kekuatan, kekuatan itu dapat disalahgunakan Namun, penerapan yang menguntungkan adalah maksud yang utama dari kebanyakan pengikut behaviorisme. Ahli-ahli behavioris sudah menerapkan teknik mereka dalam rumah sakit jiwa dengan sangat berhasil. Mereka sudah membuka atau menyingkirkan penghalang-penghalang yang sukar, dimana banyak aliran-aliran psikologi yang lain sudah menemui jalan buntu. Mereka juga sudah membuat kemajuan-kemajuan yang besar dalam perawatan anak-anak atau orang yang bermental terbelakang, dimana aliran psikologi yang lain sudah gagal. Dan mereka sudah mempengaruhi bidang-bidang teori belajar dengan dampak yang lebih besar dari yang dilakukan aliran psikologis lainnya.


Lalu bagaimana dengan dua yang lainnya ? psikoanalisis dan aktualisasi diri ? ahh kapan-kapanlah akan aku bongkar lagi. Minimal saya butuh membaca beberapa buku lain sebagai penyeimbang karena hari ini terlalu banyak membaca buku psikologi. Nampaknya bermain-main dengan si ganteng Harsa, anakku, menjadi lebih menarik untuk menghabiskan hari ini. Gitu dehh ... he he he he


Catatan :
[1] Minimal ketika menyarankan begini aku jadi ingat saat menyampaikan kuliah Psikologi Komunikasi tentang empat konsepsi itu. Aku gunakan buku Linda L. Devidoft “Psikologi Suatu Pengantar” untuk betul-betul mengantarkan mahasiswa mengenal psikologi. Hasilnya empat konsepsi itu terlalu permukaan untuk dipelajari dari buku tersebut. Mungkin harus menelaah dan mengelaborasi lebih dalam dari setiap teori dan konsepsi ini.

APA KATA BERNARD PODUSKA TENTANG KEPRIBADIAN ?

Membaca tentang teori-teori kepribadian memang menarik. Paling tidak ini membuat kita bisa intropeksi diri, lewat upaya komfarasi teori-teori kepribadian dan mulai menempatkan diri kita cenderung berada di titik mana. Salah satu buku tentang kepribadian yang aku dapatkan baru-baru ini adalah buku “Empat Teori Kepribadian” karya Bernard Poduska & R. Turman Sirait. Buku yang sudah dicetak empat kali (1990, 1997, 2000, 2002) diterbitkan oleh Restu Agung, Jakarta. Paling tidak beberapa waktu terakhir ini aku berusaha menyeimbangkan sumber buku (terutama penerbit) yang aku beli. Beberapa kali ada penerbit yang nampaknya kurang bertanggung jawab ketika berani menerbitkan buku yang terjemahannya sendiri masih “amburadul” (nah kalo ini ingat ama lagu jadul Ruth Sahanaya yang kadang nemenin saat bikin resume buku zaman dahulu kuliah S-1 !) akhirnya malah bikin pusing ketika membacanya. Jadi ada kalanya membeli buku terbitan Jakarta, dan ada kalanya juga membeli buku terbitan Yogyakarta, Bandung, dan Solo. Setiap kota membawa implikasi harga buku yang berbeda, karena discount yang berbeda … terus karena discount yang berbeda .. heyyy .. kok malah ngomongin tentang harga ya ……. kapan bicara isi bukunya ?
“ he . he. He.. sabar … man..”
“Jangan terburu-buru….!” Ini baru sebangsa preface atas sebuah buku yang menurutku layak untuk dibeli dan dibaca karena gaya populernya. Gaya populer ?? nah ini dia kehebatan Poduska dan Sirait. Mereka menawarkan empat teori (sebenarnya perspektif atau konsepsi) tentang diri manusia. Keempat perspektif itu adalah : Eksistensialis, Behavioris, Psikoanalitik, dan Aktualisasi Diri. Pembicaraan secara teoritis atas empat konsepsi itu sebenarnya sangat njelimet, kompleks, dan butuh bacaan banyak[1]. Tapi disinilah hebatnya Poduska dan Sirait ini. Mereka nampaknya tidak mau terjebak pada penuturan teori-teori dasar yang kompleks. Mereka justru memberikan beragam contoh dan fenomena hidup riil sehari-hari yang mengacu dan menggambarkan implementasi dari teori-teori tersebut. Sebagai contoh : untuk menjelaskan konsep berat seperti superego, mereka mengambil gambaran kehidupan seperti berikut :

“Super ego ………. Berlaku dalam kemutlakan, hitam atau putih, benar atau salah. Selama tingkat-tingkat internalisasi dini, hati nurani anda terutama berjalan dalam suatu prinsip “semua atau tidak sama sekali”. Anda berbuat salah satu, mencurinya atau tidak mencurinya. Anda menipu atau tidak melakukannya. Anda berdusta atau tidak, sebagaimana waktu Ibu berkata kepada seorang penjaja (sales) di depan pintu bahwa dia tidak mungkin diganggu karena mau pergi ke dokter gigi. Reaksi anak mungkin, “Hm, ibu berdusta.” .. “Ya, tidak sesungghunya. Saya akan mengadakan janji dengan dokter gigi. Memang tidak sekarang tetapi nanti”…. “tapi itu suatu dusta, Bu. “ anak itu keluar pintu dan berseru “ Ibu bohong.. ibu bohong….” (hal. 81). Itulah superego yang ditanamkan. Dia hanya tahu hitam atau putih, benar atau salah, dan tidak pernah ada area abu-abu (seperti warna CD Rachel Maryam di VCD “pengintip” yang saat ini lagi marak …. He.. he… lho kok malah nyasar kesono ? sekali lagi aku mau katakan bahwa aku emang payah dan suka ngawur ... he… he….he …). Gaya bercerita seperti itu menarik karena kemampuan aplikasinya dalam kehidupan riil sehari-hari. Sepanjang buku tersebut cara bercerita yang dibangun selalu sama seperti di atas. Juga ketika mereka menjelaskan tentang kepribadian menurut perspektif Eksistensialis, Behavioris, maupun Humanistik. Namun tujuanku sebenarnya ketika mencoba menulis isi buku ini adalah guna memaparkan bagaimana kepribadian bisa tercermin dari beragam perspektif yang berbeda. Marilah kita lihat dua perspektif dulu dari empat perspektif yang ditawarkan itu. Oke .… tarik coyyyy ….

Kepribadian menurut Eksistensialisme

Aliran yang dipopulerkan Jean Paul Sartre ini memiliki daya terobos yang luar biasa atas kemapanan sistem dan fungsionalis. Bagi Sartre dirilah yang berkuasa.

Satu kalimat pusaka dari aliran eksistensialis tentang kepribadian adalah “ Anda adalah anda karena anda menghendaki demikian”. Untuk membongkar makna kalimat itu kita harus sadar suatu prinsip bahwa lingkungan kita sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap diri. Kita adalah seorang penafsir atau penerjemah lingkungan itu, dan sesuai dengan tafsiran kita, kita sudah memilih menjadi orang atau pribadi seperti apa keadaan kita sekarang. Dengan sudah memilih menjadi orang seperti kita sekarang, tidaklah berarti bahwa kita menghendaki menjadi yang kita pilih. Pilihan disini hanya berarti bahwa kita bertanggung jawab akan pilihan kita itu, yaitu pribadi kita sekarang.

Pertamakali kita mengenal aliran ini, kita mungkin melihat bahwa konsep pertanggungjawaban ini menimbulkan rasa kurang enak atau kita cenderung menolaknya, karena dengan demikian tak ada lagi kambing hitam. Tidaklah kesalahan siapapun yang membuat kita menjadi kita. Beberapa orang cenderung untuk memaafkan kegagalan mereka dalam kehidupan ini dengan mengatakan bahwa kekurangan atau kegagalan itu karena kesalahan orang tua atau orang lain. Namun terlepas dari itu semua, yang menjadi dasar untuk mengkaji eksistensialis adalah persepsi kita terhadap lingkungan itu sendiri.

Lingkungan tidak membuat kita harus menanggapinya dalam satu cara tertentu, lingkungan itu hanya menghidangkan alternatif-alternatif yang dapat kita perhatikan atau abaikan. Kita harus bebas untuk menanggapi dunia ini sebagai dunia busuk ataupun menakjudkan, atau menanggapi dunia atau Tuhan kita sebagai murah hati, penolong, pendendam & tidak kenal ampun, atau hidup kita sebagai yang berharga atau tidak berharga dan penuh dosa. Kita bebas untuk memilih. Dalam kondisi tertentu sebenarnnya kita tidak memiliki kuasa memaksa dan membuat orang lain bahagia kalau dirinya memilih untuk tidak bahagia. Cerita seorang istri yang merasa tidak tahan dengan kebaikan suaminya (cerita tentang perfectionis sang suami) kemudian menceraikannya, membuat bingung sang suami. Suami bermaksud membahagiakannya dengan kesempurnaan dan kemudian tidak meninggalkannya, namun ternyata sang istri memilih untuk menanggapi sebaliknya. Akhirnya kita tidak dapat membuat seseorang menjadi sesuatu.

Realisasi bahwa hanya kita yang dapat membuat membuat diri kita bahagia, sedih, marah, tertekan, atau sesuatu emosi lainnya, untuk pertama kali memang sukar. Kita dapat memilih untuk memepertahankan, bahwa walaupun seseorang tak dapat membuat kita merasakan sesuatu, dia (obyek) masih dapat mempengaruhi kita. Dia tidak dapat, kecuali kita memilih untuk dipengaruhinya. Seseorang mungkin memilih untuk melakukan banyak perbuatan yang hati-hati dan dipikirkan untuk mempengaruhi reaksi emosi kita terhadapnya. Kita mungkin memilih untuk menjawabnya dengan ucapan terimakasih, atau kita bisa memilih untuk merasa salah karena kita tidak pernah berpikir melakukan perbuatan-perbuatan terencana yang timbal-balik. Ingat cerita Victor Frank ketika disiksa dan dianiaya tentara Nazi ? dia dengan tegas mengatakan bahwa dirinyalah yang berhak atas rasa sakit atau rasa nikmat yang mendera tubuhnya. Sekalipun dicambuk dan dipukuli, Frank tidak pernah mengeluh kesakitan. Tentara Jerman bengong !

Kepribadian dari Behaviorisme

Pengikut aliran behavioris lebih tertarik pada perilaku yang terjadi, dalam merubah perilaku tertentu, dan dalam meramalkan perilaku dimasa mendatang. Mereka sangat percaya bahwa “manusia adalah hasil dari sejumlah kondisi-kondisi yang mempengaruhinya !”. Kalaupun kemudian ada kesimpulan bahwa seorang bayi kelaparan, bukanlah kelaparan bayi itu yang menjadi penanda laparnya dia, namun lebih karena stimulus tangisan dari bayi tersebut. Dengan perilaku menangis itulah maka si bayi menunjukkan dirinya lapar. Jadi lingkungan kitalah yang memberikan stimulus atas segala perilaku yang akan kita tunjukkan. Pada kasus diri, orangtua, agama, dan segala sesuatu dalam lingkungan kita, semua itu bertanggung jawab, mempengaruhi bagaimana jadinya kita.

Menurut behavioris tidak ada dan tetap tidak akan pernah ada kebebasan memilih. Dalam realitas behavioris, kebebasan memilih dan kebebasan menentukan tidaklah ada. Hanya hukum perangsang dan jawaban terhadap perangsang itu (the laws of stimulus dan response) yang ada. Jika kita percaya bahwa kita mempunyai kebebasan memilih, itu adalah hanya karena kita sudah dipengaruhi atau dikondisikan untuk mempercayai itu.

Untuk melihat bagaimana hukum stimulus & respons maka Thorndike memberikan beberapa pertimbangan. Pertama, hubungan yang anda buat antara suatu respon dan akibat-akibat dari respon itu, dapat diperkuat ataupun diperlemah oleh akibat-akibat dari respon itu. Ada konsep belajar yang dipegang oleh prinsip ini. Belajar adalah suatu perubahan dalam perbuatan atau dalam melakukan sesuatu yang berhubungan dengan beberapa pengalaman. Jika tidak ada perubahan dalam pelaksanaan atau cara melakukan itu yang dapat dilihat atau diamati, maka tidak ada hal belajar yang terjadi. Kedua, pengikut behavioris hanya tertarik mengenai hasilnya, yaitu perubahan dalam perilaku yang menyatakan bahwa hal belajar sudah terjadi. Ketiga, perubahan dalam sering terjadinya perbuatan itu sebagai suatu indikasi hal belajar. Setiap perubahan mengenai seringnya terjadi, diukur sejak dari respon pertama. Jika seringnya perbuatan itu bertambah atau berkurang, maka sudah ada perubahan dalam perilaku, dan hal belajar sudah terjadi.

Yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa jika perubahan-perubahan itu tidak terjadi, maka hal belajar tidaklah terjadi. Kekuatan behaviorisme terletak dalam membuat hal belajar itu terjadi. Sebagaimana halnya dengan penerapan dari setiap kekuatan, kekuatan itu dapat disalahgunakan Namun, penerapan yang menguntungkan adalah maksud yang utama dari kebanyakan pengikut behaviorisme. Ahli-ahli behavioris sudah menerapkan teknik mereka dalam rumah sakit jiwa dengan sangat berhasil. Mereka sudah membuka atau menyingkirkan penghalang-penghalang yang sukar, dimana banyak aliran-aliran psikologi yang lain sudah menemui jalan buntu. Mereka juga sudah membuat kemajuan-kemajuan yang besar dalam perawatan anak-anak atau orang yang bermental terbelakang, dimana aliran psikologi yang lain sudah gagal. Dan mereka sudah mempengaruhi bidang-bidang teori belajar dengan dampak yang lebih besar dari yang dilakukan aliran psikologis lainnya.


Lalu bagaimana dengan dua yang lainnya ? psikoanalisis dan aktualisasi diri ? ahh kapan-kapanlah akan saya bongkar lagi. Minimal saya butuh membaca beberapa buku lain sebagai penyeimbang karena hari ini terlalu banyak membaca buku psikologi. Nampaknya bermain-main dengan si ganteng Harsa, anakku, menjadi lebih menarik untuk menghabiskan hari ini. Gitu dehh ... he he he he



Catatan :

[1] Minimal ketika menyarankan begini aku jadi ingat saat menyampaikan kuliah Psikologi Komunikasi tentang empat konsepsi itu. Aku gunakan buku Linda L. Devidoft “Psikologi Suatu Pengantar” untuk betul-betul mengantarkan mahasiswa mengenal psikologi. Hasilnya empat konsepsi itu terlalu permukaan untuk dipelajari dari buku tersebut. Mungkin harus menelaah dan mengelaborasi lebih dalam dari setiap teori dan konsepsi ini.